iklan-banner-01
iklan-banner-02

Masyarakat Maluku Diminta Waspadai Paham Radikalisme

Ketum DPP, PPP, Ir.M.Romahurmuziy
PAMANAWANews, AMBON- Masyarakat Maluku harus mewaspadai masuknya paham radikalisme yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan serta merusak tatanan kerukunan umat beragama. Juga harus mengenali ciri-ciri dari keberadaan paham transnasional itu."Ajakan ini disampaikan, Ketua Umum (Ketum) DPP, PPP, Ir.Romahurmuziy, kepada wartawan usai memparkan materi penanganan radikalisme berbasis agama pada kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Akselerasi Reformasi Birokrasi, Kemenag Maluku, di Gedung Islamic Center, Selasa, (17/10/17).
Menurut Romi sapaan akrabnya, Negara Indonesia adalah negara terbesar ke empat di dunia. Tentu menjadi sasaran paham keagamaan manapun. Salah satu paham yang telah masuk ke Indonesia adalah paham transnasional atau paham radikalisme yang berbasis pada agama, bukan hanya Islam, tetapi juga agama-agama lain.Untuk mengantisipasinya seluruh komponen masyarakat sipil baik itu ormas keagamaan , ormas nasional, parpol kesultanan nusantara termasuk dunia akademik dan intelektual  harus bersama-sama bergandeng tangan mengatasinya dengan  mengembangkan wacana- wacana  kegamaan yang moderat.

Kata Romi, sejarah di Maluku membuktikan bahwa persoalan- persoalan yang merupakan konflik horiziontal mulai dari faktor non agama kemudian menjadi berkelanjutan dan  tidak berkesudahan karena diagamakan.Maka itu,faktor non agama yang diagamakan ini harus dicermati  dengan bijak."Ini merupakan salah satu contoh yang harus dicermati dengan baik,"kata Romi.

Menurutnya, saat ini, wacana-wacana keagamaan moderat perlu ditonjolkan misalnya, wacana moderasi  yang bermakna harus berdiri ditengah tengah. Wacana toleransi, wacana keseimbangan dan wacana keadilan." Bersikap adil adalah karekter penting  untuk ditonjolkan. Sebab, mayoritas setiap agama didalam perjalanannya adalah perintah untuk membangun dan menciptakan keadilan."ungkap Romi.

Dia berharap, siswa dan mahasiswa di Maluku sebagai generasi penerus bangsa ini terus dibentengi dan membentengi diri  dari berbagi pengaruh faham-faham yang dapat memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara."Ingat kekerasan atas nama apapun tidak dibenarkan oleh agama apapun,"tukas Romi.(PN-11)

Berita terkait