iklan-banner-01
iklan-banner-02

Jokowi Bisa Dikalahkan

Presiden Jokowi.
LSI Denny JA rilis survei. Paling akhir. Survei dilakukan pasca-pendaftaran capres-cawapres. Hasilnya, Prabowo-Sandi 29,5%, Jokowi-Ma'ruf Amin 52,2%.

Sejumlah pihak menolak hasil survei itu. Denny JA dianggap ngarang. Maklum, lagi dagang. Hasil survei hanya barang jualan. Pertanyaannya: memang ada lembaga survei yang gak jualan? Duit darimana lembaga itu bisa melakukan survei? Sekali survei nasional butuh anggaran Rp 400-500 juta. Itu belum termasuk biaya promosi dan keuntungan.

Lembaga survei sudah jadi perusahaan. Seperti PT, hadir untuk jual jasa. Jasa survei dan konsultan politik. Namanya perusahaan, harus ada keuntungan. Itu halal dan syah, selama yang didukung itu sesuai nurani.
 
Memang lembaga-lembaga survei punya nurani? Nah, itulah persoalan moralnya. Yang penting untung, itu yang utama. Soal ideal atau tidak calonnya, itu nomor dua belas. Yang penting bisa bayar. Syukur menang, akan nambah track record lembaga. Bisa memenangkan sekian banyak bupati, walikota, gubernur, dan presiden. Harga makin mahal. Sekali pilkada bisa Rp 50 miliar biayanya. Menggiurkan bukan?.
 
Denny JA bohong! Survei Pilgub DKI 2017 salah. Survei di Pilgub Jabar dan Jateng 2018 keliru. Dasar cebong. Stop! Nanti dulu. Gak usah tinggi darah. Sabar. Jangan buru-buru ambil kesimpulan. Apalagi pakai emosi.
 
Setiap lembaga survei berhak salah. Termasuk LSI Denny JA. Juga yang lain.Tapi, apakah satu-dua kali salah, berarti semua hasil surveinya akan terus salah? Tidak! Pernah salah bukan berarti tak punya kapasitas dan integritas.
 
Soal rilis survei LSI Denny JA pasca-pendaftaran capres-cawapres, bisa salah, bisa benar. Tapi, jika dilihat dari record head to head Jokowi-Prabowo selama 2017-2018, hasilnya tak jauh beda dari survei Denny JA. Dengan catatan, keduanya belum branding setelah dapat pasangan masing-masing.
 
Kompetisi baru akan dimulai. Semua bisa berubah. Apalagi melihat dari sisi pasangan. Tak menyangka Jokowi ambil Ma'ruf Amin yang sudah sepuh. Dan Prabowo menggandeng Sandiaga Uno yang milenial. Ini salah satu variable yang memberi pengaruh suara secara dinamis.
 
Selain LSI Denny JA, ada rilis survei Alvara. Jokowi-Ma'ruf 53,63% dan Prabowo-Sandi 35,2%.
 
Ibarat taruhan, 52,2% versi LSI atau 53,63 versi Alvara itu modal Jokowi-Ma'ruf Amin. 29,5% atau 35,2 itu modal Prabowo-Sandi. Modal tak pernah utuh. Bisa bertambah, bisa juga berkurang. Bergantung bagaimana nanti permainannya.
 
Mestinya, hasil survei Denny JA dan Alvara jadi renungan dan modal evaluasi. Kalau ingin membantah, itu mudah. Lakukan survei, lalu tunjukkan hasilnya. Jangan lawan survei dengan polling. Satu survei, tetap lebih ilmiah dan tepercaya dari pada seribu polling. Sebaran responden survei lebih terukur dan representasinya lebih akurat.
 
Tapi, jika belum ada survei sendiri, terima dulu survei Denny JA dan Alvara. Bagi pendukung Prabowo-Sandi, hasil survei Denny JA dan Alvara mesti jadi motivasi untuk atur strategi bagaimana cara mengalahkan Jokowi.
 
52,2% versi LSI dan 53,63% ala survei Alvara, bagi Jokowi sebagai incumbent itu angka cukup lumayan. Belum lagi, incumbent diuntungkan dengan posisinya sebagai presiden dengan semua fasilitas yang "dikuasai" dan "bisa dipakai" untuk kampanye. Kok pakai fasilitas negara? Kebiasaan setiap incumbent memang begitu.
 
Meski dianggap cukup lumayan, tak berarti Jokowi-Ma'ruf Amin tak bisa dikalahkan. Semua masih terbuka untuk menang dan kalah. Namanya juga permainan. Apalagi masih ada waktu delapan bulan ke depan.
 
Setidaknya ada tiga faktor yang bisa mengancam kenyamanan elektabilitas Jokowi. Pertama, ada situasi bangsa yang tak terkendali. Dollar tembus Rp 17 ribu misalnya. Ekonomi pasti goyang. Stigma gagal akan muncul. Ekonomi akan jadi isu utama. Ini akan jadi gempuran yang dahsyat terhadap Jokowi sebagai incumbent.
 
Atau terjadi chaos yang tak terkendali. Jokowi akan dianggap gagal menjaga stabilitas nasional. Prabowo diuntungkan, karena latar belakang militer yang dianggap lebih terpercaya soal keamanan. Dua isu ini hampir pasti akan menjatuhkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf.
 
Kedua, Prabowo-Sandi tampil dengan gagasan wow. Harus ada efek wow. Kalau didengar telinga, rakyat langsung bilang: ini dia, ini yang kita tunggu-tunggu, gagasan magnitude, ini bisa memindah gelombang suara pemilih.
 
Ketiga, kecerdasan dan kegigihan kerja relawan yang bersifat massal dan massif. Menjangkau semua pemilih dan tepat sasaran.
 
Mengandalkan timses, akan kalah jauh dari incumbent. Kalah di jumlah tim, logistik, dan fasilitas. Incumbent bisa memanfaatkan aparat dan dana negara untuk mem-back up timnya. Prabowo-Sandi akan kesulitan menandingi.
 
Gerakan relawan yang intensif dan massif, seperti gerakan 212, 2019GantiPresiden, dan sebagainya, akan potensial untuk membantu timses. Ini akan sangat bergantung kepada kekuatan isu ganti presiden.
 
Semakin banyak terjadi gerakan massa yang dianggap terintimidasi, terpersekusi, dan digagalkan, sebagaimana yang terjadi baru-baru ini di Batam, Pekan Baru (Riau), Kalimantan Barat, dan Surabaya, akan sangat potensial menggerus suara Jokowi-Ma'ruf.
 
Demikian juga pelarangan Rocky Gerung dan Ratna Sarumpaet dalam diskusi di Bangka Belitung, mulai memunculkan stigma Jokowi represif. Bila isu ini dikelola dengan baik bisa jadi protes rakyat secara massal. Dan ini punya potensi terjadinya perpindahan suara dari Jokowi-Ma'ruf ke Prabowo-Sandi.
 
Satu di antara tiga faktor di atas jika terjadi, maka akan membuka peluang bagi Prabowo-Sandi untuk mengalahkan Jokowi-Ma'ruf di pilpres 2019. (PN-01/adp)
 
Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Berita terkait