iklan-banner-01
iklan-banner-02

Mengapa Sepakbola Maluku Terpuruk?

PAMANAWANews, AMBON ----- Penduduk di Maluku sebanyak 2 Juta jiwa lebih, tersebar di 11 Kabupaten dan Kota. Meliputi 9 Kabupaten dan 2 Kotamadya.
Rony Samloy, Pengamat Sepakbola juga Wartawan Olahraga di Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Masing-masing, Kabupaten Maluku Tengah, Buru, Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya, Kabupaten Buru Selatan, Kota Ambon dan Kota Tual.

Untuk mendapatkan 22 orang pemain sepakbola yang memiliki skill atau kemampuan rata-rata, justru KONI maupun persatuan sepakbola di Provinsi yang kental dengan budaya pela dan gandongnya itu, masih sangat sulit melakukannya.

Padahal, Maluku punya segudang talenta pesepakbola handal dan ternama, yang merumput nyaris di seluruh club sepakbola di Indonesia.

Begitu apesnya, nasib persatuan sepakbola di provinsi berjuluk seribu pulau tersebut. Punya segudang pesepakbola ternama, bukan hanya dikontrak sejumlah club sepakbola di tanah air juga termasuk membela Timnas, bahkan pesepakbola berdarah Maluku, ada yang "merumput" hingga di negeri Kincir Angin (Belanda).

Sialnya, Persatuan Sepakbola Ambon (PSA) atau Persatuan Sepakbola Maluku (PSM), sampai sekarang, antara hidup tak mau, mati pun tidak! Dunia sepakbola Maluku, masih saja terpuruk.

Pasalnya, hingga kini, belum ada yang menggaransikan Maluku bisa menunjukan taringnya, di kancah sepakbola level nasional.

Posisi PSA atau PSM, masih berkutat di Liga III Indonesia. Masyarakat Maluku boleh dibilang rata-rata maniak alias gila bola. Dibalik itu, keinginan untuk menyaksikan PSA atau PSM berlaga di Liga Utama Indonesia sampai detik ini, hanya sebatas mimpi belaka.

Lantas mengapa PSA atau PSM belum bisa going to Liga Utama Indonesia?

Menyangkut hal ini, pengamat sepakbola juga wartawan olahraga, Rony Samloy, yang dimintai pendapatnya oleh pamanawanews.com, mengutarakan beberapa alasan yang dinilainya sebagai substansi kelemahan mendasar sehingga menyebabkan, PSA atau PSM, belum bisa berlaga di turnamen Liga Utama Indonesia.

"Ada banyak hal. Pertama, soal pendanaan. Di Maluku tak ada perusaahan besar seperti freeport di Papua dan di Jawa," ujar Rony Samloy, di Kota Ambon, Maluku, Kamis, (23/11/2017).

Kedua, jarang ada kompetisi. Ketiga, tak ada stadion yang layak. "Karena stadion Mandala Remaja di Karang Panjang Kota Ambon itu, dikelola Biro Perlengkapan Setda Provinsi Maluku," lanjutnya.

Keempat, pengurus tidak ada yang solid dan hanya mencari sesuatu di bola. "Padahal, sepakbola butuh figur rela berkorban tanpa pamrih," tegasnya.

Kelima, pimpinan daerah entah gubernur, bupati maupun wali kota di Maluku, umumnya bukan penggila bola.

"Mau bangkitkan sepakbola Ambon atau Maluku, seluruh stakeholders harus duduk bersama dan komitmen," tandasnya.

Lantas bagaimana mengorganisir pesepakbola berdarah Maluku yang merumput di sejumlah club di Indonesia?

"Ya tergantung ada keinginan atau tidak dari seluruh stakeholders di daerah ini (Maluku), apakah mereka punya niat untuk membangkitkan sepakbola Maluku atau tidak? PSA atau PSM bisa menunjukan taring di Liga Utama Indonesia, semua itu, kita kembalikan kepada para stakeholders di Maluku," pungkasnya. (PN-13)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02