iklan-banner-01
iklan-banner-02

FITK IAIN Ambon Gelar Konferensi Internasional

Berpose: Wakil Walikota Ambon, Syarif Hadler (tengah) berpose dengan para tamu fasilitator dan penyelenggara International Conference on Social and Technologi in Education (ICSATE) yang diselenggarakan oleh Fakultas ITK IAIN Ambon, usai acara pembukaan ICSATE di kediaman Wawali Ambon, Karang Panjang, Jumat (9/2).
PAMANAWANews,AMBON-Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Institut Agama Islam Negeri Ambon mengadakan International Conference on Sosial Science and Technology in Education (ICSATE). Kegiatan itu di bukan resmi Wakil Walikota Ambon, Syarif Hadler, berlangsung dikediamannya, dikawasan Karang Panjang Ambon, Jumat, (9/2/18).

ICSATE yang diadakan oleh FITK ini akan berlangsung selama dua hari di kampus IAIN Ambon dengan menghadirkan para narasumber dan peserta dari berbagai negara di ASEAN. 

Wakil Walikota Ambon, Syarif Hadler, dalam sambutannya sebelum membuka acara ini menjelaskan, kondisi pembangunan di Kota Ambon pasca konflik hingga saat ini terus berkembang.

Menurutnya, meski Maluku pernah dilanda konflik horisontal 1999, sempat diramalkan oleh sejumlah ahli di berbagai negara, kalau konflik di daerah ini dapat dipulihkan dalam kurun waktu ratusan tahun namun  Kenyataannya, prediksi para ahli itu meleset, karena masyarakat Maluku sangat sadar akan hubungan kekeluargannya yang sudah terbangun dalam frame pela dan gandong. Lewat hubungan pela dan gandong itulah, konflik horisontal di Maluku dan Ambon yang paling parah saat itu, dapat dilupkan hingga saat ini. 

Syarif mengisahkan, konflik tersebut benar adanya bahwa telah merusak hubungan persaudaraan antar sesama di Maluku, merusak tatanan sosial, ekonomi, pembangunan sarana dan prasarana hingga adanya korban jiwa. Meski demikian pahit dan parahnya konflik tersebut, masyarakat di Maluku secara perlahan terus berusaha lewat hubungan pela dan gandong, untuk kembali hidup damai dan berdampingan satu sama lain.  Masyarakat di Maluku dan Ambon pada khususnya saat ini telah kembali hidup berdampingan. Budaya dan tradisi pela dan gandong yang sempat retak dan putus saat konflik, kini telah dikembalikan seperti sedia kalah. "Bapak-bapak dapat menyaksikan sendiri, bahwa masyarakat di Maluku dan khususnya di Kota Ambon sudah hidup berdampingan satu sama lain. Antar suku, agama, ras dan golongan. Konflik di masa lalu serasa sudah dikubur dan masyarakat telah sadar akan dampak dari konflik tersebut. Kita sudah hidup rukun dan damai seperti saat ini. Bahkan, pemerintah telah menetapkan Maluku sebagai provinsi kerukunan umat beragama dan di Kota Ambon sebagai tempat akan dibangunnya perkampungan multikulturalisme," kesan Wakil Walikota Ambon, sembari berharap kepada para peserta, agar sekembalinya mereka ke kampung halaman masing-masing, dapat mengisahkan keadaan dan hubungan persaudaraan antar umat beragama yang kian terajut dengan amat baik di daerah kepulauan ini.

Sementara itu, Koordinator Acara, Ismail Suardi Wekke, dalam laporannya mengakui, bahwa pelaksanaan ICSATE dengan tuan rumah FITK IAIN Ambon, merupakan suatu penghargaan yang luar biasa, baik bagi kampus IAIN Ambon maupun Maluku umumnya. Tentu, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh beberapa event kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan FITK IAIN Ambon sebelumnya. Dari berbagai kegiatan tersebut, kemudian lahirlah kesepahaman untuk mengadakan ICSATE di IAIN Ambon, akui dia.

Sedangkan, Dekan FITK IAIN Ambon, Dr. Samad Umarella, selaku Tuan Rumah kegiatan dalam sambutannya menyatakan, kiranya lewat pelaksanaan kegiatan ICSATE ini, harapan fakultas untuk mencapai ISO dapat segera terealisasi. Bahkan, kata Samad, saat ini beberapa hasil karya dosen di lingkup FITK IAIN Ambon telah berhasil menembus jurnal internasional, yang tentu, lewat kegiatan ini pula, akan menambah angka tersebut agar mempermudah proses kependidikan para tenaga dosen di FITK, sekaligus dalam rangka menjawab tantangan fakultas sebagai lembaga penyedia jasa tenaga kependidikan di Maluku dengan standar internasional. 

Ia berharap, setelah kegiatan ini akan ada tindaklanjut kerjasama dengan beberapa universitas yang dosennya terlibat langsung dalam konferensi internasional ini, seperti, Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Sains Malaysia, Universitas Brunei Darussalam, Universitas Khon Kaen, Thailand, Universitas Sultan Zainal Abidin Malaysia, maupun Universitas Airlangga. 

Konfrensi Internasional ini dihadiri oleh perwakilan dari Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, maupun puluhan dosen ilmu kependidikan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

Sementara Wakil Rektor I IAIN Ambon, Dr. Mohdar Yanlua dalam sambutannya mewakili Rektor IAIN Ambon, mengharapkan, agar kegiatan ICSATE FITK ini dapa menjadi bagian penting untuk mempercepat proses alih status IAIN Ambon menjadi Universitas Islam Negeri Ambon. Dalam kesempatan ini, Warek I juga mempresentasikan kondisi pembangunan IAIN Ambon kekinian, termasuk peningkatan secara drastis baik secara fisik maupun dalam hal tenaga kependidikan. Kelemahannya, bahwa, kata Mohdar, meski rata-rata dosen di IAIN Ambon telah berstatus doktor, namun, sampai kini kampus tersebut baru memiliki dua profesor. Sehingga itu, kiranya lewat konfrensi internasional ini, dapat membantu para dosen di lingkup IAIN Ambon, terutama yang sementara berproses menjadi profesor. (PN-10)

Berita terkait