iklan-banner-01
iklan-banner-02

Tak Punya Biaya, Warga Malteng Pasrah Digrogoti Tumor

Dwi Suryani (35), warga Kobi Mukti, Kecamatan Seram Utara Kobi, Kabupaten Malteng (Malteng)
PAMANAWANews, BULA – Sungguh ironis nasib ibu rumah tangga ini. Selama 6 tahun hanya bisa pasrah digrogoti tumor yang bersarang di dalam mulutnya. Dwi Suryani (35), warga Kobi Mukti, Kecamatan Seram Utara Kobi, Kabupaten Malteng (Malteng) tidak punya pilihan hanya dirawat oleh suami dan keluarganya sejak divonis dokter menderita tumor.
Kirmi (35) suami Dwi mengatakan, pernah membawa istrinya periksa di RSUD Bula pada tahun 2012. Tidak sempat di rawat karena dokter mengatakan ada daging yang tumbuh. Selanjutnya mereka kembali ke tempat tinggalnya.

"Kita hanya bisa rawat jalan di RSUD Bula. Saat itu dokter katakan ada daging yang tumbuh di dalam mulut tepat di gusi," ungkapnya melalui telepon selularnya kepada Pamanawanews.com. Rabu (25/10/2017) pagi. Namun seiring waktu,  tumor yang diderita istirinya  mulai membesar, dan pada tahun 2014, Kirmi kembali membawa istrinya untuk perawatan di RSU Kudamati Ambon. Dan di rawat selama 1 minggu.

Selama seminggu perawatan di RSU, pihak dokter rumah sakit memvonis kalau sakit itu adalah Tumor. Kemudian pihak rumah sakit membuat rujukan untuk pengobatannya ke Makassar. Karena RSUD Kudamati tidak memiliki alat untuk operasi.

"Dwi di vonis tumor. Dan oleh pihak RSU kami di arahkan untuk berobat ke Makassar. Tapi kami memutuskan untuk kembali, tidak bisa berangkat ke Makassar. Karena tidak memiliki uang yang banyak untuk biaya," ujarnya melemaskan di balik suara telepon.

Selanjutnya atas kesepakatan mereka berdua, Dwi keluar dari RSU Kudamati,namun mereka dihadapkan lagi dengan masalah baru yaitu tidak punya biaya untuk kembali ke Pulau Seram. Keduanya pun tidak memiliki keluarga di Kota Ambon. Sambil menunggu kiriman uang dari keluarga di unit transmigrasi, supaya bisa kembali, mereka menginap di kamar kost temannya di Kudamati dekat RSUD.

Menurut Kirmi, keterbatasan biaya menjadi penghalang untuk mencari pengobatan dan kesembuhan. Untuk sementara dirinya dan keluarga hanya mengandalkan pengobatan alternatif. "Kami tidak punya biaya. Untuk pengobatan di luar Maluku, kita pengobatan dengan apa adanya saja," katanya.

Sampai saat ini Kirmi hanya bisa pasrah dan berharap adanya uluran tangan dari berbagai pihak untuk biaya penyembuhan sang istri. Apalagi hingga kini penderita tumor ganas ini belum mendapat perhatian sedikitpun dari pemerintah setempat. Untuk yang ingin membantunya dapat menghubungi mereka di nomor hand phone pak Kirmi 082199507084.(PN-19)

Berita terkait