iklan-banner-02
iklan-banner-02

Peran Penalaran Moral Bystander Usia Remaja Awal dalam Mengatasi Kasus Bullying di Sekolah

Kondisi pendidikan Indonesia seperti sejumlah fakta yang diangkat penulis berikut ini diantaranya Guru Tampar 18 Siswa SMK di Gorontalo (www.tempointeraktif.com). Dari 2011 sampai Agustus 2014, KPAI mencatat 369 pengaduan terkait masalah bullying di sekolah (www.republika.co.id). Media sedang menyoroti kasus kekerasan yang terjadi di sebuah rumah kos di Bantul, Yogyakarta. Seorang siswi diberitakan mengalami penganiayaan oleh teman sebayanya. Siswi tersebut disekap selama satu malam dan dianiaya dengan cara dipukuli, rambutnya digunting hingga hampir botak, disundut rokok, dan sebagainya (www.jawaban.com).
Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy

Apa yang pertama terbesit dalam benak dan hati kita saat mendengar fakta-fakta diatas? Diam-diam penulis kuatir cuplikan beberapa peristiwa itu tidak akan berpengaruh apapun bagi sebagian orang: tidak rasa bingung, kegelisahan, bahkan kecemasan. Seakan ia fakta alamiah.

Menurut Tsang, Hui, dan Law (Vinciguerra, 2015) bahwa kondisi psikologis dari bully (pelaku) dan victim (korban) di indikasikan menderita tekanan psikologis. Mereka yang menjadi victim memiliki self-esteem yang rendah dan memiliki kecemasan yang sangat tinggi, dan cenderung menarik diri dari lingkungan pertemanan (Vinciguerra, 2015). Pelaku bully memiliki dendam yang tinggi (Genitel & Brushman dalam www.female.kompas.com, 7 April 2014). Serta bystander (pengamat) (Vinciguerra, 2015) mengalami stres, rasa bersalah dan tidak berdaya karena disebabkan oleh konflik psikologis dalam dirinya terkait apakah dia mau membantu korban bully atau diam saja.

Beberapa pihak yang terlibat dalam situasi bullying yaitu bully, victim, dan bystander. Hal yang paling penting dalam proses pem¬-bullying-an ialah hadirnya bystander. Hawkins, Pepler, dan Craig (Halimah, Khumas, dan Zainuddin, 2015) menyampaikan bahwa perilaku bullying bisa menjadi semakin meningkat atau berkurang tergantung pada hadirnya orang lain yang menyaksikan saat peristiwa bullying terjadi. Jadi, intensitas dari tindakan bully di pengaruhi oleh hadirnya bystander. 

Hasil penelitian dari Halimah dkk (2015) pada 48 siswa SMP di Makassar menemukan bahwa terdapat pengaruh positif persepsi bystander terhadap intensitas bullying dengan signifikansi sebesar 0,017 dan sumbangan efektif sebesar 11,8%. Namun, sayangnya kontribusi bystander dalam membantu victim hanya sebesar 25% dan memberkuat bully sebesar 54% baik secara pasif maupun aktif (Trach, Hymel, Waterhouse, & Neale, 2010). Dengan demikan, peran bystander dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas kasus bullying di sekolah (Halimah dkk, 2015). 

Untuk menurunkan intensitas kasus bullying di sekolah, maka bystander harus memiliki moral yang baik. Hook (Nurhayati, 2006) mengatakan bahwa moral pada umumnya didefinisikan oleh para ahli psikologi sebagai sikap dan keyakinan yang dimiliki oleh seseorang yang membantu orang tersebut untuk memutuskan apa yang benar dan salah. Menurut Salmivalli dkk (Vinciguerra, 2015) bahwa kajian mengenai moral berkaitan dengan empati. Moral dan empati berkembang seiring bertambahnya Usia (Crain, 2014; Nickerson, Aloe, & Werth, 2015). Bystander yang memiliki empati dan efikasi diri yang tinggi dapat berpengaruh dalam mengatasi kasus bullying (Cappadocia, Pepler, Cummings, & Craig, 2012; Nickerson dkk, 2015). 

