iklan-banner-01
iklan-banner-02

Limbah Penambang Emas Racuni Ternak Sapi di Wamsait

PAMANAWANews, Namlea – Warga Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru dibuat geger, dengan temuan tiga ekor sapi yang mati terkapar. Diduga kuat terkaparnya tiga ekor ternak ini akibat telah meminum air limbah kimia dari rendaman pengolahan emas yang mengandung asam zianida dan merkuri.
Ternak milik Istahoni dan Hafifudin warga Wamsait yang mati terkapar akibat meminum air limbah rendaman berbahan kimia yang dipakai penambang emas di lokasi desa tersebut. (foto. Lili Tan Ohorella)


"Saat ini kapolsek setempat bersama anak buahnya masih berada di lapangan untuk melakukan penyelidikan terkait kematian tiga ekor sapi milik warga," kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhammad Rum Ohoirat di Ambon, Jumat (09/03/2017) seperti yang dikutip antaranews.com.

Menurut  Ohoirat, ternak milik warga tersebut ditemukan mati tidak wajar di lokasi jalur `A` Dusun Wamsait yang terdapat genangan air rendaman pengolahan emas. Kondisi ketiga ekor sapi ini sangat mengenaskan karena terkapar di atas rerumputan dan sudah membengkak pada bagian pertunya, sementara keempat kaki ternak-ternak ini terlihat mengeras.

Insiden kematian ternak sapi milik warga ini juga menjadi tranding topik di media sosial.  Seperti yang ditulis akun Lili Tan Ohorela dalam statusnya  di facebook menyebutkan “Samua buka mata eeee, tadi ditemukan tiga ekor kerbau mati di Jalur A Dusun Wamsaid akibat menenggak racun air limbah aktifitas rendaman milik Mahrus berasal dari luar Maluku” tulis Lili.

Dijelaskan, pemilik kerbau, Istahoni dan Hafifudin yg menjadi korban, hanya difasilitasi Babinsa dan pemerintah desa setempat untuk mendapat ganti rugi Rp.5 juta dan Rp.10juta, atau total Rp.15juta, setelah  itu persoalan selesai.

"Yang jelas polisi masih melakukan penyelidikan di lokasi tersebut, tetapi laporan awal menyebutkan matinya ternak sapi milik warga diduga setelah meminum air limbah rendaman pengolahan emas oleh para penambangan di sekitar lokasi itu," jelas Kabid Humas.

Pola pengolahan emas oleh para penambangan yang menggunakan sistem rendaman di Pulau Buru telah dipakai sekitar dua tahun lalu, dimana mereka menggali tanah berbentuk bak yang memanjang dan mengisi air serta bahan mercuri untuk memisahkan matrial batu, tanah, atau pasir dari logam mulia.

Sebelumnya Kapolda Maluku Irjen Polisi Deden Juhara mengatakan, sudah ada tim gabungan dari pemerintah pusat dan daerah bersama aparat keamanan melakukan peninjauan ulang ke kawasan Gunung Botak dan sekitarnya.

"Untuk hasil kunjungan ke Gunung Botak, memang ada rapat di Kemeterian Koordinator Bidang Kemaritiman dan mudah-mudahan ada kebijakan dari pemerintah," jelas Kapolda saat itu.

Tim gabungan yang turun itu berasal dari Kemenko Polhukam, Menko Bidang Kemaritiman, dan kementerian terkait lainnya.

Kemudian tim gabungan sudah mengambil sampel di Gunung Botak untuk diperiksa mana yang menggunakan mercuri akan direkomendasikan kalau memang ada izin pemda untuk dicabut. (PN-17)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02