iklan-banner-01
iklan-banner-02

Melawan Lupa !!! Said Perintah (Pahlawan yang Terlupakan)

Iskandar Pelupessy / Penulis
Bulan November dan Pahlawan bagai dua sisi mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Semangat arek-arek Suroboyo yang mengilhami tanggal 10 November secara simbolis sebagai hari pahlawan merupakan momentum yang tentunya bukan hanya sekedar hadiah namun sebagai semangat yang patut diteladani.
Lebih dari pada itu, berbicara kepahlawanan bukan cuma tentang angka-angka di kalender, karena jauh sebelum itu beribu perjuangan anak bangsa diberbagai daerah juga tulus berjuang dan mempertahankan NKRI ini. Di era 1800-an hadir seorang Said Perintah, sebuah nama yang tak asing di daerah seribu pulau, sosok yang perannya seolah hendak dihilangkan dari catatan sejarah anak bangsa.

Sosok futuristik yang bersama dengan kapitan dari negeri Haria melahirkan ikatan Pela, ikatan persaudaraan antara dua negeri yang terjalin manis hingga saat ini.

Kini entah apa yang menjadi dasar hingga perannya dihilangkan, walaupun oleh Negara Said Perintah sudah diakui sebagai pahlawan Maluku dari Siri-Sori Islam berdasarkan SK Presiden RI Nomor; 087/TK/TH/1973. Pengakuan ini ternyata bukan jadi acuan tokoh ini untuk diakui.

Legitimasi Negara kepada sang tokoh bukan hanya itu, jauh sebelumnya, sekitar tahun 1957, anak cucu dari sang tokoh sudah diberi kepercayaan untuk memandikan kapal perang KRI Pattimura.

Upaya penghilangan sejarah sang tokoh bukan hanya pada opini-opini dan kitab-kitab gelap beberapa sejahrawan lokal, eskalasi itu terus dipelihara dan itu terjadi hingga pada pameran 200 tahun perang Pattimura di Saparua medio Mei 2017 kemarin, sosok ini hilang dalam sebuah fragmen disalah satu baliho di pameran itu. Entah apa yang ada di benak panitia ataupun pemerintah daerah sebagai pihak-pihak yang berkompeten dalam ajang itu untuk terus terjebak dengan menghilangkan peran Said Perintah.

Kini dalam perjalanan sang tokoh dengan negerinya Siri-Sori Islam yang seolah termarjinalkan pada ruang cerita Perang Pattimura ternyata membuat hikmah besar dari ketidakjujuran ini, dalam suatu tulisan Gubernur Van Middlekoop seorang pejabat tinggi Belanda yang dalam perjalanan karirnya kemudian dipecat akibat tidak bisa memadamkan pemberontakan.

Middelkoop berujar “Tentang seorang letnan Big yang didampingi dua orang kru arumbai mereka pergi ke Kulur untuk mencegah pelarian perempuan-perempuan dan koresepedensi (memberi informasi) di sepanjang pantai utara”, Middlekoop berkisah tentang peristiwa saat itu, dimana Mayor ME berlayar dengan kora-kora nya langsung ke Siri-Sori (Siri-Sori Islam). Bahkan memerintahkan Letnan Verhuel dengan pasukannya untuk menghentikan kedatangan kora-kora ke Siri-Sori (Siri-Sori Islam). Peristiwa ini turut mengakibatkan tewasnya Mayor Menjer, Letnan Chemont hingga terlukanya Kapten Vermeu Len Krleger di dada.

Narasi Middelkop tentang peristiwa perang Pattimura tentunya bukan sebuah cerita sumir, bahkan dalam suatu peta oleh Ben Van Kaam yang mengambarkan situasi perang saat itu, lokasi yang disebutnya sebagai jalan ke Siri-Sori ternyata adalah lokasi markas musuh (markas para Pejuang) mengisyaratkan sosok Upu Latu Said Perintah ini mempunyai peran yang tak mungkin tergantikan.

