iklan-banner-01
iklan-banner-02

Gerindra & PDIP Ditantang Membangun Poros Baru di Pilkada Maluku

Hampir dipastikan semua Partai Politik telah memiliki jagoannya masing-masing. Malam ini (24/11/2017) Partai Demokrat resmi memastikan dukungan politiknya kepada Andreas Rentanubun yg juga adalah bakal calon Wakil Gubernur dari sang Petahana, Said Assagaf. Itu berarti, pilkada Maluku hanya menyisahkan dua rekomendasi (PDIP & Gerindra) plus Partai Persatuan Pembangunan yg memiliki satu kursi di parlemen.
Abubakar Solissa
Pasangan Said Assagaf-Andreas Rentanubun sudah hampir pasti didukung oleh Partai Golkar, PKS dan Demokrat. Sedangkan Murad Ismail, meskipun belum punya pasangan calon Wakil Gubernur, tapi jenderal berbintang dua itu sudah mengantongi lima rekomendasi partai politik, yakni, Nasdem, Hanura, PKB, PKPI dan PAN.

Berdasarkan dukungan partai politik yang ada, maka kemungkinan besar konfigurasi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku hanya mengukutsertakan dua pasangan calon yang diatur menurut ketentuan UU Nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu. Adapun pasangan yang maju lewat jalur Independent, nantinya akan diuji lewat mekanisme verifikasi administrasi dan faktual yang prosesnya agak ketat dan cukup berat. Butuh perjuangan ekstra keras baru bisa memastikan tempat di panggung politik Maluku 2018 bisa aman.

PDIP sebagai partai pemenang pemilu di Maluku diperhadapkan pada dua pilihan yang cukup dilematis. Pilihan pertama, PDIP ikut dalam arus besar koalisi yg sudah terbentuk, yang dipimpin oleh Partai Golkar (Said-Andre) atau ikut mendukung Murad Ismail yang di pimpin Partai Nasdem dan Hanura. Kedua pilihan ini tentunya memiliki konsekuensi politik buat PDIP. Partai besutan Megawati ini berpotensi akan kehilangan momentumnya sebagai partai petarung (fighter party) yang dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini selalu menampilkan kadernya sebagai Calon Gubernur. Dan yang paling ekstrim, partai ini akan kehilangan basis ideologisnya di Pileg 2019 kalau memutuskan akan memilih salah satu, karena resistensi di akar rumput sudah pasti akan menolak keputusan partai.

Pilihan kedua, PDIP harus mengambil inisiatif untuk me-rekomunikasi politik dengan Gerindra dan membentuk poros baru sebagai jalan tengah untuk menjaga basis ideologis PDIP dan memastikan partai moncong putih itu sebagai partai penguasa di Maluku. PDIP tidak punya pilihan lain untuk berkoalisi selain menjajaki komunikasi politik dengan Gerindra yang memiliki 5 kursi di parlemen. Meskipun ada PPP yang secara resmi belum memutuskan arah politiknya di pilkada Maluku, tapi kehadiran PPP tidak cukup menggenapi angka minimal dukungan kursi di DPRD sebagai syarat konstitusional, yakni 9 kursi. PDIP memiliki 7 kursi dan PPP 1 kursi (8 kursi).

Kedua partai ini sebenarnya memiliki kesempatan politik (politic opportunity) untuk membangun poros baru dengan menghadirkan figur-figur potensial yang juga merupakan kaders kedua partai. Barnabas Orno (Bupati MBD), Hendrik Lewerissa (Ketua DPD Gerindra) dan Tagop Soulisa (Bupati Buru Selatan) adalah tokoh politik Maluku yang cukup memiliki pengaruh (influence) di akar rumput, ditambah dengan loyalitas dan fanatisme simpatisan partai yang sangat besar, bisa menjadi amunisi politik untuk kedua partai besar ini bertarung di pilkada Maluku. (***)

Penulis: Abubakar Solissa, Deputy Bidang Kajian & Politik Young Leaders Institute for Development

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02