iklan-banner-01
iklan-banner-02

2 Tersangka Lain di Kasus Aborsi

Sumber Foto: IST
PAMANAWANews, AMBON- Selain RW, pelaku utama, penyidik PPA Satreskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease kembali menetapkan YW (41) dan YK (22) sebagai tersangka kasus tindak pidana menggugurkan kandungan atau aborsi di Dusun Mamoking Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, tanggal 15 November 2017 lalu.
Dua wanita ini diduga turut membantu melancarkan niat RW untuk melepas janin yang dikandungnya secara paksa. YW merupakan bidan kampung. Ia melakukan aborsi memakai ranting daun ubi. Sementara YK, sebagai pengantar.

"Kami sudah tetapkan YK alias Ani, sebagai tersangka juga. Ani anaknya mama biang. Jadi sudah tiga orang. Untuk kekasih RW belum ada bukti guna ditetapkan sebagai tersangka. Masih sebatas saksi," ujar Kasat Reskrim AKP Teddy melalui Kanit PPA Bripka Orpha Jambormias kepada wartawan, Selasa (21/11/2017).

Sebelum menggugurkan rahimnya yang berusia 3 bulan, RW, pernah mencoba aborsi dengan menelan obat dan minuman kaleng, tapi tak berhasil.

"Dia (RW) sudah minum bodreks sama Sprite. Tetapi gagal, termasuk Qwee0. Usia kandungan, 3 bulan," jelasnya.

Ketiga tersangka dijerat Pasal 77A UU nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 346 dan atau Pasal 348 junto Pasal 55 dan atau Pasal 56 KUHPidana.

Sebelumnya diberitakan, menolak kedatangan buah hati yang diduga hasil perselingkuhan dengan suami orang, RW, warga Kate Kate Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Provinsi Maluku, nekat melakukan kejahatan aborsi.

Wanita 27 tahun ini mengeluarkan janin dalam rahimnya secara paksa hanya menggunakan sepotong ranting daun ubi alias singkong. Ia dibantu seorang Bidan Kampung atau dikenal dengan istilah Mama Biang yang bermukim di Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah.

Kasus tindak pidana aborsi yang terjadi di Desa Tulehu, tanggal 15 November 2017, pukul 18.00 WIT lalu, menyebabkan RW dan Mama Biang itu harus meringkuk didalam rumah tahanan Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease.

“Kalau untuk Mama Biang, sedang diperiksa. Jika bukti cukup akan langsung diamankan. Pengobatan yang dilakukan pakai batang kasbi (ubi). Jadi tidak pakai obat,” kata Kasat Reskrim Polres Ambon, AKP Teddy melalui Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), Bripka O. Jambormias di Polres Ambon, Senin (20/11).

Menurutnya, RW telah ditetapkan sebagai tersangka. Ia dijerat Pasal 346 KUHPidana tentang Aborsi dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara.

Insiden itu dilaporkan oleh saudara tersangka berinisial RK, seorang Pegawai Negeri Sipil. Warga Tiang Bendera Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), itu diduga kesal saat mengetahui jika adik iparnya tega melakukan aborsi terhadap janin yang dikandungnya.

Kasus aborsi terungkap saat pria berusia 39 tahun ini sedang beristirahat di rumah. Kala itu tersangka tiba tiba datang dengan wajah yang kusut atau pucat.

“Pelapor bertanya kenapa wajah tersangka pucat. Tersangka lalu mengatakan jika dia dari Tulehu. Pacar tersangka memaksanya aborsi di salah satu Mama Biang,” kata Jambormias.

Mendengar pengakuan tersangka, RK naik pitam dan langsung membawa adik iparnya itu dari SBB menuju Kota Ambon untuk memproses kasus ini sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Mereka datang tanggal 18 November. Pelaku diperiksa dan langsung dijadikan sebagai tersangka dan ditahan,” ungkapnya.

Sementara untuk LS, pacar tersangka belum dapat dijadikan tersangka lantaran penyidik belum memiliki cukup bukti. Sebab Ia membantah dan mengaku baru mengetahui insiden itu setelah dijemput polisi.

“Dia bantah habis habisan. Kami juga belum menemukan alat bukti yang membuktikan keterlibatannya. Pacar tersangka mengaku baru tau kasus ini dari polisi saat menjemputnya. Jadi untuk sementara, pacar tersangka masih sebatas saksi,” ujarnya. (PN-07)

Berita terkait