iklan-banner-01
iklan-banner-02

Gempa Ambon, Fenomena Unik dan Langka

Logo BMKG
PAMANAWANews,AMBON-Aktivitas gempa beruntun yang mengguncang wilayah Pulau Ambon dan sekitarnya pada Selasa 31 Oktober hingga 1 November, dinilai sebagai penomena unik dan langkah. Fenomena aktivitas gempa yang terjadi secara beruntun sebelum terjadi gempa utama semacam ini dalam ilmu gempa merupakan hal biasa."tulis Kepala Bidang Informasi Gempa bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Pusat, Dr. Daryono, M.Si,"Ambon Memang Rawan Gempa" seperti dikutip PamanawaNews.com di acun Twiter @info bencana, Rabu malam, (1/11/17).
Daryono mengatakan, dalam ilmu gempa bumi (seismologi) ada tiga tipe gempa yaitu, gempa tipe 1, dicirikan dengan terjadinya gempa utama (main shock), tanpa ada gempa pendahuluan (foreshocks), yang selanjutnya diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks).

Gempa tipe 2, dicirikan dengan terjadinya serangkaian aktivitas gempa pendahuluan, kemudian terjadi gempa utama, dan selanjutnya diikuti gempa susulan.

Gempa tipe 3 dicirikan dengan rentetan aktivitas gempa berkekuatan kecil yang terjadi secara terus-menerus dalam rentang waktu tertentu, tanpa ada gempa paling kuat sebagai gempa utama. Fenomena semacam ini dikenal sebagai aktivitas swarm.

Dia menilai, jika menilik tiga konsep gempa itu, tampak bahwa gempa bumi yang terjadi di Ambon, Selasa 31 Oktober-Rabu 1 November, merupakan cerminan dari aktivitas gempa tipe 2, yaitu gempa utama yang didahului oleh gempa pendahuluan. Sehingga wajar jika warga panik karena diguncang 3 kali gempa sebelum terjadi gempa utama Magnitudo 6,0.

Menurutnya, selama ini di wilayah Indonesia memang tidak banyak aktivitas gempa tipe 2 sehingga banyak yang menilai gempa Ambon ini merupakan fenomena unik dan langka.

Hasil monitoring BMKG hingga Rabu pagi (1/11) terjadi puluhan aktivitas gempa susulan. Dilihat sebarannya nilai magnitudonya tampak bahwa trend besaran magnitudo sudah mengecil dan frekuensi kejadiannya pun terus menurun.

Dijelaskan, Ambon secara tektonik memang rawan gempa. Tataan tektonik menunjukkan bahwa Ambon dan Pulau Seram dijepit oleh 2 sumber gempa utama. Dari utara wilayah ini didesak oleh zona subduksi Seram yang aktif, dan dari selatan terdapat struktur sesar yang dikenal sebagai South Seram Thrust. Struktur sesar ini sangat aktif karena terbentuk oleh efek adanya “tumbukan lempeng” dan hujaman balik sistem subduksi Seram, sehingga wajar jika sumber gempa ini menyimpan medan tegangan kulit Bumi yang dapat terlepaskan sebagai peristiwa gempa kuat. Indikator ini tampak dari seluruh gempa yang terjadi memiliki mekanisme sumber berupa sesar naik (thrust fault) dengan strike/jurus yang berarah barat-timur. Sehingga kuat dugaan bahwa gempa Ambon ini dipicu oleh struktur geologi sesar naik selatan Seram.

Gambaran tingginya tingkat aktivitas gempa di Ambon tampak dari peta seismisitas dan catatan sejarah gempa merusak yang terjadi pada masa lalu. Aktivitas seismisitas di Ambon dan sekitarnya memang cukup rapat yang menunjukkan kawasan ini aktif gempa. Selain itu, catatan sejarah gempa kuat masa lalu juga cukup banyak, seperti gempa kuat Ambon yang terjadi pada tahun 1674,1899,1950, 1980, dan 2001.

"Dengan memperhatikan tingginya aktivitas kegempaan di Ambon, maka penting untuk dilakukan kajian bahaya dan risiko gempa dan tsunami di wilayah Ambon dan sekitarnya."tulis Daryono diakhir kalimat.(PN-12)

Berita terkait

Berita Populer