iklan-banner-01
iklan-banner-02

Polisi di Lahan Bekas Hotel Anggrek Hanya Sebatas Pengamanan

ilustrasi / net
PAMANAWANews, AMBON - Kuasa Hukum lahan bekas Hotel Anggrek, Elizabeth Tutupary dan Johanis Leatemia mengakui, keberadaan aparat kepolisian di atas lahan bekas Hotel Anggrek saat pembersihan lahan pada 23 Mei lalu, hanya sebatas pengamanan.

Mereka menyayangkan sikap Robby Likumahua dan pengacaranya, Semmy Waeleruny yang melaporkan Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, AKBP Sutrisno Hadi Santoso ke Polda Maluku  dengan tuduhan pengrusakan lahan bekas Hotel Anggrek saat pembersihan yang dilakukan pihak ahli waris yang sah, pada 23 Mei 2018.

“Jujur saja kami menyayangkan mereka berdua yang telah melapor Kapolres pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease ke Polda Maluku dengan tuduhan melakukan pengrusakan di atas lahan bekas Hotel Anggrek. Padahal, mereka itu bukan pemilik sah lahan tersebut. Pemilik sah lahan itu adalah  janda Antoneta Muskita/Natary yang merupakan ahli waris sah dari almarhum Maria Muskita/Latumalea berdasarkan Penetapan Eksekusi Nomor : PN.AB Nomor 21/1950 tertanggal 25 Maret 2011 dan Berita Acara Eksekusi Pengosongan Nomor : PN.AB 21/1950 tertanggal 6 April 2011 terhadap putusan Nomor 21 tahun 1950,” ungkap Elizabeth Tutupary dan Johanis Leatemia kuasa hukum ahli waris kepada wartawan, Minggu (29/7/2018) malam, di kota Ambon, Provinsi Maluku.

Mereka mengaku atas permintaan kliennya, pada Maret 2018, pihaknya melayangkan surat permohonan pengamanan kepada Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease untuk dilakukan pembersihan lahan.

“Jadi posisi polisi di atas lahan eks Hotel Anggrek itu hanya sebatas pengamanan,” kata Tutupary dan Leatemia.

Menyikapi tudingan Robby Likumahua dan kuasa hukumnya, Semuel Waeleruny bahwa Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease AKBP Sutrisno Hadi Santoso melakukan pengrusakan di atas lahan tersebut, Tutupary dan Leatemia mempertanyakan keabsahan Robby Likumahua dalam kedudukannya sebagai pemilik atau ahli waris lahan bekas Hotel Anggrek itu. “Robby Likumahua dan keturunannya bukan pemilik sah lahan bekas Hotel Anggrek,” tegas mereka.

Tutupary dan Leatemia justru menyarankan Semmy Waeleruny selaku pengacara Robby Lukumahua seharusnya menanyakan ke Pengadilan Negeri Ambon ketika eksekusi 6 April 2011, itu ada penetapan atau tidak.

“Pasti pak Semmy selaku pengacara di Ambon tahu tentang hal itu tapi pura-pura tidak tahu. Kita sama-sama penegak hukum, harus memberikan advis hukum yang baik dan benar agar masyarakat juga paham dan mengerti kedudukan kasus ini,” beber mereka.

Mereka juga heran, sebab Robby Likumahua pernah dipidana oleh Pengadilan Negeri Ambon dalam kasus tersebut sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Ambon Nomor : 325/Pid.B/2011/PN.AB.

Begitupun salah satu keturunan dari Robby Likumahua yakni Buce Likumahua saat ini tengah diadili di Pengadilan Negeri Ambon dalam kasus penyerobotan lahan bekas Hotel Anggrek. Buce Likumahua dalam kasus penyerobotan dituntut jaksa 2,6 tahun penjara.

“Bagi saya, kalau sudah ada ancaman hukuman dalam tuntutan jaksa meskipun hal itu belum diputuskan hakim, fakta sidang membuktikan Likumahua bukan pemilik sah lahan itu. Jadi Buce serobot bersama dengan Ketua Yayasan GEMA 7 sekolah itu, Jacobus Nusawakan. Jacobus kalo tidak salah saya dengar dituntut juga 8 bulan penjara,” tandasnya.

Sementara itu, ahli waris pengganti lahan eks Hotel Anggrek yang sah, Marthen Muskita, juga menyayangkan tindakan Likumahua Cs termasuk pengacaranya Semmy Waeleruny. Menurut Muskita, Robby Likumahua merupakan penghuni liar di atas lahan eks Hotel Anggrek. Likumahua yang mengaku ahli waris sah lahan bekas Hotel Anggrek merupakan keturunan Albratos Matulessy.

Albratos Matulessy yang oleh Likumahua adalah keturunannya dan pemilik sah lahan Hotel Anggrek hanya sebatas mendapat kuasa menjaga lahan itu dari Maria Muskita Latumalea yang merupakan saudara kandung dari almarhum Simon Latumalea.

Albratos kata Marthen, pernah membuat silsilah keturunan pada 6 Maret 2004 dan disahkan oleh Kepala Kelurahan Batu Gajah mengetahui Camat Sirimau, Kota Ambon. Namun setelah mengiktui perkembangan yang ada, pada 27 Maret 2004, Kepala Kelurahan Batu Gajah RB Sopacua mencabut kembali tanda tangan yang dibubuhkan pada silsilah keturunan yang ditandatangani Albratos Matulessy.

“Berarti kita menarik satu kesimpulan atau fakta hukum, bahwa silsilah keturunan  yang dibuat Albratos Matulessy adalah paslu,” tegasnya.

Sedangkan ahli waris bekas Hotel Anggrek yang sah adalah Novita Muskita dan kawan-kawan, Marthen Muskita dan kawan-kawan,  serta Benny Lokollo dan kawan-kawan. “Biar semua orang di Kota Ambon tahu, yang namanya Robby Likumahua atau Buce Likumahua bukan ahli waris lahan bekas Hotel Anggrek. Lahan itu juga sudah dieksekusi pengadilan. Jadi, tidak ada lagi persoalan hukum di lahan itu. Sudah selesai. Lahan itu sudah menjadi milik kami ahli waris yang sah,” pungkasnya. (PN-13)

Berita terkait