Ada kegetiran dan ketakutan yang luar biasa di pihak Kolonial yang mana kondisi di Siri-Sori Islam pasca perang Pattimura menimbulkan trauma tersendiri bagi penjajah, 41 tahun setelah Perang pattimura tepatnya 11 Januari 1858, dalam suatu surat rahasia Gubernur Maluku meminta Residen Ternate dan Residen Haruku menyampaikan laporan tentang maksud kedatangan Haji Husain bin Salma al-Makhdasi ke Siri-Sori Islam. Dalam jawabannya Residen menyatakan bahwa haji Husain datang dari kepulauan Sula sebagai seorang Ustadz yang akan menyiarkan Islam, ini mengambarkan beta over protektifnya Negeri Ratu Yuliana itu terhadap kondisi negeri Siri-Sori Islam.

Terancam hilang bahkan teramputasinya peran Said Perintah dengan Siri-Sori Islam mungkin bukan suatu kebetulan. Sosok yang juga leluhur Pahlawan nasional A.M Sangaji ini mempunyai tempat istimewa di anak cucunya. Tak heran meminjam satire sejahrawan Asvi Arman bila dulu sejarah ditulis oleh pemenang kini korban telah bersuara. Kepongahan beberapa sejahrawan lokal menimbulkan syak wasangka, menimbulkan tanya apakah karena kekompleksannya Maluku hingga cerita ini mengelinding tak bersayap, Sallatalohy (2009) berujar narasi sejarah bisa terhindar dari kekacauan penulisan jika orang yang menulis sejarah bersifat netral, meskipun unsur subjektivitasnya mengharuskan mereka berlaku tidak jujur, berbuat curang dan merugikan orang lain. Sejarah Maluku adalah faktor turun-temurun (genial) yang memposisikan masyarakat Islam Kristen bersikap berlawanan.

Sejarah mungkin bisa membuat bangga bahkan bisa mencederai akal dan hati manusia. Tak ayal dalam bukunya Ini Dia Aslinya Kaptan Pattimura, Lutfi Pattimura dan Kisman Latumakulita yang juga meneliti perang Pattimura berujar: Tentu, tidak ada klaim kebenaran mutlak tentang buku (sejarah Pattimura) tersebut, tetapi benar Pattimura adalah Pattimura, Matulessy adalah Matulessy, dua pahlawan yang bukan anak-anak dari satu bapak.

Tak heran saya (penulis) pun berprinsip yang sama dimana Said Perintah bukanlah tokoh imajiner (tokoh pejuang yang nyata), tokoh yang betul-betul menyejarah, tokoh yang lahir dari putera dari Pattikakang dengan Nurlasi Pelupessy (Salatalohy, 2009), beliau bukanlah Melchior Kesaulya, karena Melchior Kesaulya adalah Melchior Kesaulya, dan Said Perintah adalah Said Perintah dua pribadi yang berbeda, yang lahir dari rahim yang juga berbeda.

Ketika kita menjadi apoligis tentang kebenaran dengan nurani yang hampa, intelektulisme kita pun terhianati dan menjadi tidak jujur dengan kebenaran dalam melihat sejarah kepahlawanan di Maluku. Asvi Arman berujar sejarah sesungguhnya memicu orang untuk berpikir, berdiskusi dan pada gilirannya mencerdaskan. Meminjam ucapan sejahrawan M Nur Tawainella bahwa Said Perintah adalah seorang Muslim, tokoh yang sejarah perlawanan 1817 yang tidak pernah menjadi “budak” anak emas dari sang kaisar (Belanda). Oleh karena itu tidak tabu dan dan tidak haram untuk diangkat menjadi seorang besar, tokoh dalam sejarah pahlawan dan kepahlawanan di Maluku.

Ambon 10 November 2017
SELAMAT HARI PAHLAWAN

Iskandar Pelupessy
Pamanawa Community

Berita terkait