iklan-banner-01
iklan-banner-02

Rezim Joko Widodo Selingkuh Beras

Wakil Sekjen HKTI, Tarli Nugroho.
Awalnya pemerintah meributkan kelangkaan beras medium. Kemudian ngotot diputuskan impor beras, padahal kita akan segera masuk musim panen.

Anehnya, yang akan diimpor pemerintah adalah beras premium, bukan medium. Lebih aneh lagi, impor akan dilakukan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) padahal sesuai aturan seharusnya impor dilakukan oleh Bulog.

Sesudah diprotes publik dan DPR RI, termasuk dikritik oleh sejumlah kalangan di internal pemerintah sendiri, rencana impor kemudian dikoreksi, menjadi impor beras medium dan kuasa importasinya dikembalikan ke Bulog.

Putusan menteri dan pemerintah bisa mudah berubah drastis hanya dalam hitungan hari dan minggu. Begitulah perilaku rezim sekarang ini. Kata orang Yogya: "Isuk dele sore donat'.
 
Lalu, saat beras impor masuk, beras yang tadinya diklaim akan digunakan untuk mengintervensi pasar, ternyata malah akan langsung digembok di gudang, karena saat ini memang sudah masuk musim panen dan petani di mana-mana mengeluhkan jatuhnya harga gabah.
 
Pemerintah mengelak tuduhan jika jatuhnya harga gabah disebabkan oleh impor beras menjelang panen yang mereka lakukan.
 
Pertanyaan kita adalah: "jika hanya untuk digembok di gudang, ngapain juga kita impor beras?! Jika neraca kebutuhan pangan kita memang defisit, yang artinya klaim swasembada beras oleh Kementerian Pertanian hanyalah dusta belaka, pemerintah sebenarnya boleh kok impor beras. Tapi jangan dilakukan menjelang musim panen, supaya tidak merugikan petani.
 
Ngotot impor seolah itu sangat urgent, tapi kemudian sesudah diprotes mengaku jika beras itu hanya akan disimpan di gudang, itu tak ada bedanya dengan perilaku seorang pria hidung belang yang menikah lagi secara diam-diam dengan dalih ingin segera punya anak, padahal isterinya di rumah sedang bunting.
 
Saat ketahuan, dia mengaku jika isteri mudanya tidak untuk diapa-apain kok. Dia dinikahi hanya agar bisa dinafkahi. Hmmm... terdengar mulia, tapi orang waras pasti menertawakannya.
Masih akan diteruskan pemerintahan yang demikian?! Oya, Anda masih waras bukan?!
 
*(Pengamat ekonomi kerakyatan dari Institute for Policy Studies,Tarli Nugroho)

Berita terkait