iklan-banner-01
iklan-banner-02

Warga SBT Berang, Suku Bati Disebut Predator

Animasi, dan ilustrasi suku bati yang digambarkan oleh siaran TV
PAMANAWANews, BULA – Sejumlah kalangan di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) melayangkan protes terhadap pemberitaan yang dilansir salah satu stasiun TV nasional, terkait dengan keberadaan suku Bati. Dalam tayangan stasiun Trans7 tersebut, disebutkan suku Bati, Kecamatan Kian Darat, Kabupaten SBT merupakan suku yang menyerupai binatang predator dengan wajah yang terdiri dari gabungan monyet dan kelelawar dan sering memangsa anak kecil.

Akibat pemberitaan 12 Oktober 2017 itu warga SBT dari berbagai lapisan, melayangkan protes terhadap tayangan On The Spot yang dilansir TV swasta tersebut. Gelombang protes datang bertubi-tubi melalui akun facebook pada group New Pilar SBT.

Salah satu akun facebook atas nama Somad Boulivar pada tanggal  14 Oktober melayangkan protes atas nama Lembaga Kalesang Liungkungan Maluku Wilayah SBT. Akun tersebut bahkan meminta agar ketua Latupati Maluku dan Seram Bagian Timur untuk melaporkan pemberitaan yang dilakukan TV swasta itu.

Anggota DPRD Kabupaten SBT, Bahrum Wadjo, Sabtu (14/10/2017) di gedung DPRD SBT mengatakan, tayangan yang dilansir TV tersebut  merupakan satu bentuk penghinaan terbesar terhadap dirinya, dan masyarakat Kecamatan Kiandarat serta seluruh masyarakat SBT.

"Apa yang ditanyakan oleh TV tersebut tidak seperti kehidupan masyarakat Bati. Sebagai anak Kiandarat, Saya merasa terhina, karena saya adalah bagian dari masyarakat Bati. Perlu semua masyarakat dunia tahu bahwa Bati merupakan salah satu suku tertua di Pulau Seram," ucapnya dengan nada tegas.

Dirinya, kata Wadjo, sangat menyesal dengan apa yang sudah ditayangkan itu. Untuk itu, dirinya mendesak pihak yang menyiarkan kondisi kehidupan masyarakat Bati tersebut agar segera mengklarifikasi terkait penayangan di program tersebut.

"Saya adalah bagian dari Bati. Ini kesalahan dalam penyajian fakta sehingga suku Bati tersudutkan. Pihak yang menyiarkan maupun yang menulis narasinya segera mengklarifikasi semua yang sudah ditayangkan. Ini bentuk penghinaan buat seluruh masyarakat SBT," tegas Wadjo.

Seperti yang ditayangkan dalam acara bertema On The Spot tersebut, Trans7 menayangkan visual yang sangat jauh berbeda dengan kodisi yang terjadi di daerah pemukiman suku Bati. Selain itu, narasi dari tayangan tersebut terkesan cukup menyedutkan yakni dengan menyebutkan, suku Bati memliki kekuatan supranatural, mereka mampu merubah bentuk dan mampu terbang dan kerap memaksa anak-anak. Pada bagian lain, menyebutkan tinggi orang suku bati 1,6 meter dan memiliki wajah gabungan antara monyet dengan kelelawar. Orang bati bersayap hitam dan berekor kecil dan sering terbang mencari mangsa di waktu malam.(PN-16)

Berita terkait