iklan-banner-01
iklan-banner-02

Menguji Ketangkasan SBY Sebagai King Maker

Prabowo dan SBY
TRAGEDI Magelang menyisakan "beban psikologi" yang teramat lama. Dua lelaki ganteng dan gagah selalu bersaing dan berseberangan. Berkompetisi dalam karir militer, lalu berlanjut di dunia politik. Keduanya tak pernah bersatu, kecuali di depan kamera media.

Formal dan penuh kepura-puraan. Semua bentuk kepentingan politik terabaikan, karena jejak Magelang yang tak mudah terlupakan. Apa itu? Ah, pingin tahu saja. Biarlah itu jadi rahasia berdua.

Keduanya sekarang jadi orang penting di elite negeri ini. Yang satu jadi presiden dua periode, satunya lagi calon presiden dua periode. Mereka adalah SBY dan Prabowo. Dua jenderal yang karir militer dan politiknya cemerlang.
 
Saat Prabowo didaulat jadi calon presiden di Pilpres 2014, SBY tak mendukungnya. Malah memilih abstain. Kanan-kiri NO! Padahal, cawapres yang mendampingi Prabowo adalah Hatta Rajasa, besan SBY.
 
Anda bisa bayangkan jika seorang besan tak mendukung Anda. Padahal, SBY saat itu bisa jadi penentu kemenangan. Semata-mata pertimbangan politik? Sulit tak mengaitkannya dengan urusan psikologi.
 
Tapi, era itu sudah berakhir. Tutup buku. Prabowo-SBY, dua jenderal yang dulu berkawan di Magelang saat menjadi siswa AKABRI ini sedang intens berdua. Rajin berjumpa dan saling kunjung. Kali ini tampak lebih tulus dan serius. Tidak lagi serem