iklan-banner-01
iklan-banner-02

DW Akademie dan AJI Gelar Workshop Keimanan dan Media

DW Akademie, Atje Bauer (tengah), Direktur Eksekutif AJI Indonesia, Hesthi Murthi (kiri) dan Ketua AJI Ambon, Abdulkarim Angkotasan (kanan).
PAMANAWAnews, AMBON- DW Akademie German bekerjasama dengan Alinasi Jurnalis Independen (AJI) melaksanakan kegiatan Workshop Keimanan dan Media.

Kegiatan yang mengangkat tema “Sebuah Dialog Antar Agama Bagi Jurnalis Indonesia” ini diselenggarakan di Santika Hotel Primier Kota Ambon, sejak tanggal 2-4 November 2018.

Sebanyak 25 Jurnalis media cetak, elektronik dan online asal Kota Ambon, Makassar, Lombok, Bali dan Jakarta, ikut dalam kegiatan tersebut.

Atje Bauer, Trainer Internasional DW Akademie, menegaskan, fakta pemberitaan beberapa media massa tentang topik agama masih belum objektif. Fakta pemberitaan menjadi penting, namun harus didukung dengan verifikasi narasumber, keberimbangan, akurasi dan validasi informasi terhadap suatu peristiwa. "Munculnya pemberitaan tanpa melakukan prinsip-prinsip jurnalis yang baik akan berdampak terhadap pembaca terutama menyangkut dengan topik sensitif seperti agama,” tegas Atje Bauer, saat menyampaikan materi dalam workshop tersebut.

Pembicara M. Yani Kubangun mengatakan, prinsip  independen jurnalis menjadi point penting dalam peliputan dan penulisan pemberitaan. Wakil Pimpinan Redaksi Ambon Ekspress ini menegaskan, di Kota Ambon, saat menulis berita-berita konflik saat ini atau issu-issu agama yang sensitive, harus ada strategi dalam menampilkan fakta yang tidak memicu ketegangan dan konflik yang terjadi. Pasalnya, Ambon memiliki pengalaman atas masa lalu yang pahit.

Sebagai seorang jurnalis senior di Maluku, Yani mengaku terlibat dalam peliputan konflik Maluku dari tahun 2000-2006. Sehingga banyak hal yang telah dipelajari dalam dimensi konflik tersebut, salah satunya bagaimana menyikapi pemanfaatan media untuk kepentingan politik kelompok tertentu.

“Ambon Ekspress saat konflik 2011 memilih mengambil strategi untuk melakukan sensor pemberitaan termasuk tidak terbit, karena kami menilai peristiwa konflik diterbitkan bisa memicu ketegangan ditengah masyarakat,” tutur Yani. Keputusan tidak terbit didasari dengan alasan yang penting untuk melokalisir konflik.

Hesthi Murthi, Direktur Eksekutif AJI Indonesia mengatakan pelatihan ini diselenggarakan untuk membekali skill jurnalis dalam melakukan peliputan konfilik. "Pemahaman jurnalis terhadap akar masalah konflik menjadi penting agar tidak menghasilkan peliputan yang bias dan sebaliknya menghasilkan liputan-liputan yang mendorong perdamaian dan kehidupan yang lebih baik bagi semua pihak," katanya.

Pelatihan bertemakan jurnalis dan keimanan di Ambon telah diadakan AJI bersama DW Akademie disejumlah daerah sebelumnya seperti di Bandung, Palembang, Pontianak, Manado dan Ambon.

Melalui pelatihan itu peserta mendapatkan kesempatan untuk, memperluas pengetahuan tentang dasar konstitusi, politik dan sosial pluralisme beragama di Indonesia dan tantangan yang muncul dari ekstremisme agama menjelang pemilihan presiden 2019 mendatang. Diantaranya memahami standar serta etika profesional dari jurnalisme sensitivitas konflik dan tak bias.

Mengembangkan kemampuan dalam hal mencari fakta dan cerita untuk menghasilkan karya jurnalistik yang profesional, seimbang dan menarik bagi audiens dengan berbagai latar belakang.

Dalam kegiatan itu, peserta juga mendapatkan pengalaman bertukar ide mengenai cara untuk menghadapi intoleransi keagamaan, menjalin hubungan jangka panjang dengan rekan seprofesi dengan latar belakang agama yang berbeda. (PN9)

Berita terkait