iklan-banner-01
iklan-banner-02

Dicari Pemimpin Yang Merakyat

Animasi Pilkada 2018
Catatan ini hanyalah penegasan tentang kondisi daerah kita bernama Maluku dengan harapan kedepan yang lebih baik. Berangkat dari berbagai kemirisan yang menganga lebar di ruang-ruang publik belakangan ini, serasa statemen pemimpin yang merakyat sudah menjadi sebuah keniscayan yang patut diperjuangkan.

Kata Maluku jangan sampai menjadi pisah dan bermakna “malu aku”, akibat gejolak sosial yang terus terdengar, terlihat dan terbaca.  Maluku harusnya tetap bersumber  dari  kata Al-mulk (negeri raja-raja). Negeri yang tersohor sejak ratusan abad silam.   Membangkitkan dan memajukan Maluku adalah kebutuhan kini, nanti dan selamanya,  maka pemimpin yang  merakyat adalah hal mutlak yang harus terwujud.

Rakyatlah penentu semua itu. Pemimpin merakyat itulah pilihan, karena dalam kehidupan rakyatlah terdapat sertumpuk lara dan ria sebuah negeri. Siapa pemimpin yang merakyat? Merakyat yang disandang sang pemimpin wajib  diketahui  oleh rakyat, agar tidak menimbulkan kebablasan pola pikir, karena derasnya pencitraan calon pemimpin yang sedang berproses menuju tahta kepemimpinan.

Merakyat itu, kata merentang sepanjang waktu, satu jejak yang yang tak menjarak dengan kenyataan pribadi seseorang. Merakyat itu ibarat membaca sajak berirama yang  berulang dengan semangat dan jika diteaterikalkan dilakukan penuh kegairahan. Merakyat adalah sifat personal yang hidup dari dalam.

Merakyat sejatinya bukanlah peniruan, ia tak butuh uang banyak untuk disebut merakyat, bahkan tak butuh uang sepeserpun. Uang dalam kata merakyat jikapun ada, hanya digunakan untuk membeli ‘kopi dan gula’ sebagai sarana memulai percakapan yang berkwalitas. Merakyat bukan sesuatu yang dilakukan tiba tiba, bukan kata yang diucap terbata bata.

Merakyat, kata suci bertuah yang diperebutkan dalam arena  demokratisasi kepemimpinan kekinian. Memang demokrasi meletakkan rakyat sebagai dasar tempat tumbuh sekaligus pusat pembicaraan; suara dari rakyat menjadi penentu segalanya. Tetapi kata bertuah bukanlah suatu yang serta merta diakui, merakayat selanjutnya adalah berpihak total kepada suara rakyat.

Tak heran jika kini rakyat selalu disanjung menjelang pesta-pesta demokrasi. Mereka yang menyanjung kemudian menyebut dirinya merakyat.  Padahal, kata merakyat harus dinilai serba hati hati, sebab sisi primordial pada manusia paling mudah disentuh dan dikuasai.

Merakyat bukan pula sesuatu yang pasti baik, suatu yang mungkin berkebalikan. Merakyat dalam dunia politik harus dilihat dalam dua bilik yang samar; ruang antara dunia nyata dan dunia citra.

Pemimpin yang merakyat, kedatangannya selalu dirindukan, kepergiannya selalu diratapi. So pasti, pemimpin yang merakyat memiliki “maknet” dalam dirinya, sehingga rakyat sukar melupakannya.  Maknet itu biasanya berupa kebijakan-kebijakan yang pernah dilakukan sebelumnya. Atau pun punya kenangan masa lalu bersama rakyat. Dia besar dan tumbuh dari rahim rakyat dan pernah hidup merasakan kepapahan dan  kemelaratan.

Pemimpin yang marakyat memiliki dan  mewarisi sikap adiluhung. Sebuah falsafah hidup yang yang jika digenggam dengan tekad kuat akan membawa kita pada akhir yang selamat, yaitu ajaran tentang bagaimana seorang pemimpin harus bersikap semata-mata untuk rakyat demi mengharap ridha penguasa alam semesta.

