iklan-banner-02
iklan-banner-02

Run, Surga Kecil yang Dibarter dengan Manhattan

Hari ini tepatnya, 11 November 2017 ada refleksi atas hikayat yang melegenda dan tertuang dalam narasi sejarah dunia. Tercatat sudah usia sejarah itu telah melampaui periode masa yang cukup panjang. Tiga setegah abad, atau 350 tahun, Maluku menjadi incaran dan buah bibir, bangsa kolonial di dunia. Maluku atau Moluccas adalah “magnet dunia” yang menyedot perhatian bangsa kolonial, karena memiliki “surga kecil” bernama Run.
Kota Manhattan (New York) dan Pulau Run (Maluku)
Pulau Run dimasa itu telah menjadi rebutan dua kongsi dagang terbesar dunia, VOC (Belanda) dan EIC (Inggris) pada tahun 1611. Masa perebutan Pulau Run, akhirnya berakhir dengan sebuah perjanjian antar kedua Negara kolonial di Kota Brade, Belanda. Surga Kacil di Maluku itu, dibarter dengan kota Manhattan (New York) Amerika Serikat.

Kini surga kecil itu seakan tenggelam dan hilang pamor. Hanya ada serimoni yang digelar disana, sebagai prosesi menggenang kejayaan itu. Ada rangkaian Pesta Rakyat Banda yang berisi penandatangan Prasasti Grade, oleh Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaf, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr dan tokoh Pulau Run.

Pulau Run, demikian kita mengenalnya sebagai salah satu pulau terkecil di Kepulauan Banda. Pulau dengan panjang 3 km dan lebar kurang dari 1 km, ini dianggap memiliki kepentingan ekonomi besar dimasa itu, karena nilai rempah pala yang diperoleh dari pohon pala (Myristica fragans).

Ketenaran surga kecil ini, telah memicu ekspedisi kedua Perusahaan Hindia Timur Britania yaitu, James Lancaster, John Davis dan John Middleton, yang menetap di Banten, Jawa, akhirnya melakukan invasi mencapai pulau ini pada 1603 dan membangun hubungan baik dengan penduduk setempat.

Giles Milton, seorang penulis dan jurnalis, dalam bukunya berjudul Nathaniel’s Nutmeg, terbit tahun 1999 menuturkan sejarah panjang sebuah ekspedisi yang dilakukan bangsa Inggris ketika itu. Narasi buku berjudul “Nathaniel’s Nutmeg” menguraikan, tepian Sungai Thames, London, kebanjiran orang pada suatu hari di bulan Februari 1601. Berpasang mata, dari saudagar hingga orang biasa, menatap lima kapal anggun berbendera Saint George Cross yang melintas di depan mereka. Pita dan bendera menghiasi kapal-kapal itu. Meriah!

Armada dari Kongsi Dagang Inggris (EIC) di bawah pimpinan Kapten James Lancaster itu memulai pelayaran berbahaya, mengarungi samudera sekaligus membawa misi “suci” yang beragun kehormatan kerajaan. Mereka bukan hanya akan menghadapi jarak yang jauh, ganasnya alam, atau ancaman kapal-kapal Portugis ataupun Spanyol, tapi juga Hindia Timur yang jadi tujuan mereka masih sebatas imajinasi di benak sebagian besar awak kapal.

Dengan dukungan dari Ratu Elizabeth I, pelayaran Lancaster menandai keterlibatan Inggris secara resmi dalam pelayaran ke Hindia Timur untuk memperebutkan rempah-rempah, komoditas utama perniagaan dunia kala itu. Selain mengawetkan bahan makanan, orang-orang Eropa menggunakan rempah-rempah untuk obat berbagai penyakit. Ketika wabah mematikan merenggut banyak nyawa penduduk London pada abad ke-16, misalnya, mereka meyakini pala sebagai jawabannya.

Inggris mulanya mendapatkan rempah-rempah dari Venesia (Italia) atau Lisabon (Portugis) dengan harga amat mahal. Namun, sejak 1580, ketika Raja Philip II merebut tahta kekuasaan di Portugal, pasar-pasar Lisabon menutup pintu pengiriman rempah-rempah ke Inggris. “Kini ada satu kebutuhan mendesak untuk mengirim misi perdagangan yang berhasil ke Hindia Timur,” tulis Giles Milton.

Setelah berlayar berbulan-bulan, armada Lancaster tiba di Aceh, Banten, dan akhirnya mencapai Kepulauan Banda, “gudang” rempah-rempah yang mereka cari. Selain sambutan hangat dari penguasa dan penduduk lokal, EIC mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah. Mereka juga mendapatkan izin untuk membangung gudang di Pulau Run. “Pada masa itu, Run adalah pulau yang paling dibicarakan di dunia, sebuah tempat dengan kekayaan yang begitu menakjubkan sehingga sebagai perbandingan, harta sepuhan Eldorado terlihat murahan,” tulis Milton.

