iklan-banner-01
iklan-banner-02

Dinamika Politik di Sosmed Memunculkan Sindrom Kecemasan Publik?

Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy
Setelah keran demokrasi dibuka sejak reformasi 1998 silam, maka saat ini kita melihat bahwa masyarakat kita mulai antusias dalam mewarnai dinamika demokrasi yang sedang terjadi belakangan ini.

Terlihat dari tingkat melek masyarakat kita saat menilai dinamika politik di tanah air, tanpa terkecuali didalamnya yaitu para generasi milenial. Melalui aplikasi sosial media (sosmed) seperti whatsapp, line, facebook, instagram, dan twitter membuat para pemuda milenial mau tidak mau harus mengkonsumsi berita-berita politik yang ada di dalam sosmed tersebut. Akibat dari pola konsumsi itu, maka dengan sendirinya melahirkan perbedaan pandangan di kalangan anak muda milenial karena arus informasi yang diperoleh pun bereda-beda pula. Mencermati hal tersebut, menurut hemat penulis bahwa dinamika itu sangat positif dan wajar terjadi. Karena dengan adanya dinamika itu menunjukkan bahwa situasi masyarakat kita sedang berproses menuju masyarakat yang rasional. Akan tetapi, kita harus berhati-hati agar dinamika itu jangan sampai berujung pada chaos yang merusak tatanan cosmos yang sudah ada. Penghindaran dari chaos ini harus ditanggapi serius oleh semua pihak. 

Meskipun sosmed sangat memiliki andil dalam mewarnai dinamika dari demokrasi politik di tanah air, namun kehadiran sosmed pun bisa mentelurkan dampak positif maupun negatif bagi para penggunanya. Akibat dari dampak negatif dari sosmed ini, maka majalah the economist pada tahun 2017 yang lalu akhirnya mengangkat topik mengenai “socmed’s the threat to democracy” (ancaman sosmed pada demokrasi). Ibarat dua sisi koin, ada baiknya tapi ada buruknya dari kehadiran sosmed. Akan tetapi, kita harus optimis untuk menonjolkan sisi baiknya dari sosmed dan mengikis sisi buruknya. 

Filsuf Jerman, Jurgen Habermas juga pernah bilang bahwa konektifitas sosmed memang bisa mengganggu penguasa otoriter tapi pada saat yang sama juga bisa mengikis kepercayaan publik pada demokrasi. Sosmed memungkinkan suara-suara kritis saling terhubung serta lebih vokal di dengar oleh semua kalangan, namun di sisi lain juga menjadi ancaman demokrasi dan kemajemukan. Terlihat dari hampir banyaknya ujaran kebencian yang terjadi di sosmed belakangan ini, yang menurut Emha Ainun Najib (Cak Nun) bahwa saat ini kita sedang menuju dinamika kehidupan antara kebenaran melawan kebenaran. Melalui narasi-narasi kebencian (kebenaran versus kebenaran) di sosmed, membuat para pengguna mulai terhasut untuk ikut terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kepentingannya masing-masing. Hal ini sangat wajar terjadi sebab demokrasi pun menginginkannya. Namun, kejadian ini akan sangat merusak tatanan cosmos yang telah ada yaitu harapan untuk hidup lebih harmonis.  

Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa sosmed memiliki dampak negatifnya. Salah-satu dampak negatif dari sosmed yaitu membuat para penggunanya menjadi cemas akibat dari overdosis dalam mengkonsumsi berita-berita politik “negatif”. Hasil survei oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) dengan menggunakan instrumen Tylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) pada 700 warga DKI Jakarta menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta mengalami kecemasan hampir 62,5% saat mengetahui informasi-informasi politik di sosmed. Menariknya, terdapat 107 partisipan dengan 85 diantaranya berumur 19 sampai 27 tahun yang merupakan generasi milenial pun ikut di survei dalam penelitian tersebut. Hasil survei juga menunjukkan bahwa akibat dari dinamika politik di sosmed yang berujung pada konflik horizontal selama masa Pilkada Jakarta 2017 lalu menimbulkan kecemasan partisipan kehilangan teman sebesar 66,7%. Hasil penelitian survei ini harus dijadikan shock therapy bagi kita semua bahwa dalam menggunakan sosmed harus lebih positif agar tidak mengalami sindrom kecemasan. Beberapa ahli psikolog seperti Harold Leitenberg mengingatkan bahwa kecemasan dengan tingkat yang ekstrim sangat berbahaya bagi kesehatan biologis dan mental. Bahkan menurut Warren H. Jones, Jayne Rose, dan Daniel Russell pun menilai bahwa kecemasan dapat membuat seorang pemuda akan merasakan kesepian yang berkepanjangan. Padahal kesepian dengan tingkat yang ekstrim pun dapat membuat seorang pemuda nekat mengambil keputusan untuk bunuh diri, yang hal ini merupakan bagian dari social anxiety. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis ingin mengingatkan pada diri kita semua agar lebih berhati-hati saat mengkonsumsi berita-berita yang bernuansa politik “negatif” di berbagai media sosial. 

Ulasan diatas tidak berarti bahwa penulis sangat pesimis dengan hadirnya sosmed. Namun, penulis ingin mengungkapkan bahwa sosmed hanyalah alat dari demokrasi. Yang mana, letak esensi dari demokrasi itu ialah keharmonisan publik. Artinya, hadirnya sosmed pun harus mendukung esensi dari nilai-nilai demokrasi itu sendiri, bukan untuk merusaknya. Karena menurut hemat penulis bahwa pijakan dari demokrasi ialah nilai-nilai harmony, maka sosmed pun harus memiliki nilai-nilai harmony pula, terutama bagi para penggunanya. Akan tetapi, jika sosmed tidak diwarnai oleh nilai-nilai harmony, maka yang terjadi adalah chaos yang berkepanjangan, dan inilah yang harus kita hindarkan. (***)

Penulis: Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy, Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Berita terkait