iklan-banner-01
iklan-banner-02

Orang Ambon Wajar Euphoria Piala Dunia

Giovanni Christiaan van Bronckhorst,Simon Melkianus Tahamata, Nigel de Jong dan sejumlah pemain bola berdarah Maluku yang sukses sebagai pemain bola dunia di Negeri Belanda.
Ketika Timnas Brasil menang dalam laga pertandingan melawan Mexico, jalanan kota Ambon dipenuhi aksi pawai para fans timnas berjuluk Seleção. Spontan banyak yang nyinyir dan heran akan reaksi orang di kota ini.

Tapi bagi sebagian orang, euphoria warga Kota Ambon akan pesta Piala Dunia, sudah menjadi hal yang mutlak. Beberapa dekade terakhir, Piala Dunia memang selalu rasa Ambon dan Afrika. Kok bisa? Alasannya sederhana, orang Ambon wajib larut dan bersuka ria, kerena cinta pada olahraga sepak bola dan juga karena sejarah.

Piala dunia 2018 di Rusia, mungkin tidak semeria Piala Dunia tahun 2014 silam. Ketika itu Timnas Belanda menjadi kontestan dan hampir separuh warga Ambon ngefans sama tim orange.

Apakah hanya kerena animo dan hoby warga kota Ambon terhadap olahraga bola kaki? Jawabnya bukan sesepele itu. Sejarah bola dunia telah membuat warga di kota ini begitu getol dan menggandrungi bola kaki.

Orang Ambon itu telah melahirkan banyak generasi yang gemilang di pentas bola kaki skala dunia dan nasional. Ambon mungkin setara dengan Afrika yang juga melahirkan lagenda pemain dunia.

Di piala dunia kali ini, kita terkejut dengan tampilnya Kylian Mbappe yang membela Timnas Prancis. Pemain keturunan Kamerun dan Aljazair itu, menjadi sorotan dunia.
Keberadaan Mbappe saat ini, teringkat kita pada Piala Dunia tahun 2014 silam, ketika munculnya Giovanni Christiaan van Bronckhorst membela timnas Belanda.

Van Bronckhorst adalah salah satu dari beberapa pemain dalam tim nasional Belanda keturunan Indonesia. Ayahnya, Victor van Bronckhorst adalah seorang Indo sementara ibunya Fransien Sapulette berasal dari Ullath, Saparua, Maluku Tengah, Maluku.

Gio lahir di Rotterdam, Belanda, 5 Februari 1975 dan saat ini menjadi manajer klub Feyenoord. Selama karier klubnya, Van Bronckhorst bermain untuk RKC Waalwijk (1993-1994), Feyenoord (1994-1998), Rangers (1998-2001), Arsenal (2001-03), FC Barcelona (2003-07), dan bermain lagi di Feyenoord (2007-10).

Gio adalah pemain penting dalam kemenangan Barcelona di Liga Champions UEFA 2005–06, berada di starting line-up final Liga Champions UEFA 2006 melawan klub lamanya Arsenal, setelah bermain di setiap pertandingan Liga Champions untuk Barcelona musim itu.

Selain Gio, sejarah bola Belanda juga mengisahkan seorang pemain asal Maluku Simon Melkianus Tahamata. Simon lahir di Vught, 26 Mei 1956. Pernah bermain untuk klub Belanda dan Belgia. Ia telah bertanding 22 kali untuk TimNas Belanda, dan mencetak gol 2 kali.

Tahamata bermain 4 musim untuk Ajax Amsterdam, dimulai pada tanggal 24 Oktober 1976 melawan FC Utrecht dan mencatat kemenangan 7-0 untuk AFC Ajax, sebelum pindah ke Belgia dan bermain untuk Standard Liege. Dengan klub ini, ia menjadi juara nasional pada tahun 1982 dan 1983. Pada tahun 1984, ia kembali ke Belanda dan bermain di Feyenoord.

Pada tahun 1987, ia mengikuti kompetisi Belgia lagi, kali ini merumput di Beerschot dan Germinal Ekeren. Tahamata mengakhiri kariernya sebagai pemain bola aktif pada tahun 1996. Sekarang, ia pelatih yunior di Amsterdamsche Football Club Ajax.

Selian Giovanni, ada juga Nigel de Jong. Dia lahir di Amsterdam, Belanda, 10 September 1984 merupakan seorang pemain sepak bola berkebangsaan Belanda keturunan Maluku yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Saat ini, ia bermain untuk AC Milan dan juga bermain untuk tim nasional Belanda.