Bystander ialah orang-orang yang terlibat dan menyaksikan pelaku bully sedang mem-bully korbannya (Vinciguerra, 2015). Doramajian dan Bukowski (2015) mengakui bahwa peran bystander dapat memperlemah atau memperkuat perilaku bullying di sekolah.

Terdapat kategori-kategori dari bystander (Vinciguerra, 2015) ialah, sebagai asisten bully, reinforce bully, bystander pasif, dan bystander yang peduli. Singkatnya, bystander dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu aktif dan pasif dalam hal mengatasi kasus bullying di sekolah. Karakteristik dari bystander (Cappadocia dkk, 2012) ialah mencakup empati dan efikasi diri. Empati berhubungan dengan penalaran moral individu (Salmivalli dkk dalam Vinciguerra, 2015). Artinya, bystander yang aktif alih-alih peduli dengan korban bully dapat membantu korban bully apabila moral dan empatinya itu tinggi.

Dua orang ahli yang berpengaruh dalam teori perkembangan moral ialah Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg (Crain, 2014). Kohlberg membuktikan bahwa pertumbuhan dalam penalaran moral individu adalah proses perkembangan moral yang merupakan suatu proses pembentukan struktur kognitif (Duska & Whelan dalam Nurhayati, 2006; Crain, 2014). Artinya bahwa moral itu mengalami proses perkembangan yang berkelanjutan seiring pertumbuhan usia.

Karena moral berkaitan dengan bagaimana si individu bersikap ketika menilai suatu permasalahan dari kacamata benar-salah, maka dalam hal ini, bagaimana bystander menilai kasus bullying, apakah ingin membantu atau diam saja. Penilaian masing-masing bystander tergantung pada perkembangan penalaran moralnya. 

Menurut penulis, perkembangan moral bystander pada usia remaja awal (Crain, 2014) – meminjam teori Kohlberg – berada pada tingkat moralitas konvensional tahap 3 yaitu hubungan-hubungan antar-pribadi yang baik. Pada tahap ini, tingkah laku yang baik berarti memiliki motif dan perasaan antar-pribadi yang baik seperti kasih, empati, rasa percaya dan kepedulian pada orang lain (Crain, 2014).

Karena Kohlberg meyakini bahwa perkembangan penalaran moral individu terbentuk melalui usaha individu memahami lingkungannya dan berusaha untuk menghadapinya, maka dapat dikatakan bahwa penalaran moral dapat dibentuk oleh lingkungan sekitar individu tersebut. Meminjam perkataan Prof. Siti Partini dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan yang diikuti penulis sebagai mahasiswa S2 Psikologi yaitu bahwa, “…Setiap individu itu memiliki potensi. Agar potensi itu bisa aktif, maka perlu di stimulasi”. Artinya bahwa potensi alih-alih penalaran moral yang berkaitan dengan empati pada bystander dapat di stimulasi oleh lingkungan untuk mengatasi kasus bullying di sekolah, yaitu bagaimana lingkungan menyediakan media belajar yang positif untuk keberlangsungan perkembangan penalaran moral bystander alih-alih meningkatkan empati bystander. Lingkungan tersebut ialah orang tua, guru, teman sebaya, masyarakat, dan bahkan pemerintah. 

Berdasarkan penjelasan diatas, maka kesimpulannya adalah bahwa perkembangan penalaran moral pada bystander dapat mempengaruhi alih-alih mengatasi kasus bullying di sekolah. Hal itu disebabkan oleh empati yang terkandung dalam kajian moral berkembang seiring pertumbuhan usia bystander yang perlu di stimulasi oleh lingkungan sekitar. Maka dengan demikian masih ada harapan untuk mengatasi kasus bullying di sekolah melalui intervensi dari luar yaitu dengan membentuk empati pada bystander. (Penulis: Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02