iklan-banner-01
iklan-banner-02

Festival Kataloka, Mengintip “Surga Kecil” di Nusa Ina

“Suba au lau Goran lo’a—selamat datang ke Gorom!” Sebentar lagi ajang promosi potensi wisata ini akan digelar kembali. Kataloka adalah sebuah kawasan adat yang cukup terkenal di wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Potensi wisata alam yang memikat bakal menjadikan wilayah Kataloka akan tersohor ke mancanegara.
Danau Sole, sebuah destinasi wisata yang menjadi ikon bagi wisata di Kabupaten Seram Bagian Timur

Kataloka adalah “surga kecil” di Nusa Ina. Betapa tidak disana ada Pulau Nukus, Grogos, Koon dan sebagian Pulau Gorom yang menjadi wilayah petuanan Kataloka. Kawasan gugus pulau ini seakan menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung kesana. Festival Kataloka adalah momentum yang tepat untuk mengsksplore potensi alam yang tersebunyi itu. 

12 Desember 2016 merupakan sebuah starting poin akan kebijakan yang diambil oleh pemerintah setempat. Rapat tahunan Lembaga Adat Wanu Atalo’a (Leawana) telah menandai satu tahun Leawana didirikan oleh Raja Petuanan Kataloka.

Lembaga semi otonom ini berperan aktif dalam pembangunan fisik serta pengelolaan sumber daya alam dan manusia di wilayah Petuanan Kataloka yang telah diatur melalui pranata adat ini. 

Leawana memiliki tujuh divisi untuk mengkoordinir pengelolaan sumber daya alam di darat dan laut. Pada tahun pertama, dua divisi telah bergerak dan membentuk kelompok terorganisir. Divisi perikanan memiliki Batnata, Tubir Tolu, dan Watu Mariri, sementara divisi periwisata memiliki Bansina.

Batnata di Samboru, Tubir Tolu di Grogos, dan Watu Mariri di Aroa memiliki tujuan mengembangkan praktik perikanan tangkap dan budidaya berkelanjutan. Tujuan ini kembali diingatkan oleh Raja Muda Petuanan Kataloka Anshar Rumarey Wattimena dalam rapat tahunan Leawana.

“Masyarakat Kataloka harus ingat untuk tidak menangkap ikan di lokasi larangan. Lokasi tersebut ditutup dengan sumpah adat bukan tanpa alasan. Seperti di kawasan pasar ikan di perairan Koon, itu adalah lokasi pemijahan ikan karang. Bila ditangkapi terus, tidak ada lagi ikan di Kataloka bahkan di Maluku,” pesannya .

Berdasarkan survei cepat yang dilakukan WWF-Indonesia pada 2011, sejumlah titik di perairan Koon adalah lokasi pemijahan ikan dengan kepadatan tertinggi di Indonesia Timur. Awal tahun ini, WWF-Indonesia dengan sejumlah mitra mengadakan untuk memperoleh data dasar ekologi perairan dan memetakan potensi wisata selam di lokasi tersebut.

Namun, satu tahun Leawana bukan hanya soal mengembangkan perikanan. Batnata, Tubir Tolu, dan Watu Mariri bukan satu-satunya kelompok yang bergerak memajukan Kataloka. Patuanan Kataloka juga punya Bansina, kelompok di bawah divisi pariwisata  Leawana yang berkomitmen dalam pengembangan pariwisata lokal.

“Bansina, menurut kepercayaan, adalah gunung tempat lahirnya nenek moyang Petuanan Kataloka. Harapan kami, kelompok Bansina juga menjadi awal pariwisata berbasis kelompok yang bertanggung jawab di Petuanan Kataloka,” ungkap Moh. M. T. R. Wattimena, ketua Bansina.

Selain mengembangkan kelompok pariwisata, tujuh homestay dikelola di wilayah Petuanan Kataloka. “Ada delapan kamar yang bisa dipakai wisatawan menginap. Pemilik rumah juga siap menyambut dengan keramahan khas Kataloka,” lanjutnya.

Sejak April 2016, Leawana mengelola pembayaran jasa lingkungan di Koon dan perairan Petuanan Kataloka. Hingga akhir November, dua puluh satu kapal layar yang melakukan penyelaman di sekitar Koon turut berkontribusi dalam skema ini. Kapal Damai V juga sempat berkunjung ke Petuanan Kataloka dan disambut oleh beragam acara adat yang dikelola oleh Bansina.

Kini, Leawana tengah bersiap menggelar Festival Kataloka, festival laut dan budaya yang menjadi ajang promosi potensi pariwisata lokal.  Seluruh masyarakat Patuanan Kataloka siap menyambut wisatawan ke Festival Kataloka. Tarian massal, peragaan busana tradisional Goran Riun, kerajinan, dan lomba menyanyi siap mengajak wisatawan mengenal lebih dekat kearifan dan kebudayaan Petuanan Kataloka. (PN-17)

 

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02