iklan-banner-01
iklan-banner-02

Pemerintah Diminta Antisipasi Kenaikan Harga Minyak Dunia

Anggota Komisi VII DPR RI, Rofi Munawar. /PN-01
PAMANAWANews, JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Rofi Munawar, meminta Pemerintah melakukan mitigasi untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia yang saat ini sudah mencapai 65 USD/Barel.
"Jika kenaikan ini terus terjadi dalam jangka panjang tentu saja akan mempengaruhi Anggaran Penerimaan Belanja Negara (APBN) 2018 yang telah mematok International Crude Price (ICP) di harga 48 USD/barel," Kata Rofi di Jakarta, Jumat, (10/11/2017).

Rofi mengemukakan, di tengah tren penurunan produksi minyak nasional, tentu saja situasi ini dapat membebani Anggaran Negara dan konsumsi publik. Mengingat hampir setengah dari konsumsi minyak nasional diperoleh dari importasi.

Pemerintah dan DPR telah menetapkan postur APBN 2018 berdasarkan asumsi makro pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4 persen, inflasi 3,5 persen, suku bunga SPN tiga bulan 5,2 persen dan nilai tukar Rp13.400 per dollar AS, harga minyak mentah Indonesia (ICP) 48 dolar AS per barel, lifting minyak 800 ribu barel per hari dan lifting gas 1.200 ribu barel setara minyak per hari.

Dia menduga kenaikan harga BBM ini terjadi lebih banyak terkait dengan faktor geopolitik dan kebijakan negara produsen minyak. Diantaranya imbas dari proses reformasi hukum yang terjadi di negara produsen utama minyak dunia Arab Saudi, juga penurunan Rig yang beroperasi di Amerika Serikat dan kesepakatan negara-negara penghasil minyak (OPEC) untuk memotong produksi mereka. 

"Atas dasar itu pula, maka sudah sepantasnya Indonesia lebih cermat dalam menggunakan alokasi energi nasional," tuturnya.

Selain itu, sambung Rofi, upaya pemerintah menggenjot infrastruktur dan proyek padat modal, tentu diperlukan langkah-langkah dan perhitungan yang cermat dalam mengantisipasi kenaikan minyak dunia.

Politisi PKS ini pun membeberkan, kenaikan minyak dunia sebenarnya sudah dipredksi, meski selama beberapa tahun terakhir Indonesia masih merasakan harga minyak dunia yang rendah di bawah 50 USD/Barel. 

Meski begitu, Anggota Komisi yang membidangi energi ini menilai, di saat kondisi minyak rendah arah pengembangan energi alternatif Indonesia juga belum optimal dikelola. Hingga pada akhirnya, imbuh Rofi, hal tersebut bisa memicu kenaikan minyak dunia kali ini, akan berimbas langsung kepada masyarakat.

"Kita juga mengingatkan secara khusus kepada PT Pertamina Persero sebagai operator yang menjalankan kebijakan BBM satu harga untuk menghitung secara seksama," harapnya.

Diketahui, dalam penutupan pekan lalu minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember, naik USD0,24 menjadi menetap di USD54,54 barel di New York Mercantile Exchange. 

Secara Global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari, naik USD 0,13 menjadi ditutup pada USD 60,62 per barel di London ICE Futures Exchange. (PN-01)

Berita terkait