Kedatangan armada Lancaster di London pada September 1603 menandai kesuksesan pelayaran pertama EIC. Pelayaran berikutnya pun dipersiapkan. Namun kali ini tantangan lebih besar menghadang: Kongsi Dagang Belanda (VOC) telah tiba di Hindia Timur dan menggunakan berbagai cara demi memenuhi ambisi memonopoli rempah-rempah.

Perang Inggris-Belanda
Ketika armada EIC pimpinan William Keeling tiba di Banda, VOC menyambutnya dengan permainan harga. VOC juga menekan penduduk lokal agar menjual lada kepada EIC dengan harga tinggi. Tapi hal itu tak menghentikan aktivitas EIC. Terlebih penguasa lokal dan penduduk, yang muak dengan keangkuhan VOC, bersedia secara diam-diam membuat kesepakatan dengan EIC. Kesepakatan itu menyulut kemarahan VOC. Di bawah pimpinan Peter Verhoef, VOC mendesak para penguasa lokal mematuhi perjanjian-perjanjian yang telah dibuat. Verhoef juga menyatakan diri sebagai musuh bersama penguasa-penguasa lokal untuk menunjukkan kedigdayaan VOC. Arogansi tersebut dibayar mahal: Verhoef menemui ajal, yang menurut sumber Belanda dibuat dengan campur tangan EIC.

VOC segera melakukan tindak balasan. Di Banda Neira, desa-desa dibakar, kapal-kapal dihancurkan, dan orang-orang pribumi dibantai. Inggris juga kena getahnya. Simon Hoen, yang menggantikan Verhoef, mengirim surat pengusiran dari Kepulauan Banda. “Inilah awal dari ‘perang antara Inggris dan Belanda’,” tulis Milton.

EIC tak mau menuruti perintah VOC. Armada David Middleton, yang tiba kemudian dan memilih Pulau Ai sebagai basisnya, tetap berniaga rempah-rempah dengan penduduk lokal. EIC juga memprovokasi orang-orang setempat melawan VOC. Setiap serdadu VOC yang keluar Benteng Nassau, dibantai. VOC membalas lebih kejam.

Pada Natal tahun 1616, petualang Inggris (dan karyawan EIC) Nathaniel Courthope turun ke darat dan membujuk penduduk lokal untuk memberinya monopoli eksklusif atas pala panen tahunan mereka. Isi perjanjian yang ditandatangani dengan kepala suku setempat bahkan jauh lebih luas: menyerahkan Pulau Run dan Ai ke Inggris. Kendati VOC akhirnya menggenggam sebagian besar Hindia Timur, termasuk Banda, Pulau Run tetap berada di bawah kendali Inggris. Dianggap duri dalam daging, VOC mengepung Courthope dan awak EIC. Belanda akhirnya menguasai Run dan membunuh Courthope.

Inggris terpaksa menyingkir ke beberapa tempat seperti Penang atau Singapura. Sebagai balasan atas kerugian di Pulau Run, Inggris menyerang dan menguasai Manhattan, pulau yang dikuasai Belanda, di Nieuw Amsterdam (kini, New York).
Sejak 1611, upaya damai diusahakan London maupun Amsterdam namun berujung buntu. Melalui Perjanjian Breda tahun 1667 konflik kedua kongsi dagang itu pun berhenti. Salah satu poin penting perjanjian tersebut adalah pertukaran Pulau Run dengan Pulau Manhattan. Inggris mendapatkan Manhattan sebagai ganti kehilangan atas Run.

Inggris menduduki Pulau Manhattan yang ditempati secara tidak sah oleh Adipati York (kemudian menjadi James II, saudara dari Charles II) tahun 1664 dan mengganti namanya dari Amsterdam Baru menjadi New York City dan Rhun diserahkan kepada Belanda.
Monopoli Belanda terhadap pala runtuh setelah pemindahan pohon pala ke Ceylon (kini Sri Lanka), Grenada, Singapura dan koloni Britania lainnya tahun 1817 setelah pendudukan pulau utamanya, Banda Besar, tahun 1810 oleh Kapten Cole yang mendorong keruntuhan supremasi Belanda dalam perdagangan rempah. Sampai sekarang masih ada pohon pala yang tumbuh di Pulau Run. Namun kini Pulau Run seolah terlupakan, bahkan banyak orang Indonesia sendiri tak mengetahuinya. Ia tetap pulau kecil yang tertinggal dan miskin. Kontras dengan Manhattan, yang menjadi salah satu kota terbesar di dunia. Run adalah “surge kecil” di masa silam.

(Dhino Pattisahusiwa, mantan Jurnalis Maluku)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02