iklan-banner-01
iklan-banner-02

Korupsi Reklamasi 14 Miliar, Adik Bupati Buru Diperiksa

Lokasi proyek pembangunan Water Front City (WFC) di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku,. /Sumber Foto IST
PAMANAWANews, AMBON ----- Kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan Water Front City (WFC) untuk kawasan reklamasi di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, tahun anggaran 2015 sebesar Rp.14 miliar, tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku intens mengumpulkan berbagai bukti seputar dugaan penyelewengan dana proyek dimaksud.
Pekerjaan proyek ini dilaksanakan dua tahap yaitu, tahap pertama pada 2015 dengan anggaran sebesar Rp.8 miliar lebih. Tahap kedua pada 2016 dengan anggaran mencapai Rp.5 miliar lebih.

Informasi yang dihimpun pamanawanews.com di kantor Kejati Maluku, Rabu, (8/11/2017) menerangkan, tiga orang saksi diperiksa terkait kasus ini. Masing-masing, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buru, Pudji Wahono, Pengusaha Sahran Umasugi adik dari Bupati Kabupaten Buru). Sedangkan saksi AT, pegawai Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Buru, diperiksa di kantor Kejaksaan Negeri Namlea-Kabupaten Buru.

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi Maluku, Samy Sapulette, turut membenarkan hal ini. “Tiga orang saksi yang diperiksa hari ini, terkait dengan dugaan korupsi proyek pembangunan WFC di Kabupaten Buru. Dua saksi dengan inisial PW dan SU, diperiksa di kantor Kejati Maluku di Ambon, sementara saksi dengan inisial AT diperiksa di kantor Kejari Namlea-Buru,” kata Sammy Sapulette menjawab awak media di kantor Kejaksaan Tinggi Maluku di Bilangan Sultan Khairun, Kota Ambon, Maluku, Rabu, (8/11/2017).

Saksi PW dan SU diperiksa jaksa penyidik Adam Saimima, sedangkan AT (saksi) pegawai PUPR Kabupaten Buru diperiksa oleh jaksa penyidik R. Sampe dan Wendy Relmasira di kanor Kejari Namlea – Kabupaten Buru.

“Saksi PW diperiksa sejak pukul 09:00-12:00 WIT dengan 47 pertanyaan, sedangkan saksi SU diperiksa dari pukul 12:00-17:00 WIT, dengan puluhan pertanyaan. Sedangkan saksi AT diperiksa pukul 14:30 hingga sore, ada 20 pertanyaan yang disampaikan penyidik terhadap saksi,” jelsanya.

Sammy Sapulette mengakui, tiga saksi ini berdomisili di Namlea Kabupaten Buru, sudah dimintai keterangan mereka seputar kasus ini oleh tim penyidik Kejari Namlea-Buru. Sebagian saksi juga telah diperiksa sebelumnya di kantor Kejati Maluku.

Usai diperiksa sekira pukul 17:10 WIT, SU (saksi) keluar dari kantor Kejati Maluku mengenakan celana panjang berwarna abu-abu dengan berkemeja crem. Awak media sempat mengejar bersangkutan untuk diwawancarai, melalui salah seorang lelaki yang adalah pendampingnya, tidak mengizinkan kliennya diwawancarai. “Maaf ya, bapak tak bisa diwawancara,” kata pria yang menemani adik Bupati Kabupaten Buru, sambil berlalu meninggalkan awak media dan kantor Kejaksaan Tinggi Maluku.

Diketahui, dalam pekerjaan tahap pertama proyek reklamasi dianggarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buru bersumber dari APBN tahun anggaran 2015 sebesar Rp.4,9 miliar lebih. Proyek ini dikerjakan oleh PT.Aigo Media Pratama.

Sebelumnya tim penyidik gabungan dari Kejati Maluku dan Kejari Namlea telah memintai keterangan kurang lebih dari 30 orang saksi. Para saksi mulai dari instansi terkait misalnya Dinas Pekerjaan Umum maupun pihak swasta yang terlibat dalam pekerjaan proyek senilai Rp.8 miliar pada tahun 2015, dan Rp.5 miliar tahun 2016.

Total anggaran untuk proyek senilai Rp.14 miliar lebih ini, diperuntukan masing-masing untuk pekerjaan pemancangan tiang dan penimbunan di kawasan Pantai Merah Putih, Namlea, Kabupaten Buru, Maluku. Celakanya, pemancangan tiang tidak pernah dikerjakan, ironisnya dilaporkan bahwa sudah rampung 100 persen.

Fakta terungkap, pekerjaan utama pemancangan tiang untuk mengganti pondasi talud sepanjang 140 meter, tidak dikerjakan atau tidak ada tiang yang dipasang. Bahkan pekerjaan diganti dengan menimbun batu dari buangan bandara Namniwel di Desa Sawa Kabupaten Buru.

Padahal, pekerjaan pemancangan tiang sesuai data lelang, dianggarkan sebesar Rp.2,6 miliar, untuk pemancangan 300 tiang berdiameter 60 centimeter. Begitupun timbunan yang seharusnya memakai tanah pilihan, namun diganti dengan limbah buangan yang diambil dari bandara Namniwel Sawa. Ditaksir total dana yang dihabiskan untuk pekerjaan reklamasi pantai dan tiang pancang hanya Rp.1 miliar dari nilai kontrak Rp.4,9 miliar.

Proyek ini sarat rekayasa dan permainan diduga bermula saat proses tender/lelang, dilakoni oknum panitia lelang dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buru dan PT. Aigo Media Pratama (rekanan). Terendus kabar, lelang hanya dilakukan formalitas dan paket proyek ini dimenangkan oleh PT.Aigo Media Pratama.

Hingga berita ini dilansir pamanawanews.com, tim penyidik Kejaksaan Tinggi Maluku masih mengembangkan kasus ini. (PN-13)

Berita terkait