iklan-banner-01
iklan-banner-02

Listriki Ambon Kapal Yasin Bey Jaga Lingkungan

PAMANAWANews, AMBON- Kapal pembangkit listrik asal Turki bernama Yasin Bey, tak hanya mengaliri 60 Megawatt (MW) listrik di Pulau Ambon, tapi disisi lain, juga senantiasa menjaga lingkungan hidup dari pencemaran limbah industri.
Kapal pembangkit listrik Yasin Bey asal Turki di Perairan Laut Negeri Waai Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Ambon).
Buktinya, limbah kapal produksi listrik berkapasitas 120 MW, yang berlabuh di perairan laut Negeri Waai Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Ambon), berupa cairan, gas maupun sampah sisa makanan dibawa ke Surabaya.

Mehmed Ufuk Bert, Direktur Regional Asia Afrika Karpowership mengatakan, kapal Yasin Bey telah lulus uji internasional dari sisi lingkungan, kesehatan maupun keamanan.

Standar operasional yang sangat diperhatikan dan diutamakan, kata Dia, yakni lingkungan. Dimana, limbah kapal berupa minyak, gas maupun sampah makanan tidak di buang sembarangan. Apalagi di buang ke laut atau ke udara.

Untuk menghasilkan listrik, kapal dengan panjang 162 meter dan lebar 20 meter ini menggunakan bahan bakar HVO. Bahan bakar ini merupakan sari dari minyak dan oli. Olehnya itu, limbahnya tidak mencemari lingkungan.

“Jadi limbah kapal ini dikelola lagi menjadi oli. Gas dikelola lagi sehingga hasil akhir yang dibuang tidak mencemari udara. Limbah hasil akhir dan juga sampah akan di tampung dan dibawa ke Surabaya menggunakan kapal yang telah disediakan,” kata Ufuk dalam kegiatan workshop diatas kapal Yasin Bey, Selasa (31/10/2017).

Penjelasan Ufuk terkait lingkungan, ini terbukti dengan pantauan Pamanawanews.com, dimana terdapat sejumlah tempat sampah organik, kering maupun basah yang tersebar di atas kapal.

Air laut, tempat dimana kapal berlabuh terlihat bersih dan jernih. Tampak beragam jenis ikan ramai berada di seputaran kapal.

“Kita sudah lakukan kontrol terkait limbah. Kita kerja sama dengan lab kesehatan. Limbah di kontrol dan hasil akhir tidak mencemarkan lingkungan. Gas buangan yang di hasilkan adalah bermutu atau tidak mencemari lingkungan,” ujar Mehmed menggunakan bahasa Turki.

Dikatakan, Yasin Bey mengaliri listri di Pulau Ambon sebesar 60 Mega Watt (MW). Ia berharap, kedepan PT. PLN Maluku dan Maluku Utara bisa menaikan daya dari 60 menjadi 70 atau 80 MW.

Kapal berbendera Turki dan Indonesia ini mulai beroperasi di Ambon pada awal April 2017 lalu. Kapal itu di kontrak selama 5 tahun dan akan berakhir tahun 2022 mendatang.

“Kapasitas kapal ini sebesar 120 MW. Sehingga kami berharap PT. PLN dapat meningkatkan daya kedepan. Antara 70 atau 80 MW lagi,” pintanya.

Menurutnya, hubungan kerjasama dengan PLN berjalan baik. Pengelolaan kelistrikan yang ditangani PLN juga bagus.

“Masyarakat Ambon juga baik dan ramah,” salut Mehmed.

Di Indonesia, kata Mehmed, terdapat 6 unit kapal pembangkit listrik milik Turki. Diantaranya Medan, Amurang, Kupang, Manado, Ambon dan Lombok.

“Kapal powership terbesar berada di Medan dengan kapasitas daya 470 MW, dan dikontrak 240 MW. Sementara di Ambon kapasitas 120 MW, dan di kontrak 60 MW,” terangnya.

Kedepan, lanjut Mehmed, pihaknya akan bekerjasama dengan PT.PAL untuk secara bersama membuat kapal serupa.

“Kerjasama dengan Indonesia juga akan terus berkembang. Kita dan PT PAL akan bekerjasama membuat kapal listrik,” ungkapnya.

Kapal ini, lanjut Mehmed, terdapat sebanyak 126 tenaga kerja asal Turki dan Indonesia. Kapal berlantai 6 ini di buat dalam kurun waktu 80 sampai 180 hari.

“Selain kerjasama dibidang kelistrikan, pihaknya juga senantiasa melakukan kegiatan kemanusian dengan memberikan bantuan kepada masyarakat. Melakukan penanaman pohon. Rencana besok kita akan lakukan kegiatan kids school di Tulehu,” ujar dia.

Selain kerjasama, pihaknya juga mensosialisasi budaya, tradisi, tempat destinasi wisata dan makanan khas Turki.

Menurutnya, budaya dan tradisi Indonesia Turki tidak jauh berbeda. Diantaranya saling menghargai dan menghormati antara satu dengan yang lain. Hormati orang yang lebih tua.

“Orang Turki selalu menerima orang apapun dan agama manapun. Karena bagi mereka, semua manusia itu adalah tamu Tuhan. Ayah dan ibu bertanggung jawab sampai anaknya menikah. Yang muda hargai yang tua. Sama seperti Indonesia,” pungkasnya. (PN-08)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02