iklan-banner-01
iklan-banner-02

Mencari Capres Alternatif 2019

Jagad raya politik nasional satu tahun terakir ini hanya didominasi oleh dua tokoh besar. Joko Widodo dan Prabowo Subianto adalah dua tokoh utama yang menguasai hampir sebagian percakapan publik, terkait dengan standing positioning pencapresan di pilpres 2019.
Abubakar Solissa

Hegemoni figuritas yang sudah dimulai semenjak pilpres 2014 seakan memotong mata rantai regenerasi kepemimpinan nasional.

Disatu sisi, publik melihat keduanya sebagai tokoh nasional yang memiliki kemampuan elektoral mumpuni dibandingkan kandidat lain, tapi pada sisi lain, terpusatnya pengakuan publik terhadap kedua tokoh ini telah menyumbat ruang regenerasi kepemimpinan nasional yang sangat tidak menyehatkan proses konsolidasi demokrasi.

Bangsa yang sangat besar dan kompleks persoalannya, mestinya mekanisme pengelolaannya juga dilakukan secara berkesinambungan dengan menghadirkan figur-figur energik yang memiliki kompetensi, integritas, visioner dan kredibel agar keberlanjutan kepemimpinan di bangsa ini berjalan dengan baik.

Pertarungan di tahun 2019 dengan kedua tokoh sentral sebagaimana yang telah penulis uraikan diatas akan berdampak pada dua hal. Pertama, tidak ada sirkulasi kepemimpinan nasional yang dilakukan secara sustainable. Padahal, momentum pilpres diharapkan bisa menjadi ajang tampilnya tokoh-tokoh baru yang diharapkan mampu membawa kebaruan dari sisi gagasan dan program. Kedua, terpangkasnya optimisme publik terhadap para kandidat yang bertarung. Publik kemudian akan jenuh terhadap komposisi capres yang itu-itu saja dan berujung pada skeptivisme masif sebagai bentuk protes atas ketidaktersedianya capres alternatif yang bisa menghadirkan etalase buat para pemilih dibilik suara.

Untuk itu, proses kandidasi politik menuju grand final 2019 alangkah baiknya tidak berkutat pada posisi cawapres saja. Diskursus soal siapa yang paling layak mendampingi Jokowi maupun Prabowo sebagai cawapres adalah diskusi yang kurang tepat untuk kebutuhan regenerasi kepemimpinan nasional.

Meskipun para elit dan pimpinan partai politik memiliki refrensi sendiri dalam berhitung soal elektabilitas Jokowi yang dibeberapa rilisan lembaga survei sangatlah tinggi, dan posisi Prabowo yang masih bertengger diposisi kedua, tetapi memupuk optimisme publik dengan mendorong calon-calon pemimpin masa depan bangsa ini agar bisa mengambil posisi calon presiden adalah pilihan yang paling realistis dalam menjaga masa depan demokrasi kita.

Dalam dunia politik, tidak ada yang tidak mungkin. Semua ketidakpastian bisa bertransformasi menjadi kepastian andaikan kalau dilakukan secara baik dan konsisten. Elektabilitas itu seperti cuaca, kadang cerah, kadang juga seperti kabut hitam yang memberikan pesan akan turunnya hujan.

Semuanya serba unprediktable, tugas para kandidat (capres) hanyalah berikhtiar, dengan terus membangun komunikasi politik, turun ke masyarakat sambil bertukar energy dengan mereka. Dengarkan apa kebutuhan mereka, dicatat dan kemudian diformulasikan program yang tepat dalam menjawab segala kebutuhan yang diinginkan.

Apalagi dengan melihat track record beberapa figur yang berwara-wiri diberbagai forum dan media nasional maupun lokal, rasanya tidak ada alasan untuk krang kompetisi ini juga dibuka secara lebar buat mereka, biar publik kemudian akan merasa terwakili kepentingannya dengan hadirya capres alternatif. (***)

Penulis: Abubakar Solissa 

Peneliti di Lembaga Young Leaders Institute for Development 

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02