iklan-banner-01
iklan-banner-02

"Kongres HMI XXX dan Kritik Eksistensi Organisasi"

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), merupakan sebuah organisasi moderen yang telah menunjukan kiprahnya diruang publik dengan berbagai prestasi yang ditoreh sejak awal kemerdekaan sampai dibukanya gong reformasi Indonesia.
Bansa Hadi Sella, Ketua Umum Badan Koordinasi (BADKO) HMI Maluku dan Maluku Utara
Meskipun telah banyak berkontribusi bagi pembangunan bangsa ini, namun semangat juang kader takan pernah surut. Sebab HMI bukanlah organisasi yang sekedar membanggakan prestasi masa lalu, melainkan organisasi ini hadir sebagaimana tujuannya untuk terus "bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT".

Jika mengamati berbagai problem keumatan dan kebangsaan saat ini, maka sangat diperlukan peran aktif pemuda termasuk kader HMI sebagai agen of change, dengan kreatifitas berfikir dan ide-ide solutif yang dimiliki, agar dapat menghantarkan bangsa Indonesia keluar dari amburadulnya tatakelola pemerintahan seperti yang sedang dihadapi saat ini.

Apalagi dengan adanya budaya matrealisme, egoisme dan persaingan (MEP) yang dapat memaksa generasi muda tunduk pada perilaku apatis dan konsumtif secara berlebihan, yang tanpa disadari akan berdampak pada terhambatnya pembangunan bangsa. Tentu hal itu secara tidak langsung akan memperlemah posisi tawar Indonesia dimata dunia.

Padahal,kata Ben Anderson, "Pemuda adalah kekuatan paling revolusioner". Oleh sebab itu untuk membangun sebuah bangsa, mestinya terlebih dahulu membangunan sumber daya pemudanya. Selain itu juga sumber daya semua komponen harus terus ditingkatkan sehingga apa yang menjadi cita-cita sebuah bangsa untuk membentuk peradabannya dapat terejewantahkan di kemudian hari.

Lewat proses kaderisasi dan regenerasi di HMI, diharapkan tidak hanya lahir kader-kader yang memiliki soft skill semata, melaikan juga memiliki moral force agar lebih responsif terhadap sederet problem keumatan dan kebangsaan yang ada.

Meminjam ungkapan Muhammad Hatta "Untuk merubah carut-marutnya bangsa indonesia, maka mesti disiapkan basis teoritis".
Tesis hatta tersebut, rupanya disambut baik oleh founding fathers HMI dengan meletakan dasar pijak wadah berhimpun mahasiswa islam ini sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan.

Sebagai organisasi perkaderan, HMI harus bisa menjadi rumah produksi intelektual yang progresif agar lahir generasi cemerlang (ulil albab) dan tetap menjadikan nilai-nilai dasar perjuangan (NDP) sebagai lokomotif perjuangan mahasiswa islam di Indonesia.

Dua tahun lalu, organisasi ini sempat menyita perhatian publik, sebagaimana diketahu bahawa Kongres HMI XXIX yang diselenggaran di Pekanbaru Riau, tidak terlepas dari berbagai gelombang dinamika baik di internal maupun eksternal.

Agenda dua tahunan organisasi Mahasiswa Islam terbesar di Indonesia yang berlangsung sejak 22 November sampai 5 Desember 2015 itu terbilang penuh polemik.

Mulai dari digelontorkan Rp. 3 Milyar oleh Pemda Riau, makan tidak bayar, perusakan fasilitas umum kota Pekanbaru, penangkapan para penggembira yang membawa pelbagai jenis alat tajam oleh tim razia Polda Riau, sampai pada aksi saling lempar kursi oleh peserta dalam ruang sidang. Yang tak kalah menariknya adalah pemukulan anggota HMI dan beberapa awak media yang sedang meliput jalannya kongres oleh oknum kepolisian sampai babak belur dan dilarikan ke rumah sakit dengan alibi "pengamanan" sesaat sebelum terpilihnya Kanda Mulyadi P. Tamsir sebagai Ketua Umum PB HMI periode 2016-2018 di Gor Gelanggang Remaja Pekanbaru.

Momentum yang semestinya dijadikan sebagai ruang silaturahmi kader se-nusantara dalam upaya mentransformasikan gagasan ke-islaman ke-indonesiaan, serta membahas agenda-agenda keumatan dan kebangsaan tersebut kini berubah menjadi bomerang bagi organisasi dikarenakan aksi brutal dan sikap premanisme kader sering tafsirkan sebagai dinamika.

Dengan begitu tidak lantas penulis membenarkan berbagai pemberitaan di media massa (elektronik, cetak, online) selama kongres HMI berlangsung di tanah melayu itu yang telah memberikan preseden buruk bagi kendaraan perjuangan mahasiswa Islam ini tanpa memberitakan sisi positifnya secara jujur.

