iklan-banner-01
iklan-banner-02

Sulitnya Akses Transportasi Laut Rute Kesui - Teor

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten SBT, Fransisco Alimudin Kolatlena S.sos.I
PAMANAWANews, AMBON - Maluku terkenal sebagai wilayah kepulauan. Transportasi laut adalah sarana vital guna menyambung antar pulau di negeri yang tersohor dengan budaya pela dan gandongnya itu.
Dengan transportasi laut sejatinya akan memutus keterisolasian  di pelosok negeri khususnya di wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).
Pembangunan infrastruktur perhubungan transportasi di luar Pulau Jawa adalah program prioritas Kementerian Perhubungan (Kemenhub RI). 
Satu diantaranya pembangunan serta pengoperasian sarana dan prasarana transportasi di wilayah timur termasuk Maluku, disesuaikan dengan program Nawacita Pemerintahan RI di bawah kendali Presiden dan Wakil Presiden, Joko Widodo -  M. Jusuf Kalla.
Namun program Nawacita misalnya pembangunan pelabuhan penyeberangan, pelabuhan laut, hingga pengoperasian kapal motor penyeberangan (KMP) masih minim di wilayah Maluku. Parahnya lagi, di wilayah kabupaten Seram Bagian Timur.
Pasalnya, masyarakat Teor dan Kesui di kabupaten penghasil minyak bumi itu, cukup kesulitan mengakses transportasi laut. Misalnya, Kapal ferry sebagai sarana penghubung utama melayari dua wilayah tersebut, sudah empat bulan lamanya tidak lagi beroperasi alias terputus.
Hal ini menjadi kendala serius terhadap kelangsungan hidup masyarakat di dua wilayah tersebut. Sebab, pasokan sembako dan aktivitas masyarakat Kesui dan Teor yang hendak ke kota Ambon (Ibu Kota Provinsi Maluku), untuk sekolah pun sangat sulit.
Menyikapi hal ini, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten SBT, Fransisco Alimudin Kolatlena S.sos.I, kepada Pamanawanews.com Selasa, (10/10/2017) mengakui, bahwa problem transportasi kapal laut yang melayari rute Kesui dan Teor semisal ferry bobot Masiwang dan kapal Sabuk Nusantara sudah empat bulan berjalan tidak lagi beroperasi. 
“Orang Teor dan Kesui mau ke Ambon saja sangat sulit. Anak-anak mau sekolah pun kesulitan. Para pedagang tidak bisa memasok sembako ke Teor dan Kesui,” kata Kolatlena.
Kondisi demikian menyebabkan ketersediaan sembako di dua wilayah tersebut kian menipis, akibatnya harga sembako pun membumbung alias meroket.
“Kalau masyarakat Teor dan Kesui mau ke Ambon harus melewati Kota Bula kemudian melintas ke Ambon. Tentu menguras biaya hingga jutaan rupiah,” ungkapnya.
Kalau Kesui, kata dia,  masih mendingan dikarenakan ada kapal cepat yang bisa menyinggahi wilayah tersebut. Apesnya wilayah Teor sama belum ada akses transportasi laut yang menepi ke di situ. Kecuali kapal perintis Tanjung Tungkur dari Pemda Papua yang sering mampir atau sandar di pelabuhan Teor.
“Tapi itu pun dua minggu sekali bahkan lebih,” paparnya.
Sedangkan kapal-kapal yang selama ini disupsidi oleh Pemda Kabupaten SBT, tidak pernah beroperasi hingga ke Teor. Padahal, saat ini Teor sudah memiliki dua pelabuhan, yaitu pelabuhan laut dan pelabuhan ferry.
“Selaku wakil rakyat di DPRD Kabupaten SBT, saya meminta Pemda Maluku melalui Dinas Perhubungan memberikan solusi tepat yakni menyediakan kapal transportasi laut agar bisa memutus keterisolasian yang sedang terjadi di Teor maupun Kesui,” tekannya.
Khususnya Kepada Pemda Kabupaten SBT, Kolatlena meminta agar tetap pro aktif yaitu berkoordinasi dengan Pemprov Maluku, sehingga secepatnya disediakan kapal-kapal untuk melayari rute Teor dan Kesui. 
“Pemda SBT harus menambah rute kapal laut yang bisa melayari wilayah Teor dan Kesui. Khususnya lagi, kapal-kapal yang disupsidi oleh Pemda SBT selama ini,” imbau Kolatlena. 
Hingga berita ini dilansir Pamanawanews.com, otoritas Provinsi Maluku maupun Kabupaten SBT belum berhasil dikonfirmasi. (PN-13)

Berita terkait