iklan-banner-01
iklan-banner-02

USAID Pantau Lokasi Rawan Bencana di Allang

Pelaksana Direktur Misi USAID, Ryan Washburn (kanan) dan Kepala BPBD Maluku Farida Salampessy saat memantau lokasi rawan bencana di Desa Allang. / pamanawanews.com.
PAMANAWANews, AMBON- Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), melalui programnya Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK), meninjau lokasi rawan bencana seperti longsor dan abrasi pantai di Desa Allang Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Senin (27/11/2017).
“Kunjungan kami ke sini (Allang) untuk melihat kerjasama antara USAID dengan pemerintah di tingkat Nasional, maupun di tingkat daerah. Jadi kita ingin melakukan bagaimana memberikan dukungan serta persiapan pencegahan bencana,” kata Pelaksana Direktur Misi USAID, Ryan Washburn kepada wartawan, Senin (27/11/2017).

Dari kunjungan itu, sejumlah tim USAID meninjau talud penahan ombak, tebing bebatuan yang rawan longsor menimpa rumah penduduk, dan sulitnya nelayan mencari ikan disaat iklim tidak bersahabat.
“Kami juga melihat ternyata gempa bumi yang terjadi kemarin, ternyata menimbulkan kerusakan,” ujar Ryan.

Sementara Kepala BPBD Provinsi Maluku Farida Salampessy yang ikut dalam tinjauan tersebut menyampaikan bahwa pihaknya kerap melakukan koordinasi dengan masyarakat disaat bencana terjadi atau pun tidak, pihaknya telah bekerjasama.

“Program Apik di Maluku ini khusus terhadap desa desa tangguh bencana seperti Desa Allang. Itu pada setiap kejadian atau tidak ada bencana kami selalu koordinasi. Kalau ada kejadian kami langsung datang memberikan bantuan sesuai dengan prosedur,” kata Farida.

Farida mengatakan, yang menjadi permasalahan adalah bebatuan besar yang berada di tebing.
“Kami kemarin sudah koordinasi dengan balai jalan sebagai instansi teknis. Mereka sudah datang kunjungi. Kemudian alat yang mereka punya tidak mampu menghancurkan batu itu. Sarannya adalah dibantu masyarakat yakni bakar dengan ban kemudian siram dengan air laut agar batu itu pecah secara perlahan lahan,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk tanggap darurat, pihaknya telah berkoordinasi dengan Maluku Tengah.
“Mereka sudah datang tadi mengecek sejauh mana kerusakan untuk dibantu,” ungkapnya.

Melihat kondisi batu yang rawan terhadap keselamatan penduduk, tambah Ryan, pihaknya telah bekerjasama dengan pemerintah daerah. Sebab, kata Dia, kemungkinan itu selalu ada, dan pihaknya selalu siap terhadap kemungkinan terburuk.
“Yang perlu ditekankan adalah kerjasama dengan pemerintah daerah dan masyarakat yang terkena dampaknya,” pungkas Ryan.

USAID sendiri telah memfasilitasi pelaksanaan kajian kerentanan dalam rangka meningkatkan ketangguhan Provinsi Maluku dalam menghadapi resiko bencana dan iklim seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, abrasi, dan lain-lain.

Berbagai kajian yang telah dilakukan menjadi pondasi penting untuk perencanaan pembangunan, dengan memperhitungkan resiko dan ancaman yang ada. Melalui program Apik, diharapkan pembangunan dapat menjawab permasalahan dan pada akhirnya meningkatkan ketangguhan dalam menghadapi bencana dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Beberapa studi dan kajian yang telah dilaksanakan dengan di fasilitasi USAID APIK antara lain: kajian kerentanan dan risiko iklim Provinsi Maluku dan lanskap Ambon serta Kepulauan Lease; penilaian dampak iklim terhadap komoditas pala dan cengkeh, serta ketersediaan air bersih; penilaian ketangguhan Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Kepulauan Aru, serta di 12 negeri wilayah kerja USAID APIK. (PN-08)

Berita terkait