iklan-banner-01
iklan-banner-02

Hadiri KTT OKI, Fahri Hamzah Minta Presiden Jokowi Tegas Terhadap AS

PAMANAWANews, JAKARTA- Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (13/12/2017) kemarin, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar di Rumeli Hall Lutfi Kirdar International Convention and Exhibition Center (ICEC) Istanbul, Turki.
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah / PamanawaNews.

Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi menyampaikan kecaman terhadap Amerika Serikat (AS) yang memberikan pengakuan terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel menggantikan Tel Aviv.

Menanggapi ini, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meminta Presiden Indonesia dalam pertemuan OKI, harus bisa memiliki sikap lebih kuat yang tentunya akan mengubah wajah dunia, termasuk Indonesia.

"Jadi, kehadiran Jokowi itu Harus ada kekuatan yang lebih, baik pada konteks OKI, maupun juga konteks PBB,"  tutur Fahri dalam keterangan  resmi yang diterima pamanawanews.com di Senayan, Jakarta, Kamis,(14/12/2017).

Menutut Fahri, Presiden RI, jangan hanya mengambil posisi yang paling lemah, seperti mengutuk, mengecam dan meminta. Karena kalimat-kalimat itu tidak boleh dikeluarkan oleh bangsa besar seperti Indonesia ini.

Politisi PKS ini mengakui ada banyak tahapan yang harus dirancang dalam kompleksitas sikap dan posisi politik negara-negara OKI. Namun menjadi pertanyaan adalah, apakah Indonesia bisa datang untuk menjurubicarai suatu keadaan lain, yang dapat membuat terutama negara-negara OKI ini bersatu padu dulu dalam ide-ide dasar.

"Karena pada dasarnya, kalau kita membaca dan melacak kencenderungan politiknya, itu kalau ditelusuri dari ujung menjadi sulit. Akan tetapi, kalau dimulai dari pangkalnya dalam konsepsi umat Islam sebagai umat yang satu, maka tentu itu bisa kita mulai melakukan pembicaraan yang lebih mendalam. karena kita disatukan terlebih dahulu," ujar Fahri.

Dirinya pun melihat adalah penting bagi Indonesia meletakan satu narasi baru bagi OKI yang dapat menyeret semua negara dalam kalimat dan pengertian yang sama tentang keadaan mereka. 

"Itulah yang pertama-tama harus dilakukan oleh Indonesia," harapnya.

Untuk tujuan itu, beber Dia, pemimpin Indonesia harus memiliki kharisma. Sebab, tanpa kharisma sekuat Soekarno, Indonesia akan sulit sekali mengumpulkan negara-negara lain.

"Dulu kita punya Soekarno setelah kemerdekaan tahun 1945. Setelah itu sepuluh tahun tahun 1955, Soekarno sudah berhasil mengundang Negara-Negara Asia Afrika duduk dalam satu meja, lalu menyepakati platform bersama dari Negara-Negara Afrika dan dari platform itu banyak sekali keputusan-keputusan yang mengubah wajah dunia," jelas Fahri.

Untuk itu, menurutnya, memerlukan seorang yang punya kharisma, punya kemampuan berbicara yang kuat, baik dan juga datang membawa teks narasi yang kuat.

"Nah apakah Indonesia masih bisa melakoni ini. Ini pertanyaan penting yang patut diajukan," katanya.

Adanya kondisi awal yang dapat menyatukan bangsa-bangsa OKI, lanjut Fahri, ada juga kondisi akhir, seperti sekarang ini yang mungkin perlu dicari celahnya untuk menemukan kesamaan kata. Misalnya, sebelum melompat kepada isu teknis yang sekarang berkembang, coba memasuki dulu isu-isu strategis misalnya kedudukan Al Quds (Nama Arab untuk Yerusalem).

Ia mengingatkan orang Islam harusnya tidak boleh berbeda pendapat tentang kedudukan Al Quds, kedudukan Palestina dan kedudukan sejarah bangsa Palestina. Karena, kalau untuk itu saja berbeda bagaimana bisa bersatu? Dan kedudukan Palestina dan Al Quds itu disatukan oleh pandangan yang secara fundamental ada dalam naskah dan kitab suci, juga naskah dalam hadis-hadis Nabi.

"Kalau ini diletakan terlebih dahulu, tentu bangas-bangsa Islam akan mudah bersatu. Setelah itu, baru kita letakan kepentingan politik kita hari ini, yang memang memerlukan adanya negosiasi-negosiasi. Tetapi alur berfikirnya harus seperti itu, memulai dari apa yang kita miliki maka kita dapat menyatukan bangga-bangsa OKI," pungkas Fahri Hamzah. (PN-01)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02