Ia telah mengumpulkan reputasi sebagai pemain agresif dan penuh semangat dalam penampilannya, reputasi yang telah membuatnya mendapatkan julukan sebagai "The Terrier" dan "mesin pemotong rumput". Dia pindah ke klub Italia Milan pada bulan Agustus 2012.

Ia menuai kontroversi setelah mematahkan kaki pemain Newcastle United Hatem Ben Arfa dengan sebuah tekel keras. Akibatnya, pelatih timnas Belanda Bert van Marwijk memutuskan untuk tidak memanggilnya untuk Kualifikasi Kejuaraan Sepak Bola Eropa UEFA 2012.

Bukan saja de Jong ada juga Mark Van Bommel. Mark van Bommel dipercaya memiliki garis keturunan Indonesia dari ibunya yang berasal dari Maluku. Gelandang bertahan ini pernah berkarier di Spanyol (Barcelona), Jerman (Bayern Munich), Italia (AC Milan), sebelum akhirnya pensiun di klub yang membesarkan namanya, PSV Eindhoven, di akhir musim ini.

Karier terakhirnya di timnas Belanda adalah di Euro 2012 ketika ia ditunjuk pelatih Oranje yang juga mertuanya, Bert van Marwijk, menjadi kapten. Sayang di bawah kepemimpinannya, Belanda harus tersisih dini di fase grup. Sejak debutnya pada 2000 silam, ia sanggup tampil sebanyak 79 kali membela timnas.

Deretan pemain Timnas Belanda juga terdapat nama Demy de Zeeuw. Demy juga salah satu pemain timnas Belanda yang memiliki darah Maluku dari ibunya. De Zeeuw saat ini bermain di Anderlecht sebagai pemain pinjaman dari Spartak Moscow.

Sejak tahun 2007, De Zeeuw mulai kerap dipanggil ke timnas karena tampil gemilang sebagai gelandang bertahan di AZ Alkmaar dan juga di Ajax Amsterdam. Sayang, kini ia sudah jarang masuk ke skuat timnas dan baru memiliki 27 caps.

Dan lagi ada pula Denny Landzat. Seperti pemain lain yang telah disebutkan di atas, Denny Landzaat menjadi pemain kesekian yang memiliki garis keturunan dari Maluku. Landzaat memiliki ibu berdarah Maluku dari keluarga besar 14 anak, sedangkan ayahnya berasal dari Belanda.

Meski sudah gantung sepatu, pemain yang berposisi sebagai gelandang bertahan ini sudah banyak tampil di Eredivisie Belanda dengan memperkuat Willem II, AZ, hingga Feyenoord, dan akhirnya pensiun di FC Twente pernah mencicipi karier di Wigan Athetic. Caps-nya bersama Oranje mencapai 38 kali dengan torehan satu gol.

Masih ada lagi pemain asal Maluku. Rudolphus 'Roy' Makaay menjadi salah satu pemain keturunan Indonesia yang sanggup menjadi pencetak gol tercepat sepanjang sejarah Liga Champions. Makaay mencatatkan hal tersebut di detik ke-10 saat Bayern Munich membobol gawang Real Madrid pada tahun 2007.

Ibu Makaay adalah orang asli Maluku. Pemain yang pensiun pada tahun 2010 ini memang memiliki rekor ciamik di klub, 526 penampilan dengan torehan 256 gol, bersama tim seperti Bayern, Deportivo La Coruna, hingga Feyenoord. Namun, torehan tersebut sedikit berbeda di level timnas di mana ia 'hanya' sanggup mencetak enam gol dari 43 caps.

Jadi pesta Piala Dunia, bukan baru kali ini menjadi hal yang membuat orang Ambon seperti gila. Jangan heran jika ruang-ruang publik di medsos selalu memunculkan bullyan para penggemar tim-tim papan atas yang kini tersungkur di Piala Dunia 2018.

Hanya saja di ajang Piala Dunia 2018, tidak ada rasa Ambon disana. Selain Timnas Belanda yang tidak lolos, juga pemaian keturunan Ambon kini tak lagi terdengar di pentas dunia, setelah pensiunnya Gio, Simon de Jong cs.
Semoga ada penerus Gio cs di pentas bergengsi itu.

(Dhino Pattisahusiwa)

 

Berita terkait