iklan-banner-01
iklan-banner-02

Gender Equilibrium dalam Kiprah Politik Nasional

Menteri PPPA Yohana Yembise.
PAMANAWANews, MALANG- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise menghadiri kuliah kuliah umum yang bertajuk 'Peran Perempuan dalam Kiprah Politik Nasional' di Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Kamis, (2/8/2018).
Yohana mengatakan perempuan dan anak menjadi pilar penting dalam pembangunan dimana pergerakan politik perempuan dalam kiprah politik nasional telah dimulai sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia.


"Setelah kemerdekaan, peran dan posisi perempuan dan laki-laki cukup seimbang. Perempuan tidak lagi direndahkan, tidak diasosiasikan hanya sebagai ibu yang tugas utamanya menjadi pendamping suami dan mengurus rumah tangga. Bahkan perempuan telah diikutsertakan dalam perjuangan bangsa," tutur Yohana.

Kata Yohana, Perempuan dewasa ini telah bertransformasi menjadi agen pembaharuan di berbagai kehidupan masyarakat, termasuk di bidang politik dan pengambilan keputusan.

Dalam pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah itu merupakan hasil dari perjuangan pergerakan politik perempuan, baik di tingkat nasional dan daerah.

"Pencapaian pergerakan politik perempuan pada era reformasi pasca rezim Orde Baru adalah dilegalkannya kebijakan afirmasi 30% keterwakilan perempuan di lembaga legislatif (DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota) pada Pemilu 2004 dan berlangsung hingga saat ini," ujarnya.

Dirinya berharap, untuk mewujudkan keseimbangan gender (gender equilibrium) perempuan tidak boleh dibiarkan melakukan perjuangan sendiri. Perempuan harus didukung oleh laki-laki, khususnya di bidang politik dan pengambilan keputusan.

Sebab, kata dia, perspektif gender equilibrium menekankan pada konsep kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki. Pandangan tersebut tidak mempertentangkan antara kaum perempuan dan laki-laki, karena keduanya harus bekerjasama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Yohana menyampaikan, untuk mewujudkan gagasan tersebut, maka dalam setiap kebijakan dan strategi pembangunan, dapat diperhitungkan kepentingan dan peran perempuan dan laki-laki secara seimbang.

Hubungan di antara kedua elemen tersebut dinilai bukan saling bertentangan tetapi hubungan komplementer, guna saling melengkapi satu sama lain.

"Jadi, kita harus memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan dan mendorong pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas guna menyongsong Planet 50:50 gender equality pada 2030," demikian Yohana Yembise. (PN-01/adp)

Berita terkait