Tetapi sebagai kader HMI, kita patut berjiwa besar untuk menerima setiap penilaian publik termasuk kritikan terhadap aktivitas ke-organisasian kita. Dengan kata lain, sebelum orang di luar himpunan mengevaluasi kita, kiranya secara internal dengan penuh kesadaran, selaku kader umat dan bangsa, kita harus berani mengkritik serta memberikan solusi yang membangun bagi perbaikan organisasi tercinta ini kedepannya.

Sudah menjadi rahasia umum dalam sebuah Kongres organisasi baik Ormas, Parpol serta OKP/i, dan termasuk di dalamnya HMI sebagai basis gerakan mahasiswa dan pemuda bahwa tentu ada yang namanya "dinamika" sebagai suatu proses dialektis menuju kematangan suatu oraganisasi agar lebih kuat dan besar.

Tetapi layaknya dinamika, prosesnya harus elegan dan edukatif.
Sebab menurut hemat penulis, sebuah Kongres tidak hanya berorientasi pada pergantian kepemimpinan lama kepada yang baru semata, melainkan jauh dari itu, perlu di lakukan evaluasi kelembagaan secara internal dan mengkonstruksi kiprah eksternalnya. Selain itu juga, masi banyak agenda-agenda besar lain yang hendak di rumuskan sebagai proyeksi kerja organisasi kedepan.

Tentu semua itu membutuhkan diskusi panjang serta dialog ilmiah yang bersifat membangun sebelum nantinya ditetapkan sebagai konsensus perjuangan bersama.
Karena idealnya sebuah organisasi, harus bisa menyesuaikan diri dengan setiap realitas yang berjalan secara dinamis. Bukan malah mempertahankan tradisi lama yang tidak lagi relevan dengan keadaan zaman. Sebab jika sebuah organisasi dengan kerangka ideologi apapun tidak dapat mengenal eksistensi zaman yang sedang dihadapi, maka dengan sendirinya organisasi tersebut telah menghendaki dirinya tercelup kedalam ketertinggalan.

Setelah melewati berbagai tahapan serta prosedur formal seperti sidang-sidang pleno dan dinamika yang begitu menguras energi setiap kader, akhirnya melalui kesepakatan seluruh delegasi dari 200 lebih cabang se Indonesia pada Kongres XXIX, presidium sidang menetapkan HMI Cabang Ambon sebagai satu-satunya calon tuan rumah Kongres XXX tahun 2018.

Sejarah baru telah dibuka bagi HMI di bumi raja-raja. Negeri paling timur Indonesia yang sudah lama menanti momentum bersejarah itu mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah perdana setelah organisasi yang di dirikan Prof. Lafran Pane ini diterima pada tahun 1957, tepatnya 10 tahun pasca berdirinya HMI di Yogyakarta 5 Februari 1947.

Kota Ambon, Provinsi Maluku yang terpilih sebagai calon tuan rumah pada Kongres HMI XXIX tahun 2015, menjadi Sah setelah pada forum Pleno II PB HMI di Lebak Banten 2017, HMI Cabang Ambon kembali disahkan oleh presidium sidang sebagai Tuan Rumah Kongres HMI XXX tahun 2018.
Setelah keputusan tersebut, selaku kader tentu kita berharap Kota Ambon dapat menjadi cahaya baru yang bisa menerangi setiap derap langkah perjuangan himpunan ini sepanjang zaman.

Kota Ambon juga harus menjadi titik awal mengembalikan HMI pada khittah perjuangan yang sesungguhnya. Ibarat matahari yang terbit dari timur dengan senantiasa menunjukan konsistensinya, Kongres HMI XXX di Ambon manise harus diupayakan sebisa mungkin menjadi wahana konsolidasi kader se-nusantara guna memperkokoh komitmen perjuangan melalui organisasi ini untuk umat dan bangsa.

Selain itu juga, kongres di Ambon diharapkan dapat menjadi contoh berkongres yang baik bagi seluruh kader HMI se Nusantara. Serta apa yang menjadi kepentingan rakyat Maluku, lebih khusus kota Ambon dapat menjadi perhatian serius seluruh kader HMI untuk diperjuangkan dihadapan pemerintah pusat.

Agar pemerataan pembangunan demi terwujudnya kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia benar-benar terwujud.
Harus bisa dipahami bahwa Mision secret HMI bukan sebatas slogan utopis yang terpajang disetiap isi kepala kader dan setelah itu dilupakan seiring berjalannya waktu.

Akan tetapi sudah menjadi suatu tanggung jawab kemanusiaan setiap kader setelah selesai di bai'at agar terus berusaha untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Yakin Usaha Sampai..!! (Penulis adalah Ketua Umum Badan Koordinasi HMI Maluku dan Maluku Utara)
.

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02