iklan-banner-01
iklan-banner-02

Panas Pela Masamanuhuwei dan Yapio Patai Dihadiri Ribuan Anak Adat

Prosesi ritual sumpah pela antara Yapio Patai dan Masamanuhuwei dengan ditandai pemotongan ayam putih, Kamis (26/10/2017)
PAMANAWANews, AMBON- Ribuan anak adat dari Kapitan Masamanuhuwei dan Yapio Patai melakukan tradisi adat Panas Pela, atau bersumpah mengikrarkan janji suci persaudaraan yang berlangsung di Desa Rambatu Kecamatan Inamosol Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Kamis (26/10/2017).
Anak cucu Kapitan Masamanuhuwei terdiri dari Desa Manusa, Rambatu dan Rumberu. Sementara Kapitan Yapio Patai yakni Desa Abio, Ahiolo, Elpaputih, Sahulawu, Maraloy, Tala, Mamala dan Warloin. 

Panas Pela ditandai dengan meminum air sumpah pela dan memakan Sirih Pinang antara Kapitan  Masamanuhuwei dan Kapitan Yapio Patai serta diikuti ribuan anak adat dari segala penjuru Indonesia yang hadir.

Ritual sakral Panas Pela Masamanuhuwei dan Yapio Patai ke XII tahun 2017, ini dihadiri Staf Ahli Gubernur Maluku bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Ronny S.W.Taira dan Bupati SBB, M. Yasin Payapo beserta sejumlah pejabat.

M. Yasin Payapo dalam sambutannya pertama kali memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa, atas berkat dan rahmatnya sehingga di kumpulkan kembali sebagai suatu persekutuan dan persaudaraan, diantara orang basudara. 

“Saya atas nama pemerintah daerah Kabupaten Seram Bagian Barat, sangat mengapresiasi tradisi atau budaya hidup orang basudara dalam acara panas pela Masamanuhuwei dan Yapio Patai di Kabupaten Seram Bagian Barat ini,” katanya. 

Makna kebudayaan itu sendiri, lanjut Payapo, merupakan sebuah sistem nilai yang merupakan hasil hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Rasa dan Karsa serta gagasan-gagasan atau ide-ide dari hasil perenungan dan pembelajaran dalam menumbuhkan gagasan-gagasan utama.

Ia berharap, acara tradisi panas pela yang di lakukan oleh basudara Masamanuhuwei dan Pela Yapio Patay diharapkan dapat memberikan kontribusi hidup persekutuan orang basudara yang lebih baik saat ini dan masa yang akan datang.

“Panas pela ini tentunya memiliki makna kuatnya nilai persaudaraan, Ale di sana Beta di sini. Potong di kuku rasa di daging. Hidup orang Bapela, Katong tetap orang basudara,” imbuhnya.

‎Sebagai rasa hormat terhadap kebiasaan leluhur sejak dahulu, Payapo mengajak seluruh anak negeri untuk tetap memelihara dan menghargai ciri dan budaya masing masing daerah sehingga rekatan persatuan dan kesatuan tetap terpelihara dan dijaga sampai kapan pun. 

“Hidup manis katong orang suadara, sagu salempeng di patah dua, Ale rasa Beta rasa, Ale Salam Beta Sarane, Hidop pela deng gandong, Hidop manis ade deng kaka, tetap katong jaga.”

“Saya harapkan kita akan menjadi tuan dan nyonya rumah yang baik  pada event akbar ini. Kita tunjukan kepada masyarakat Maluku bahwa Kabupaten kita ini Kabupaten yang ramah, yang baik dengan memberikan kesan baik dan indah kepada para kontingen dari kabupaten/kota lainnya,” tambah Payapo berharap. 

Pada kesempatan itu, Payapo berjanji pembangunan jalan yang jaraknya 12 KM menuju Desa Rambatu akan segera di selesaikan di tahun 2018 mendatang.

Sementara itu, Gubernur Maluku melalui Staf Ahli bidang Pembangunan ekonomi dan keuangan Ronny S.W.Tairas menyampaikan, Panas Pela merupakan salah satu modal sosial kultur orang Maluku yang sangat berharga. Sebab, pela adalah sebuah perserikatan atau sitem persaudaraan antara seluruh penduduk dari dua atau lebih negeri adat.

Ikatan Pela sebagai identitas manusia Maluku yang khas sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah tingkat keadaban yang tinggi dalam pertalian sejati orang basudara seperti ungkapan potong di kuku rasa di daging, Ale Rasa Beta Rasa dan Sagu salempeng di patah dua.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan Panas Pela Mansamanewei dan Yapio Batai. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kita melakukan revitalisasi terhadap kearifan lokal kita dan salah satu wujud strategi kebudayaan kita untuk  mewujudkan tatanan Indonesia  seutuhnya,” tandasnya. (PN-25)

Berita terkait