iklan-banner-01
iklan-banner-02

Panas Pela Yapiopatai dan Masamanuhuei, Pemda Jangan Tutup Mata

PAMANAWANews, PIRU- Momentum acara adat peringatan perjanjian penyelesaian perang (panas pela) antara kedua suku besar di tanah Seram yakni Suku Wemale Yapiopatai dan Suku Alune Masamanuhuei akan di helat.
IST
Momen sakral itu akan berlangsung di negeri adat Rambatu Kecamatan Inamosol Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), tanggal 25 Oktober 2017, mendatang.
Marcel Maspaitela, anak cucu Suku Wemale Yapiopatai mengatakan, acara ritual dengan agenda Sumpah Pela Darah ini di lestarikan sebagai warisan budaya dan adat istiadat masyarakat adat Maluku. 
Panas Pela yang melibatkan banyak negeri dan Matarumah ini diantaranya Suku Wemale Yapiopatai. Suku ini mempunyai sejumlah negeri adat yaitu Waraloing, Sahulau, Ahiolo-Abio, Tala, Sariholo dan Masalepune yang kini bergabung dalam satu pemerintahan negeri Elpaputih. 
Kemudian Suku Alune Masamanuhuei yang memiliki negeri adat seperti negeri Manusa Manuhuei, Rambatu, Rumberu dan Dusun Kawatu. Disamping itu, ada juga beberapa Matarumah Suku Wemale Yapiopatai dan juga Suku Alune Masamnuhuei yang terpencar mendiami beberapa wilayah, baik di Pulau Seram maupun di Ambon dan sekitarnya. 
“Kegiatan acara adat ini sudah kami lakukan semenjak ikatan adat Sumpah Pela penyelesaian perang itu di ucapkan dan kami lestarikan sampai sekarang ini dan di lakukan berganti ganti negeri,” kata Marcel kepada Pamanawanews.com, Kamis (19/10/2017).
Selaku anak negeri yang merupakan bagian dari cucu Suku Wemale Yapiopatai, Marcel meminta Pemerintah Daerah lebih memperhatikan kegiatan kegiatan adat yang di lakukan masyarakat adat baik di Maluku maupun yang ada di Kabupaten yang berjuluk Saka Mese Nusa ini.
Marcel menilai, kegiatan kegiatan yang bersifat adat dan budaya tidak pernah di perhatikan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten. 
Olehnya itu, Ia berharap pemerintah untuk tidak membiarkan masyarakat adat berjuang sendiri seperti pencarian dana dan lain sebagianya. 
“Untuk itu Saya meminta pemda harus melihat ini dan meresponnya dengan menganggarkan anggaran khusus bagi acara acara adat. Apa gunanya setiap kali pemda berteriak semboyan Maluku Pela dan Gandong tapi Pela dan Gandong tidak pernah di perhatikan,” harapnya.
Perhatian terhadap adat budaya, tambah Marcel, merupakan hal yang mutlak untuk diperhatikan serta di lestarikan. 
“Saya kira tidak ada kata tidak untuk memperhatikan adat dan budaya kami masyarakat adat yang lebih khususnya adalah sukseskan acara adat Panas Pela Suku Wemale Yapiopatai dan Suku Alune Masamnuhuei di Negeri Rambatu mendatang,” tutup Marcel. (PN-23)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02