iklan-banner-02
iklan-banner-02

Warga Adat Buru Tantang Gubernur Maluku

PAMANAWANews, NAMLEA - Gubernur Maluku, Ir Said Assagaff akan kehilangan suara bila mengusir paksa warga adat di Kabupaten Buru yang kini telah kembali menambang emas di Gunung Botak. Tantangan itu dilontarkan salah satu pemuda adat, Tonny Waekibo, saat berlangsung pertemuan puluhan warga adat yang menambang di Gunung Botak dengan pengusaha tambang Mansur Latakka, di Dusun Wamsait, Desa Dafa, Jumat (3/11/2017).
Tonny Waekibo,(baju hitam) saat menyampaikan pernyataan pada pertemuan puluhan warga adat yang menambang di Gunung Botak dengan pengusaha tambang Mansur Latakka, di Dusun Wamsait, Desa Dafa, Jumat (3/11/2017).
Dalam keterangan pers yang dikirim ke redaksi PamanawaNews.com, menyebutkan, pertemuan itu turut dihadiri dua tokoh adat dari dataran tinggi, Matatemon Nurlatu, Bapak Mone Nurlatu dan Bapak Bagin Solissa. Warga adat melalui Tonny Waekibo menantang Gubernur Said Assagaf dengan mengirim pesan terbuka agar orang nomor satu di Maluku ini jangan anak tirikan warga adat di sana.
"Terkait dengan kepentingan perusahan mengusir masyarakat adat dari tambang, itu selalu perintah gubernur. Instruksi gubernur," cibir Tonny.

Kepada gubernur, warga adat di sana berpesan, bahwa sampai kapanpun mereka tidak akan pernah meninggalkan Gunung Botak. Dan gubernur dituding tak pernah berpihak kepada masyarakat adat setempat.

"Jujur saja, saudara gubernur tidak pernah berpihak kepada masyarakat adat. Kami akan terus bekerja dengan tenaga kami, dengan modal kami,"pesan Tonny. Ditegaskan lagi, kalau warga adat tetap bekerja di gunung botak. Tak sedikitpun mereka mundur dari gunung botak."Itu statemen kami masyarakat adat.
“Jujur saja, Gunung Botak itu pilihan hidup kami masyarakat adat,"tanggap Tonny dan diiyakan puluhan warga yg hadiri pertemuan itu.

Menurut Tonny, bahwa mereka menghidupi keluarga, membiayai pendidikan anak mereka dari hasil keringat tambang Gunung Botak. Dari hasil tambang emas ini, mereka sangat utamakan pendidikan yang layak bagi anak-anak agar bisa sejajar dengan anak di daerah lain.

"Freport bisa menghasilkan anak-anak Papua yang berkualitas. Ada yang jadi mentri, ada yang jenderal. Apa kami tidak boleh menyekolahkan anak kami dari penghasilan di tambang gunung botak. Jangan karena kepentingan pribadi, sehingga pemerintah mengabaikan masyarakat adat,"lagi ingatkan Tonny Waekibo.

Tonny bersama warga adat di Buru, menilai persoalan yang timbul di sini tidak pernah tercium sampai di pusat. Dan ketika ketemu dengan komisioner Komnas HAM, Komisi III DPR RI, mereka juga kaget. "Mereka kaget, karena permainan hanya di sini. Di Maluku. Gubernur dan kroni-kroninya,". Tonny dengan suara yang menggelegar, tiba-tiba saja menggiring masyarakat yang hadir dalam pertemuan itu agar tak memilih lagi Said Assagaff di pilkada gubernur Maluku."2018 nanti , jang pilih gubernur Said Assagaf lai,"tandas Tonny.

Tantangan Tonny Waekibo itu mendapat gayung bersambut. Ada yang meneriki, Jangan pilih Said Assagaf. Tolak dia saat kampanye di Buru. Dia sudah menyusahkan masyarakat adat. Salah satu pemuda adat juga ikut menimbrung lidah bahasa orang tetua adat, bahwa Gubernur, bupati, dewan, mereka itu hak rakyat.

Mereka duduk di sana bukan melihat yang punya kepentingan, tapi kepentingan rakyat. Lalu pemimpin siapa, lima tahun tidak melihat kepentingan rakyat, jangan pilih dia lagi di kemudian hari.Pangkas. Banyak yang masih antri, banyak yang masih tunggu. "Mau kaseng? 2018, dewan gubernur katong ganti. Yang baru naik, perubahan,"teriakin seorang pemuda dengan semangat berapi-api.

Sementara itu, pengusaha tambang Mansur Latakka pada kesempatan itu menginformasikan kepada warga adat kalau itu telah menggandeng BPPT untuk melakukan pengolahan emas tanpa merkuri.Sudah membangun 40 bak pengolahan. Konon katanya, pihaknya sudah mendapat persetujuan dari gubernur untuk mengambil pasir emas di sungai Anahoni.

"Gubernur telah beri kita akses, sungai dibagi dua," sesumbar Latakka. Latakka juga sempat memancing emosi warga adat atas obyek di Sungai Anahoni yang dikuasai PT BPS. Perusahan ini sudah mengantongi IUPK. "Bapak jangan menyerang ke sana, beresiko. Saya akan melakukan tuntutan hukum, PT BPS sudah saya somasi.Saya sudah sampaikan tuntutan ini sampai ke wakapolri," lagi sesumbar Latakka.

Dalam pertemuan itu, bukan hanya membawa-bawa nama Wakapolri. tapi Latakka juga merecoki warga adat dengan menyebut nama Badan Intelejen Negara Ia sesumbar kalau BIN akan datang bersamanya ke tambang gunung botak.Namun hanya sampai di Ambon dan balik lagi ke Jakarta.

"Ada BIN yang mau datang.Saya bilang, bang. Sebaiknya bang tidak usah ke sana.Karena nanti BPS membentuk komunitas juga,.Nah ini kalau abang usik, nanti kacau di sana,sehingga kemarin diputuskan mereka kembali ke jakarta," kata Latakka membual. (PN- 17)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02