iklan-banner-01
iklan-banner-02

Ratna Sarumpaet, Antara Dusta dan Ancaman

Ratna Sarumpaet.
"Akulah pembuat Hoax terbaik" Itulah cuplikan kalimat yang keluar dari mulut Ratna Sarumpaet (RS). Aktivis dan pejuang yang selama ini dikenal konsisten dan tak diragukan reputasinya.

Berawal ia mengaku diseret, dipukuli dan dilempar dari mobil oleh tiga lelaki di Bandung, pengakuan ini disampaikan kepada sejumlah tokoh nasional. Termasuk kepada Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon, Rachel Maryam dan sejumlah tokoh yang lain.

Prabowo Subianto, saat konferensi pers Selasa (2/10), mengungkapkan rasa empati kepada nenek usia 70 tahun ini. Prabowo meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini dan menangkap pelakunya. Tidak hanya kasus RS, tapi juga kasus Novel Baswedan yang disiram air keras, dan kasus Hermansyah yang ditusuk di jalan tol.
 
Selang sehari Prabowo konferensi pers, giliran RS konferensi pers (3/10). Isinya? Mengagetkan! RS mengaku berbohong. Ia membohongi Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon, Rachel Maryam dan seluruh rakyat Indonesia. Ia mengaku tidak dipukuli, tapi operasi plastik. Gempar!
 
Dengan suara terbata-bata, RS minta maaf kepada Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon dan seluruh rakyat Indonesia. Ia menyampaikannya di depan kamera berbagai TV. Suaranya parau, tak seperti biasanya. Tak lantang lagi. Wajahnya tak bergairah.
 
Kalau kita menggunakan analisis teori dramaturgi Erving Goffman, RS sedang memainkan dua panggung. Panggung belakang dan panggung depan. Di panggung belakang RS mengaku diseret, dipukuli tiga lelaki. Lalu tubuhnya dilempar di daerah Cimahi. RS cerita dengan wajah tertekan. Ia sampaikan kronologi dan detail peristiwanya. Dan ia katakan bahwa Prabowo adalah harapan terakhirnya (FB Nanik S).
 
Di panggung depan, ketika semua kamera televisi menyorot dan awak media merekam, RS bilang bahwa ia telah berbohong kepada Prabowo dan lainnya. Ia adalah pembuat hoaks terbaik. RS minta maaf. Masalah selesai? Tidak!
 
Pernyataan RS di panggung depan memunculkan sejumlah pertanyaan: apakah ia berkata sebenarnya? Ungkapan bohongnya adalah bohong sesungguhnya? Atau ia terpaksa bilang berbohong karena ada tekanan?.
 
Publik terbelah persepsinya. Sebagian percaya pada panggung depan RS. Apalagi didukung oleh bukti-bukti dari kepolisian. Bukti-bukti polisi begitu lengkap. Komprehensif. Polisi kerja cepat. Langkah yang perlu diapresiasi.
 
Hanya butuh semalam setelah kasus ini muncul ke publik, polisi berhasil mewancarai sejumlah orang terkait peristiwa, mengecek 23 rumah sakit, mengumpulkan rekaman CCTV, mandata transfer rekening putra SR, hingga peringatan adanya ancaman terhadap penebar hoaks dengan pasal 1 dan 2 KUHP No 1 Tahun 1946 dan pasal 28 UU ITE. Klop antara pengakuan panggung depan RS dan bukti-bukti yang dimiliki pihak kepolisian. Hari itu juga beredar secara masif meme di media sosial tentang hoaksnya RS.
 
Sebagian yang lain tak percaya begitu saja. Mungkinkah RS serendah itu? Mengorbankan reputasi yang puluhan tahun ia bangun dengan berbohong? Sebuah kebohongan kecil, tak mutu dan terkesan main-main. Lakon apa yang RS sedang mainkan? Di manakah posisi ia berada? Sebagai korban atau pelaku rekayasa?
 
Demi untuk memberi jawaban kepada anak saya, kata RS. Sebuah jawaban yang tak jelas logikanya. Sulit dimengerti oleh mereka yang mengenal betul siapa RS itu. "Enggak RS buanget", kata mereka. Inilah yang mendorong rasa curiga itu muncul.
 
Hanya untuk mengelabui anaknya dari operasi plastik, RS harus membuat pengakuan kepada sejumlah tokoh nasional bahwa ia diseret, dipukuli, lalu dilempar dari mobil. Tidakkah itu janggal? Pertama, jika memang untuk mengelabui anaknya, apakah pengakuan itu dilakukan di depan anaknya?
 
Lihat foto yang beredar, tak ada anaknya saat SR menemui Prabowo, Amien Rais dan tamu yang lain. Kedua, RS secara konsisten menceritakan pemukulan itu kepada sejumlah pihak dalam waktu yang berbeda. Pengakuannya sama. Ketiga, RS sadar dan tahu persis bahwa pengakuannya itu akan menggemparkan rakyat Indonesia. Keempat, wajah bengkak karena pukulan dan operasi plastik tentu bisa dibedakan.
 
Dua persepsi publik sama-sama punya data dan argumen rasionalnya Tapi satu hal, setiap kebohongan kendati bisa disembunyikan, tapi tidak untuk selamanya. Pasti akan terbongkar. Kita tunggu, apakah pengakuan RS yang di panggung depan yang benar? Atau pengakuan RS di panggung belakang?.
 
Jika yang benar adalah pernyataan di panggung depan, maka akan terbongkar motifnya. Sulit dipercaya jika kebohongan itu untuk mengelabui anaknya. Tak berkelas untuk sosok dan tokoh sebesar RS.
 
Jika yang benar adalah panggung belakang, maka muncul tanda tanya: apakah RS ada tekanan dari pihak lain? Sebab, rumor yang beredar bahwa RS diancam. Kalau ternyata benar ada ancaman, siapa pihak yang mengancam? Yang pasti, ancaman itu, jika benar adanya, sungguh dahsyat. Karena bisa memaksa RS berbohong.
 
Apapun alasannya, mungkin publik bisa memahami, tapi sulit untuk bisa memaafkan. Yang mereka tahu: Ratna Sarumpaet adalah pendusta.
 
Biasanya, orang bisa dan leluasa untuk bicara dan bersikap jujur jika berada di panggung belakang. Tidak di panggung depan. Sebab, panggung depan seringkali terkontaminasi dengan ego, citra dan kepentingan. Bahkan juga untuk menghindari ketersinggungan, risiko dan munculnya permusuhan dengan pihak lain. Komunikasi antar-personal umumnya lebih otentik daripada komunikasi massa. Lalu, bagaimana dengan kasus RS? Apakah panggung belakang lebih bisa dipercaya dari panggung depan?.
 
Apapun yang nanti akan terbongkar, akan berpengaruh terhadap masa depan RS dan Pilpres 2019. Pertama, jika panggung depan yang benar, maka kebohongan RS adalah ironi nasional. Ironi seorang tokoh, aktivis dan pejuang yang mengakhiri semua capaian reputasinya dengan dusta. Apapun alasannya, mungkin publik bisa memahami, tapi sulit untuk bisa memaafkan. Yang mereka tahu: Ratna Sarumpaet adalah pendusta.
 
Kedua, Jika yang benar panggung belakang, di mana RS diseret, dipukul, dan dilempar dari mobil, serta benar juga rumor bahwa RS diancam akan dibunuh anak cucunya, maka Prabowo sebagai oposisi makin besar peluangnya untuk menjadi presiden di 2019.(PN-03/adt)
 
Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Berita terkait