iklan-banner-01
iklan-banner-02

Alwi Ode, Juri Panjat Tebing Asian Games 2018 dari Maluku

Alwi Ode, Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Provinsi Maluku.
PAMANAWANews, AMBON- Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Provinsi Maluku, Alwi Ode, ditunjuk menjadi salah satu juri di ajang Asian Games 2018. Alwi didapuk menjadi Route Judge atau Juri untuk Kategori Lead (perintisan) di ajang olahraga paling bergengsi di level benua Asia tersebut, mulai 18 Agustus hingga 2 September 2018.

Ayah dua putri yang sehari-hari bekerja sebagai guru matematika di SMA Negeri 4 Ambon itu, bukan kali pertama menjadi juri panjat tebing di level tertinggi. Ia sebelumnya pernah menjadi Juri untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Kelompok Umur XII di Sumatera Barat tahun 2017, dan Indonesia Road di Cikole Jawa Barat tahun 2017.

Untuk level provinsi, Alwi berpengalaman menjadi juri di Brimob Maluku Climbing Competition tahun 2016, serta Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Panjat Tebing Maluku tahun 2017. “Saya bisa menjadi juri seperti ini setelah FPTI Maluku mengirim saya mengikuti kursus Juri Nasional di Jogjakarta tahun 2016. Untuk sampai ke level ini juga tidak gampang karena harus melewati proses seleksi yang ketat,” katanya.

Dikatakannya, jumlah juri panjat tebing di Asian Games 2018 terdiri dari 22 Juri Indonesia, 1 Juri Malaysia, dan 5 Juri dari berbagai negara di Asia. Sebanyak 4 Juri Senior dari Indonesia juga turut membantu mengawasi jalannya lomba di Asian Games 2018 yang berlangsung di venue Jakabaring, Sport City, Palembang.

Mendapat kepercayaan sebagai Juri Asian Games 2018, tentu bukan saja menjadi kebanggaan Alwi, tapi juga bagi daerah Maluku. Meskipun bergelut dengan aktivitas olahraga yang menantang adrenalin, Alwi tetap menghabiskan studinya dengan baik. Dia menghabiskan kuliah S1-nya di STAIN Ambon tahun 2006, sementara gelar magisternya ia raih di Universitas Kanjuruhan Malang tahun 2013.

“Saat kuliah di STAIN (sekarang IAIN Ambon), saya aktif di organisasi mahasiswa pecinta alam, Mahipala, dan sempat menjadi ketua umum,” ujarnya.

Dari dunia pecinta alam inilah, Alwi menjadi akrab dengan aktivitas panjat tebing. Ia pernah menjadi atlit panjat tebing mewakili Provinsi Maluku untuk mengikuti Kejurnas tahun 2002 di Makassar. 

“Saat mengikuti Kejurnas di Makassar, saat itu Ambon masih belum kondusif. Kami berangkat secara swadaya dengan banyak keterbatasan, tanpa ada bantuan pemerintah. Beruntung banyak senior-senior di pecinta alam yang mensuport kami,” kenangnya.

Sementara itu, Ketua Pengprov FPTI Maluku, M. Azis Tunny, mengatakan, banyak sekali potensi panjat tebing yang ada di Maluku. Namun pihaknya terkendala mengembangkan olahraga panjat tebing karena tidak memiliki sarana-prasarana dinding panjat (wall climbing) di daerah yang sesuai standarisasi FPTI. 

Akhirnya, jika ada event pihaknya selalu meminjam wall climbing milik Brimob Polda Maluku, Yonif 733 Raider, Universitas Pattimura, atau milik kampus IAIN Ambon.

“Kami minta agar Pemprov Maluku melalui KONI untuk kedepan dapat membangun wall climbing sesuai standarisasi FPTI. Banyak sekali potensi atlet maupun juri yang dimiliki daerah ini, hanya saja pembinaan kita terkendala karena belum memiliki infrstruktur olahraganya,” katanya. (PN-07)

Berita terkait