iklan-banner-01
iklan-banner-02

Kebahagiaan di Makassar

Said Assagaf - Retty
PAMANAWANews, MAKASSAR - Makassar punya kenangan sendiri. Kota Angin Mammiri ini, selain menimba pendidian di SMA Kartika dan Universitas Hasanuddin (Unhas)—sekitaran tahun 1970-an, juga menyimpan sejuta kisah. Setelah diwisuda di Fakultas Pertanian/Peternakan Unhas Baraya, ia berhasil meyakinkan sosok Retty—gadis Bugis yang tak lain adalah rekannya saat di SMA Kartika Makassar. Keduanya pun sepakat menjalin cinta kasih, hingga membangun mahligai rumah tangga yang sakina, mawaddah, warahma—sekitaran tahun 1980-an. Ia adalah, Ir.Said Assagaf— Gubernur Maluku.

“Merupakan kebahagiaan tersendiri, ketika  beta  (saya) di Makassar ini. Di kota ini, ada kebanggaan tersendiri voor (untuk) beta. Beta bisa berada di tengah-tengah basudara (saudara).  Pertama, Makassar merupakan kota yang menyimpan sejuta kenangan,” tuturnya, dalam logat Ambon, di sela-sela pelantikan pengurus Kerukunan Warga Islam Maluku (KWIM), di Menara Bosowa, Rabu 18 Oktober 2017.

Baik suka, maupun duka, Said Assagaf pernah sekolah di SMA Kartika dan kuliah di Fakultas Pertanian, Jurusan Peternakan Unhas berhasil mendapatkan tambatan hati, yang sekarang sudah menjadi mantan pacar, alias istri. Kota Daeng ini pula, dianggapnya sebagai kampung kedua, setelah Ambon. Jadi kalau ke Makassar, seakan sedang pulang kampung.

Berada di Makassar, lelaki kelahiran 29 November 1953 ini juga merasa seperti di Maluku. Karena, sekalipun sudah menjadi warga Kota Makassar, tapi masyarakat Islam Maluku di kota berpenduduk lebih 1,5 juta jiwa  ini tetap memegang teguh adat istiadat dan nilai-nilai kearifan lokal.

Persaudaraan sejati dalam spirit hidup orang bersaudara, tetap dijunjung. Nuansa ke-Maluku-an yang dirasakan dan dengar melalui nyanyian, tarian, hingga dialeg cukup beragam. Begitu pula, dengan panggilan sehari-hari. Misalnya, wate, uwa, nyadu, momo, torang basudara dan lainnya. “Ini menandakan, orang Maluku tidak pernah melupakan kampung halamannya. Tidak pernah melupakan tempat putus pusa,” tutur mantan Sekretaris Daerah Maluku tahun 2008 ini.

Lagi-lagi dengan logat Ambon, Ketua DPD I Partai Golkar Maluku ini mengatakan, “Beta bilang bagitu, karena walau dong pi jao sampe di Makassar, su kaweng di sini, su hidop lama di sini, su baana deng bacucu di sini, ternyata dong pung cara bapenggel deng logat bicara kantal Maluku deng Maluku Utara paskali. Paleng seng, beta mo bilang bahwa, dong di sini ternyata masih sangat kuat menjaga katong pung budaya, tradisi, dan identitas sebagai orang Maluku.

Maksudnya,” saya mengatakan seperti itu, karena, sekalipun kalian (warga Islam Maluku) pergi  jauh sampai di Makassar, sudah menikah, sudah hidup lama di Makassar, sudah memiliki anak dan bercucu disini, ternyata cara memanggil dengan logat sangat kental Maluku dan Maluku Utara. Paling tidak, saya mau bilang, kalian di sini sangat kuat menjaga kebudayaan, tradisi, dan identitas sebagai orang Maluku”.

Said Assagaf memberi ungkapan luhur masyarakat Maluku “Potong di kuku rasa di daging. Ale rasa, beta rasa. Dan, sagu salempeng dibagi dua. Dalam spirit tersebut, , demikian mantan Wakil Gubernur di masa pemerintahan  Karel Ralahalu ini, mengajak KWIM  menjadi teladan di Makassar. Jangan menjadi beban, tetapi, menjadi sumber pencerahan. Menjadi sumber kedamaian, kebahagiaan, kebaikan, dan sumber kesejahteraan untuk sesama. Tunjukan, bahwa, orang Maluku berkeadaban tinggi.

Apalagi,  menurut laporan Kementerian Agama RI, Maluku merupakan salah satu dari 3 provinsi di Indonesia yang mempunyai indeks kerukunan tertinggi di Indonesia, setelah Bali dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, dari data BPS pada tahun 2017, Maluku merupakan salah satu provinsi yang mempunyai indeks demokrasi tertinggi di Indonesia.

Said Assagaf juga bersukur, hingga saat ini, KWIM Makassar tetap eksis dan survive. Secara kelembagaan, mekanisme organisasi terus bekerja dan bergerak. Apalagi, sekalipun berada di Maluku, namun dirinya selalu memantau aktifitas warga dan organisasi orang-orang Maluku di seluruh Indonesia. Tak terkecuali di Makassar.

Seperti diketahui,  KWIM dibentuk oleh sesepuh Maluku di Makassar sekitar tahun  1968/1969 atas gagasan, diantaranya Kol. (TNI) Heluakan, Kol. (TNI) Salampessy, H.Djamaluddin Yahya, Prof.M.G.Ohorella,SH, Prof.Drs.Saleh Putuhena, Drs.Ali Kaplale, Dr.Rahman Kota SU, dr.Tuande Maricar, dan Drs.Tahir Wajo (Maluku Tengah). Sedangkan Letkol Marsaoli, Drs.Amin Mustari, dan dr.Machmud Muhammad (Maluku Utara).  Semenara Arsyah Ohitenan,SH, dan Ingratubun (Maluku Tenggara). Para penggagas KWIM ini telah berpulang kerahmatullah.

Ketua KWIM pertama  adalah  Heluakan. Kepemimpin pertama ini berlangsung hingga beliau meninggal. KWIM kemudian diamanahkan kepada H.Djalamuddin Yahya. Kemudian dipercayakan lagi kepada Prof.Saleh Putuhena, setelah H.Djamuluddin Yahya meninggal.  Begitupula, setelah Rektor IAIN Alauddin Makassar itu meninggal, roda organisasi beralih ke Drs.Abubakar Wasahua,MH, tahun 2011. Kini KWIM diketuai Prof.H.Sadly Abdul Djabar,M.P.A. (din pattisahusiwa)

 

Berita terkait