iklan-banner-01
iklan-banner-02

"Mendewasakan Emosional Untuk Kemajuan Negeri Siri-Sori Islam”

Penulis: Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy Kini saatnya kita mulai merasa gembira setelah melewati masa-masa sulit. Situasi di masa lalu membuat kita seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kemarin, kita seperti anak ayam yang bingung mencari makanan apa yang pas untuk dimakan karena tidak ada sosok yang mengajari bagaimana cara mencari makanan terbaik.
Negeri Siri Sori Islam, Pulau Saparua. / Sumber Foto: IST

Betapapun bermasalahnya dipandang masa lalu itu, namun ia tetap berpengaruh terhadap masa sekarang. Tetapi masa lalu telah menjadi buku tertutup yang dalam istilah Nurcholish Madjid (Cak Nur) adalah garis ungkul (solid line), yang tidak lagi mungkin diubah. Hikmah dari adanya masa lalu ialah tersedianya khazanah hikmah, sumber bahan penarikan pelajaran, baik yang positif maupun yang negatif. Sedangkan masa depan adalah bagaikan buku yang masih terbuka yang dalam istilah Cak Nur adalah garis terputus-putus (broken line) yang menunggu dan menuntut tanggungjawab seluruh masyarakat untuk mengisi dan membangunnya. 

Sebagai anak negeri, penulis pun merasa sangat gembira setelah mendengar dan mengetahui bahwa pada Sabtu, 27 Januari 2018 kemarin telah dilaksanakan prosesi pelantikan upu latu pattisahusiwa di Negeri Siri-Sori Islam. Dari semua kegembiraan yang saat ini kita alami, dalam hati kecil penulis bertanya-tanya, apakah kita semua sudah benar-benar merasa gembira? Jangan-jangan situasi kegembiraan ini hanya bersifat formalitas belaka karena masa depan yang kita hadapi akan lebih sulit lagi. Menurut hemat penulis, situasi-situasi berat yang akan kita hadapi kedepannya ialah berkaitan dengan melawan diri kita sendiri. Oleh sebab itu, orang tua-tua kita zaman dulu sering mengingatkan, “inga diri bae-bae.” Apakah kata-kata itu hanya seperti angin yang berlalu begitu saja? Entahlah.

Menurut Erickson – pencetus teori Psikososial – mengatakan bahwa individu dewasa adalah individu yang dapat menerima identitas yang berbeda dari identitasnya sendiri. Identitas itu berkaitan dengan pandangan politik, ideologi, dan lain-lain. Individu yang belum dewasa akan mudah tersinggung ketika berhadapan dengan individu-individu lain yang berbeda pandangan politik, ideologi, dan lain-lain. Oleh sebab itu, diperlukan sikap dewasa yang matang. Lebih jauh Erickson mengatakan bahwa individu dewasa adalah individu yang mampu memproduksi ide-ide baru untuk kepentingan bersama. Pada situasi seperti itulah kita akan mengalami ke-gamang-an seperti orang latah yang kaget melihat situasi-situasi baru sehingga semua kata yang berada dalam mulutnya pun spontan keluar begitu saja tanpa terkendali. Artinya bahwa di masa depan kita akan dihadapkan pada individu-individu latah yang kaget ketika mendengar ide-ide baru serta melihat identitas-identitas yang berbeda dari dirinya sendiri. Individu-individu latah ini yang dapat dikategorikan sebagai individu yang belum dewasa. Sungguh sulit untuk menjadi dewasa. Oleh sebab itu, ada ungkapan bahwa, individu yang sudah lanjut usia belum tentu mencapai kedewasaan maksimal dibanding anak kecil yang baru memasuki usia bermain. Jadi, kedewasan ini tidak bergantung pada faktor pertumbuhan fisik melainkan kondisi psikis individu.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka perlu ada upaya untuk mendewasakan emosional. Menurut Goleman dalam buku Emotional Intelligence yang ditulisnya mengungkapkan bahwa kondisi emosional yang baik tergantung pada sejauhmana individu dapat mengenali siapa dirinya serta berusaha untuk mengendalikan dirinya. Mengenal diri sendiri adalah berkaitan dengan mengenal tujuan kita hadir di dunia ini untuk apa? Apa peran kita di dunia ini? Sedangkan pengendalian diri adalah sejauhmana individu dapat mengendalikan amarahnya ketika berada dalam situasi yang sulit. Lebih lanjut, Goleman mengatakan bahwa jika kedua syarat tersebut yaitu mengenal diri dan pengendalian diri itu berjalan dengan baik maka akan berpengaruh pada keterampilan sosial yang baik pula. Jadi, individu yang dewasa secara emosional adalah individu yang mampu mengenal dirinya sendiri alih-alih identitasnya serta dapat mengendalikan dirinya ketika berhadapan dengan individu-indvidu yang berbeda identitas dengannya. 

Mengacu pada semua pembahasan singkat diatas, maka kesimpulannya yaitu: Pertama, jika di masa depan kita akan berbenturan dengan diri kita sendiri, maka hanya ada dua pilihan yaitu memilih menjadi individu latah atau individu yang dewasa secara emosional. Kedua, jika kita ingin memajukan negeri Siri-Sori Islam yang kita cinta ini hingga tutup usia, maka syaratnya ialah mendewasakan emosional sejak dini. Semoga tulisan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. (***)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02