iklan-banner-01
iklan-banner-02

Generasi Milenial Berpikir Global Tentukan Arah Masa Depan Bangsa

Diskusi Empat Pilar MPR RI 'Makna Sumpah Pemuda Bagi Generasi Milenial' di Parlemen, Senayan, Senin, (29/10/2018).
PAMANAWANews, JAKARTA- Kemajuan teknologi dakam era Globalisasi menjadi kekhawatiran bersama. Khususnya bagi generasi milenial yang ternyata makin cuek, egois, merasa paling benar dan suilt membedakan mana benar dan mana yang buruk.

Hal itu dikatakan, Anggota MPR RI Fraksi Golkar, Firman Soebagyo dalam diskusi Empat Pilar MPR RI 'Makna Sumpah Pemuda Bagi Generasi Milenial' di Parlemen, Senayan, Senin, (29/10/2018).

"Kemajuan teknologi global saat ini berdampak pada globalisasi ekonomi dan politik yang berpengaruh pada perilaku generasi melenial, yang tak peduli masa depan bangsa," tutur Firman.
 
Untuk itu, lanjut Firman, generasi milenial mesti dibekali wawasan kebangsaan, memahami Pancasila sebagai ideologi Negara, Bhineka Tunggal Ika, dan Konstitusi UUD 1945.
 
"Mereka (kaum muda) adalah penentu masa depan bangsa," tandas Firman.
 
Sementara, pengamat politik Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menilai relevansi Sumpah Pemuda 1928 mengingatkan pada founding fathers, pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Hasyim Asy’ari, M Natsir yang bertekad Indonesia merdeka bebas dari penjajahan.
 
Karena itu, Adi berharap generasi milenial berpikir global, yang karakternya tetap Indonesia. “Kaum melenial harus peduli politik. Mengingat eksekutif, legislatif dan yudikatif melalui proses politik. Kalau tidak, maka akan kemana bangsa ini ke depan?” katanya mempertanyakan.
 
Adi pun merasa heran tokoh politik yang tampil hanya wajah lama. Sehingga daftar caleg tetap (DCT) pun juga itu-itu saja. Kecuali di partai baru. Bahkan, Caleg anak muda ditempatkan di nomor sepatu oleh partai. Padahal, mereka sebagai penentu masa depan bangsa.
 
"Jadi, saya berharap generasi milenial harus aktif berpolitik, berpikir global. Berpolitik menyangkut persoalan kebangsaan yang peduli terhadap kemiskinan. Itu yang harus dikembangkan," pungkas Adi Prayitno. (PN-01/adp)

Berita terkait