iklan-banner-01
iklan-banner-02

Menyiapkan Pemimpin Muda Maluku

Abubakar Solissa
Regenerasi kepemimpinan dalam dunia politik itu adalah sebuah kemutlakan. Semenjak orde baru ditumbangkan dan lahirnya reformasi—paradigma kepemimpinan nasional sudah mulai berubah. Hadirnya tokoh-tokoh muda diberbagai level organisasi politik maupun pemerintahan telah mengisyaratkan bahwa pergeseran kepemimpinan dari kaum tua ke anak muda telah menemukan momentumnya.

Paradigma ini mulai mengkristal setelah proses pemilihan kepala daerah secara langsung dilakukan pada tahun 2005. Dibeberapa tempat, anak muda sudah mulai menunjukan eksistensinya untuk bertaruh gagasan dengan kaum tua yang selama ini terlalu monopolistik menguasai semua level kepemimpinan baik secara nasional maupun lokal.

Terpilihnya M. Zainul Majdi atau yang biasa disapa Tuan Guru Bajang (Gubernur NTB), Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), M. Ridho Ficardo (Gubernur Lampung), Makmun Ibnu Fuad (Bupati Bangkalan), Mardani Maming (Bupati Tanah Bumbu), Indah Putri Indriani (Bupati Luwu Utara)—serta yang paling fenomenal adalah terpilinya Sutan Riska Tuanku Kerajaan sebagai Bupati Dharmasraya tahun 2016 diusia 26 tahun semakin mempertegas bahwa kepemimpinan gerontokrasi telah mengalami jalan buntu dalam mempertahankan eksistensinya.

Bukan hanya di Indonesia, dibeberapa negara seperti Eropa dan Amerika, lompatan kepemimpinan anak muda terbilang sangat jauh. Terpilihnya Justin Trudeau (43 tahun) sebagai perdana menteri Kanada, Emanuel Macron (39 tahun) sebagai presiden Prancis—dan yang paling mengguncang peta politik eropa bahkan dunia adalah terpilihnya Sebastian Kurz (31 tahun) sebagai Kanselir Austria. Kurz yang juga adalah pimpinan Partai Rakyat Austria berhasil menjadikan partai yang dipimpinnya memenangi pemilu parlemen Austria. Sebelumnya, Kurz juga pernah menjadi menteri luar negeri Austria diusianya yang baru 27 tahun.

Hal senada juga pernah terjadi di Amerika Serikat. Negara yang paling berpengaruh di abad-21 ini pernah dipimpin oleh presiden yang usianya baru 43 tahun—dia adalah Jhon Fitzgerald Kennedy. Politisi partai Demokrat ini berhasil mengalahkan sang petahana, Richard Nixon dengan pertarungan yang sangat dramatis. Prestasi ini kemudian terulang lagi pada saat terpilihnya Bill Clinton di pilpres tahun 1992. Gubernur negara bagian Arkansas yang diusung Partai Demokrat berhasil menggeser posisi George W. Bush dari tahta kepresidenan Amerika sekaligus mendapuk dirinya sebagai salah satu presiden termuda (46 tahun) di Amerika Serikat. 

Dan sejarah kepemimpinan anak muda di negeri Paman Sam itu ditutup oleh seorang anak muda kulit hitam yang keterpilihannya menjadi presiden Amerika menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah di dunia. Selain terpilih diusia yang relatif sangat muda (47 tahun)—Barack Obama juga mengukir sebuah prestasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pria yang pernah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama di Amerika, peristiwa yang sangat langka terjadi. Sebagai minoritas yang kurang mendapatkan tempat dalam ruang politik Amerika selama beberapa abad lamanya—semenjak negara itu dipimpin oleh Georgia Washington (1789)—kemenangan Obama adalah prestasi ganda yang patut diapresiasi.

Kehadiran demokrasi yang didorong oleh pesatnya kemajuan teknologi telah menghadirkan sebuah perspektif kepemimpinan diberbagai level. Bergesernya kepemimpinan dari kaum tua ke anak muda mulai menggema di seluruh pelosok dunia, termasuk di Maluku. Semenjak periode pilkada langsung ditiupkan, mulai tampak sosok anak-anak muda potensial di level kepemimpinan lokal. Terpilihnya Abdullah Vanat menjadi Bupati Seram Bagian Timur (SBT) pada tahun 2005 mulai membuka jalan optimisme anak muda di daerah lain untuk menguji kapasitas leadershipnya di ranah politik praktis. Selanjutnya, kepemimpinan di Maluku mulai diisi oleh pemimpin-pemimpin muda—ada Andreas Rentanubun di Kabupaten Maluku Tenggara (MT), Barnabas Orno di Maluku Barat Daya (MBD), Ramli Umasugi di Buru dan Tagop Soulisa di Buru Selatan (Bursel).

Sayangnya, regenerasi kepemimpinan di level kabupaten tidak simetris dengan yang terjadi di level provinsi. Semenjak orde baru berkuasa sampai saat ini, tidak pernah satupun anak muda yang tampil menjadi Gubernur Maluku. Benteng gerontokrasi politik masih terlalu kuat dan kokoh untuk dihancurkan oleh anak muda. Terhitung sudah, dua kali kontestasi politik di Maluku semenjak pilkada langsung dilakukan anak muda selalu gagal merebut posisi kepemimpinan yang hampir setiap periode di ambil alih oleh kaum tua. Klimaksnya di pilkada Maluku 2018, tidak ada satupun yang tampil mewakili kepentingan anak muda. Itu artinya, regenerasi kepemimpinan anak muda di Maluku harus dikoreksi dan ditata ulang sehingga ruang kaderisasi yang selama ini mengalami penyumbatan bisa dinormalisasikan kembali.

 *Menampilkan Figur Muda*

Anak muda adalah aset penting di daerah, keberadaan anak muda harus dillihat sebagai jantung peradaban demokrasi lokal. Roda kehidupan demokrasi akan nampak prospeknya ketika lahan kaderisasi anak muda tumbuh subur dalam dinamika kepemimpinan dan pembangunan di Maluku. Itulah sebabnya, penting untuk menyiapkan sumber daya anak muda sebagai modal untuk merawat masa depan demokrasi yang semakin kompleks tantangannya.

Munculnya tokoh-tokoh muda, seperti Mercy Chriesty Barends, Samson Atapary, M. Suhfy Majid, Edwin Huwae, Rofik Akbar Afifudin dan Sami Latbual dipanggung politik maluku diharapkan bisa mendatangkan energy perubahan terhadap paradigma anak muda Maluku yang selama ini terkungkung dan termonopolisasi oleh dominasi kaum tua. Keberadaan mereka haruslah dipupuk, sehingga progress dari kaderisasi kepemimpinan yang merupakan ekspektasi anak muda Maluku bisa mendapatkan bentuk dan tempatnya di masyarakat. (***)

 

Abubakar Solissa  

Peneliti di Young Leaders Institute for Development  (YLIFD)

Berita terkait