iklan-banner-01
iklan-banner-02

Prabowo - Sandiaga Pemenang Pilpres 2019

Prabowo Subianto - Sandiaga Uno
Prabowo Subianto, calon Presiden RI yang berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno telah mengumumkan bahwa pasangan nomor urut 02 memenangkan Pemilu Presiden 2019.

Pengumuman kemenangan Prabowo Subianto yang tanpa dihadiri Sandiaga Salahuddin Uno, itupun disambut gegap gempita para pendukungnya di jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Bahkan Habib Rizieq Shihab dari pengasingannya di Makkah Al Mukarramah Arab Saudi melakukan pembicaraan dengan Prabowo dan mengucapkan mabruk, mabruk, mabruk (semoga dilimpahi keberkahan).
 
Prabowo Subianto mengumumkan kemenangannya dalam pemilihan Presiden 2019 setelah mendapat laporan dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi hasil  Quick Count dan Real Count yang dilakukan Tim BPN.
 
Pengumuman Prabowo Subianto sangat penting sebagai counter attack untuk menghentikan pembentukan opini yang dilakukan melalui hasil Quick Count lembaga survei yang ditayangkan televisi swasta yang memenangkan petahana.
 
Jika hal itu dibiarkan pembentukan opini oleh lembaga survei yang menggunakan media pemilik pemodal, maka bisa meruntuhkan moral pendukung Prabowo-Sandi yang bertugas di TPS untuk mengamankan suara hasil pencoblosan di TPS yang akan diakumulasikan dalam perhitungan manual di KPU.
 
KPU telah dipersepsikan publik begitu buruk, bahkan ada yang menulis di media sosial sebagai KPU 2019 terburuk sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Dengan tulisan ini diharapkan KPU dapat berbenah.
 
Kemenangan Prabowo-Sandi
Secara sosiologis, apapun hasil akhir perhitungan KPU tentang pemenang Pemilu Presiden RI, Prabowo-Sandi menurut persepsi publik adalah pemenangnya.
 
Setidaknya ada 5 (lima) alasan yang mendasari bahwa Prabowo-Sandi adalah pemenang Pemilu.
 
Pertama, kampanye Prabowo-Sandi sejak 23 September 2018 sampai 13 April 2019 selalu dihadiri massa yang luar biasa besar yang saya sebut lautan manusia. Kondisi semacam itu, tidak didapatkan pesaingnya.
 
Kedua, kondisi ekonomi yang terpuruk yang dialami sebagian besar rakyat Indonesia, siapapun yang berkuasa sulit mendapat dukungan suara rakyat dalam Pemilu.
 
Ketiga, ketidak-adilan ekonomi dan hukum yang merajalela, tidak mudah yang berkuasa mendapatkan dukungan suara dari rakyat dalam Pemilu.
 
Keempat, pengangguran dan kemiskinan yang dialami banyak rakyat Indonesia, pasti mereka memberikan dukungan suara mereka kepada pihak oposisi.
 
Kelima, besarnya dukungan massa dalam kampanye terakhir  Prabowo-Sandi di Gelora Bung Karno dan kampanye di berbagai daerah seluruh Indonesia tidak mungkin tidak berimplikasi secara signifikan dalam perolehan suara Prabowo-Sandi dalam Pemilu 17 April 2019.
 
Satu-satunya jawaban publik kalau Prabowo-Sandi sampai kalah hasil perhitungan KPU karena dicurangi secara sistimatik. Semoga hal ini tidak terjadi. Aamiin.
 
Oleh: Musni Umar, Sosiolog dan Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta
 
Disclaimer: Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Berita terkait

Berita Populer