Dia menganut trilogi kepemimpinan “Ing Ngarsa Sing Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.  Jika diartikan secara sedeharha ke dalam bahasa keseharian kita bermakna “di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan”. Begitulah sejatinya pemimpin di  daerah ini.

Pemimpin dengan karekter merakyat bertugas untuk mengantarkan rakyat dengan selamat mencapai kesejahteraan. Makanya,  pemimpin bukanlah bagian yang terpisahkan dari rakyatnya. Pemimpin adalah rakyat itu sendiri, bagian yang melekat sebagai kesatuan yang utuh.

Kini kata merakyat sering diumbar bebas di ruang-ruang publik. “Katong merakyat, berjuang untuk rakyat dan macam ragam kalimat berisi rakyat”. Padahal, merakyat bukan sifat yang dibuat-buat, seakan menjadi pekerjaan baru dengan cara berpura-pura dan gampang terucap begitu saja. Marakyat adalah sikap keberpihakan yang sudah terbaca sebelumnya, bukan tiba masa tiba akal.  Maka hati-hatilah dengan model sikap prematur ini, karena sikap ini tepatnya disebut  pencitraan bukan merakyat.

Tak ada begawan politik lahir dari kepura – puraan merakyat. Memang tentang demokrasi itu, Yudi Latif menjelaskan, bahwa dalam demokrasi, sebenarnya ada kemungkinan sistem tersebut malah sekaligus sebagai sarana memusuhi rakyat. Demokrasi yang pada mulanya menolak aristokrasi malah pelan pelan dikuasai oleh para ‘aristokrat’ baru.  “Bangsawan politik” muncul.

Menjadikan demokrasi sebagai jalan menghina masyarakat biasa. Petani, nelayan dan orang – orang miskin menjadi kelompok yang sering dijenguk untuk dikuatkan, dijadikan sarana mencapai kekusaan, tetapi dilupakan kemudian. Kerena itu, merakyat sebenarnya adalah soal menjelma menyerupai individu – individu yang berebeda sekaligus menyerupai keseluruhan dalam jiwa kerakyatan.

Demokratisasi kepemimpinan seharusnya meninggalkan kepura – puraan. Meninggalkan kurangnya kualitas percakapan, menggelindingkan gagasan – gagasan ditengah rakyat, bahwa dalam demokrasi tak ada yang final dan arena itu kualitas percakapan ‘argumentasi’ harus selalu ada. Dan memang soal pura pura merakayat adalah tanda kefasihan menguasai, pergaulan yang tiba tiba, pergaulan minus etika.

Belajarlah untuk mengenal siapa pemimpin yang kita hendaki untuk Maluku yang lebih baik. Kita tak harus mencari sosok tokoh sekelas Fernando Armindo Lugo Méndez (Presiden Paraguay) yang dikenal dengan sebutan “pastor kaum papa” yang sangat getol membela kaum tertindas itu. Kita pula tak harus mencari sosok sekelas Hugo Rafael Chávez Frías (Presiden Venezuela) yang menggunakan kekuasannya untuk memberdayakan kaum miskin. Tapi kita butuh kepastian penglihatan dan intusi dalam memilih pemimpin yang baik melalui cermin yang terpampang saat ini.

Pemimpin yang berpura-pura merakyat akan menjadikan visi dan misi yang diusung laksana kembang bougenvil yang terlihat cantik dan elok warnanya, namun berduri baginya untuk  diaktualisasikan. Maka lihatlah sosok, kapasitas dan prilaku  sang calon pemimpin, karena itulah cermin yang tidak pernah menipu untuk memantulkan sikap kepemimpinan yang kita inginkan untuk Maluku yang lebih baik. Semoga !!!

Penulis : Dhino Pattisahusiwa (Mantan Jurnalis Maluku)



Berita terkait