iklan-banner-01
iklan-banner-02

Polisi Tolak Lepas Police Line Lokasi Kontainer Jatuh

IST
Kepolisian Sektor (Polsek) Kawasan Pelabuhan Yos Sudarso (KPYS) Ambon, menolak permintaan kapten kapal Verizon untuk melepas garis Police Line yang terpasang di lokasi jatuhnya kontainer.
Tragedi jatuhnya kontainer pada 5 Oktober 2017, mengakibatkan La Ani Lisaboli (57) dan Bai Suatrat (35), terluka. Kedua Buruh TKBM itu kini telah dirujuk ke rumah sakit dr. M. Haulussy Ambon.

“Tadi (kemarin) kapten kapal datang untuk meminta agar garis polisi dapat di lepas. Tapi saya bilang belum bisa,” kata Kapolsek KPYS AKP. Roni Manawan saat ditemui Pamanawanews.com di ruang kerjanya, Jumat (6/10).

Pihak kapal beralasan untuk melepas garis polisi karena mereka akan berangkat. Padahal, prosedur pelepasan dapat dilakukan setelah penyidik melakukan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Lokasi kejadian harus utuh sampai kita selesai melakukan penyelidikan. Tidak bisa di buka hanya karena alasan akan berangkat,” tegas Roni.

Roni menyesalkan jawaban kapten kapal yang mengatakan jika peristiwa jatuhnya kontainer merupakan musibah. “Saya kira jawaban itu (musibah) tidak profesional. 

Menurutnya, dari hasil pemeriksaan sementara, penyidik menemukan sejumlah kelalaian diantaranya tali sleng pada beberapa bagian sudah keropos dan putus.

“Kita akan hubungi Pelindo 4 termasuk TKBM untuk dimintai keteranga, kita juga akan minta surat perintah kerja,” ujarnya.

Dikatakan, jatuhnya kontainer hingga mengakibatkan dua pekerja terluka karena kelalaian kerja. Selain dua korban, pihak perusahaan kapal ditengarai lalai dalam merawat peralatan kerja.

“Semuanya akan kita panggil. Buruh lalai karena seharusnya tunggu sampai kontainer duduk di atas truk baru mereka naik untuk melepas tali sleng. Kita juga akan periksa teknis perawatan alat berat secara berkala,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, kontainer milik PT SPIL seberat 28 Ton terjatuh saat diangkut dari dalam kapal ke Dermaga Yosudarso Ambon. Dua tenaga buru Koperasi TKBM Ambon menjadi korban atas insiden naas itu. Dua korban itu, Bay Suatrean dan La Ani, Warga Gunung Malintang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Menurut, Christian Gomies, Foreman PT Pelindo Cabang Ambon, insiden itu terjadi sekitar pukul 13.35 WIT. Dimana kontainer ke 42 yang diangkut dari kapal ke dermaga, tiba-tiba mengalami gangguan pada  kawat sleng (Kawat Baja)  dari  alat pembongkar (Crane ) putus hingga menyebabkan kontainer terjatuh.

"Ia memang benar ada dua buru TKBM Ambon yang menjadi korban. Tapi keduanya langsung dibawa ke Rumah Sakit Tentara (RST) untuk mendapatkan pertolongan medis."akui Christian saat ditemui di Pelabuhan Yosudarso Ambon,Kamis 5 Oktober.

Pasca kejadian, kata Dia, pihaknya langsung memerintahkan  proses bongkar muat dihentikan hingga  hari ini, Jumat 6 Oktober.

Supervisor PT SPIL Cabang Ambon, Erfen Kin Raga, berdalih putusnya  kawat seling pada Crane  disebabkan adanya  hentakan, berat kontainer dan faktor teknis lainnya.

Sementara itu Manajer Operasi PT Pelindo Cabang Ambon, Tedi Indra mengaku, PT Pelindo mengambil langkah cepat penanganan medis bagi kedua korban dengan membawa mereka ke RST.

Meski tidak  bisa menjelaskan secara teknis, namun insiden itu menjadi  pengalaman agar  di lakukan evaluasi terhadap keselamatan pekerja, termasuk  warga masyarakat yang masuk ke dalam areal Pelabuhan. 

"Kita akan evaluasi agar kedepan tidak  ada kejadian seperti itu lagi."tegasnya.

Untuk di ketahui, PT SPIL adalah perusahan pelayaran baru dan mulai beroperasi di Pelabuhan Ambon sejak Juli 2017 kemarin. Dalam setiap  pelayarannya, PT SPIL membawa kurang lebih 350 Kontainer dari luar ke Kota Ambon. (CH)

Berita terkait