iklan-banner-01
iklan-banner-02

“Hasil Riset Petruk-Gareng tentang Gaya Politik Humor”

Penulis : Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta)
Ada cerita lucu dari KH Yahya C. Staquf, teman-teman bisa membacanya di http://www.nu.or.id/post/read/102625/wuukaaaa. Ceritanya begini,

Seorang politisi dengan penuh semangat mendatangi perkampungan suku terasing untuk berkampanye. Di depan warga suku, politisi kita berpidato berapi-api.

“Saya datang ke sini, karena saya mencintai saudara-saudara semua!”

“Wukkaaa!!” Orang-orang berteriak serempak. Politisi kita semakin membara semangatnya.

“Dengan sepenuh hati akan saya perjuangkan kemakmuran!”

“Wukkaaa!!”

“Saya akan jamin pemberian makanan yang lezat dan bergizi!”

“Wukkaaa!!”

Itu sungguh kampanye yang gegap-gempita. Usai kampanye, politisi meninjau perkampungan diiringkan kepala suku. Ia pun tertarik pada bangunan besar tepat di tengah perkampungan itu.

“Bangunan apa itu?” Tanya politisi.

“Kandang kuda.” Jawab kepala suku.

“Kuda?”

“Ya. Kami menggunakan kuda untuk berburu, semua warga menyimpan kudanya di kandang itu.”

“Saya ingin melihat kuda-kudanya.”

“Oh, silahkan. Tapi hati-hati melangkah ya… sayang sepatu Bapak kalau sampai menginjak wuka.”

“Wuka…??” Pikir politisi heran.

Hahaha. Coba tertawalah, gak haram kok, hehehe. Begitulah cerita lucunya. Kalau Anda tidak tertawa berarti Anda kurang humoris, hihi. Upss, maaf, saya tidak bermaksud menjelekkan Anda loh, hehe. Tapi, benar juga sih, hihihi. Dari cerita itu, saya ingin mengatakan bahwa kalau hidup dianggap terlalu serius akan sangat berbahaya loh bagi kelangsungan sejagat-raya, wooooo sereemmm, hehehe. Okay, saya akan mengarah ke pembahasan yang lebih serius, tapi saya harap pembaca tulisan ini jangan terlalu serius ya, rileks dan tetap woles aja, hihihi.

Konon, Petruk dan Gareng sedang melakukan riset kecil-kecilan. Riset ini berawal dari hasil diskusi mereka di warung kopi sekitar sebulan yang lalu. Mereka menganggap bahwa orang-orang di dunia saat ini sudah terlalu serius dalam menghadapi kehidupan. Padahal menurut Plato dalam diktumnya mengatakan bahwa, “hidup ini harus dijalani sebagai permainan saja”, Shakespeare juga mengatakan, “hidup ini adalah mimpi”. Oleh sebab itu, Petruk dan Gareng berasumsi, jika hidup ini adalah permainan dan mimpi maka setiap kejadian yang terjadi hanyalah kumpulan gelak-tawa saja. Mereka juga berpandapat, pada akhirnya semua akan fana, karena itu kita harus ciptakan permainan saling bersaing, kalau tidak, kita akan terpisah dan berantakan, intinya persaingan membuat kita akan terlihat lebih kompak yang dipenuhi gelak-tawa. Coba Anda renungkan kalau tidak ada persaingan? Apakah kekompakan itu akan terwujud? Tentu saja tidak. Sebab itulah, persaingan harus ada, namun simpul yang mengikat persaingan ialah gelak-tawa sehingga semakin kompak.

Berdasarkan hasil diskusi dan asumsi itulah, mereka akhirnya melakukan penggeledahan sumber-sumber ilmiah serta data empirik. Mereka menemukan ada satu fakta terkait kejadian Pilpres, yang sangat lucu, yang terjadi di Amerika Serikat pada beberapa tahun yang lalu. Fakta itu bisa pembaca lihat di https://www.youtube.com/watch?v=TCG1PD4cirE berjudul “crazy”. Dalam video berdurasi 50 detik terlihat bahwa partai Republican di Amerika mencoba mengkritik pemerintah Obama dari partai Democrat. Video itu fokus pada klaim bahwa sebagian politisi dari partai Democrat mulai menjauhkan diri dari Obama. Terlihat juga di dalam video bahwa gambar kartun, serta foto dari sejumlah politisi Democrat disajikan dengan cara yang aneh. Apakah video itu sesuatu hal yang lucu? Pikir Petruk dan Gareng. Bisa dikatakan lucu apabila tidak mengandung unsur-unsur provokatif. Kejadian yang sama juga pernah terjadi di Indonesia, dari salah-satu media yang memuat beberapa gambar terkait cawapres dari kedua paslon, yang kontennya mengandung unsur-unsur provokatif, dan intinya sangat tidak lucu. Sebab itulah, Petruk dan Gareng merujuk pada pendapat komedian ternama yaitu Steve Martin bahwa, “comedy is the art of making people laugh without making them puke”, artinya komedi adalah seni membuat orang tertawa tanpa membuat mereka muntah.

Akhirnya Petruk dan Gareng memutuskan untuk meneliti gaya politik humoris para politisi saat ini. Mereka berpendapat bahwa politik adalah permainan yang sangat lucu. Namun, sejatinya permainan politik adalah tidak main-main. Maksudnya, permainan politik yang tidak main-main ialah selalu menjaga masyarakat sipil agar tetap beradab. Karena politik adalah permainan yang tidak main-main, maka riset ini menemukan bahwa 95% dari permainan para politisi hanyalah main-main saja dan 5%-nya yaitu sok serius. Pertanyaan mereka berikutnya ialah bagaimana dampak dari permainan gaya politik humoris ini bagi masyarakat? Mereka menemukan bahwa akan tercipta interaksi sosial dan budaya yang semakin baik di tengah-tengah masyarakat. Hal ini berdasarkan temuan mereka bahwa masyarakat menganggap karena ajang Pilpres berlangsung 5 tahun sekali maka jangan dianggap terlalu serius sebab 5 tahun lagi masih ada Pilpres.

Berdasarkan hasil riset itu, maka mereka menyarankan agar gaya politik humoris harus di aplikasikan oleh para politisi di tanah air. Mereka mengacu pada pendapat Martin Seligman, bapak psikologi positif, bahwa humor dapat meningkatkan kesejahteraan (well-being) seseorang. Humor juga dapat membantu seseorang mengatasi rasa sakit. Bahkan salah-satu film Hollywood membuat salah-satu film Patch Adams tentang manfaat humor dalam pendekatan klinis. Humor juga dapat meningkatkan kreativitas seseorang, serta memperlancar interaksi sosial dan budaya di tengah-tengah masyarakat. Intinya, hasil riset ini ingin mengatakan bahwa, hidup ini hanyalah permainan dan karena itulah berpolitik pun merupakan permainan yang lucu dipenuhi gelak-tawa, maka marilah tertawa bersama semesta berbangsa-bernegara. (**)

Berita terkait