iklan-banner-01
iklan-banner-02

Sepakbola dan Politik, Dua Sisi Mata Uang

SEPAK bola dan politik adalah bagaikan dua sisi mata uang, yang ditakdirkan tak akan pernah berpisah. Jika Gerard Pique yang menjadi bahan bullyan atas sikap politiknya dengan masyarakat Spanyol yang anti kemerdekan Catalunya.
IST
Sentuhan sepakbola dengan politik bukan hanya terjadi di Eropa dan belahan dunia lainnya. Publik Indonesia  juga pernah dibuat kaget atas sangsi oleh PSSI terhadap Persib dan bobotohnya ketika koreo aksi Save Rohingya di pertotonkan, sebagai wujud solidaritas bobotoh atas tragedi kemanusiaan di Rakhine, Myanmar.

Seperti dikutip rezky Adityawanto dari FourFourTwo, Pique berujar “Politik menyebalkan, tetapi mengapa saya tidak bisa mengekspresikan diri saya?,” katanya saat membela diri atas sikapnya yang secara terbuka mendukung pengambilan suara referendum. “Saya mengerti mereka (para pemain) yang tidak ingin mengatakan apa-apa. Kami adalah pesepakbola, tapi kami juga orang-orang biasa. Mengapa seorang jurnalis atau seorang mekanik bisa mengekspresikan diri mereka, tetapi pesepakbola tidak boleh?” 

Jika Pique dan Persib merupakan korban atas Politik dan Sepakbola, dahulu kala Israel terpaksa keluar dari AFC (Asia) dan pindah ke UEFA (Eropa) karena masalah politik, negara ini “dimusuhi' sebagian besar negara-negara Asia, dalam suatu kejuaraan seringkali menjadi terkucil, misal dalam sebuah kejuaraan sebuah negara akan mengalah dan memeberikan kemenangan kepada Israel dari pada bertanding, sebagai bentuk boikot atas Israel dan solidaritas atas perjuangan bangsa Palestina. 

Dalam kasus yang berbeda memang dalam hal teritorial, sepakbola dengan FIFAnya menjadi tidak kaku. Seperti halnya Australia yang pada akhirnya bergabung dengan Asia setelah sekian lama berada di zona Oceania, karena jatah ke Piala Dunia masih lebih mudah di Asia ketimbang di Oceania yang selalu menjalani Play off dengan Negara-negara kuat lainnya, praktis Australia pun memilih bergabung dengan Asia.

Pique mengekspresikan pemikirannya, sejatinya pesepakbola juga manusia yang punya rasa dan nurani yang berbeda, yang mempunya pemikiran dan opini masing-masing, sama akan halnya seperti dia yang memilih mendukung Catalunya dalam referendum kemarin. 

Inilah suatu keniscayaan sepakbola dan politik bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kasus Israel, Persib dan Pique ini adalah segelintir, masih banyak lagi kasus seperti ini, kasus-kasus yang menyeret sepakbola harus bersentuhan dengan politik, tak ayal betapa sepakbola dan politik masih menjadi teman ataupun lawan seiring dengan berjalannya waktu. (Pelupessy Is)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02