iklan-banner-01
iklan-banner-02

Tabloid Bola Itu Jejak Sejarah Kompas

Tabloid Olahraga BOLA.
Kalau saja Tabloid Olahraga BOLA jadi tutup setelah dua edisi terakhirnya bulan Oktober 2018 ini, maka harian Kompas akan kehilangan salah satu jejak sejarahnya. Tepatnya, Tabloid BOLA adalah jejak Desk Olahraga Kompas di era 1970-an.

Ketika media cetak dan elektronik belum sehingar-bingar sekarang liputannya, maka halaman Olahraga Kompas era 1970-an adalah salah satu bacaan “wajib” di samping berita-berita olahraga hangat di media cetak seperti Sinar Harapan, Merdeka, Berita Buana, Suara Karya dan Pos Kota. Pembaca Kompas hafal, setiap beli koran ini di lapak jalanan, umumnya mereka tak lupa buka Halaman 10, halaman Olahraga.

Ketika media elektronik belum tertarik “siaran live”, siaran langsung dari arena olahraga dunia, maka orang bisa melongok laporan wartawan Kompas dari berbagai arena olahraga di luar negeri. Liputan langganan wartawan-wartawan Kompas pada zaman ini adalah Piala Dunia, Piala Eropa (sepak bola), berbagai kejuaraan akbar bulu tangkis seperti All England di Wembley Arena London, sampai pertarungan beregu Piala Thomas dan Piala Uber. Juga tentunya, arena pesta olahraga dunia seperti Olimpiade, maupun Asian Games, SEA Games.
 
Minimnya siaran langsung dari arena pertandingan (belum zamannya internet yang serba ‘real time’ seperti sekarang ini), membuat Kompas sangat sering mengirimkan wartawannya ke berbagai belahan dunia. Tidak terbatas di Asia, akan tetapi juga di Eropa dan Amerika. Dan sering tak tanggung-tanggung. Untuk event Piala Dunia sepak bola di era 1980-an dan 1990-an? Kompas bisa mengirimkan tiga wartawan plus satu kolumnis pemain sepak bola seperti Ronny Pattinasarani sang kapten nasional Indonesia legendaris itu. Satu wartawan, bahkan menulis “non sepakbola”. Nulis feature dan pernik-pernik ringan di luar arena pertandingan.
 
Dibanding wartawan-wartawan bidang lain kecuali politik yang sering ikutan rombongan Soeharto ke luar negeri maka wartawan Olahraga Kompas termasuk yang “paling makmur’. Simpanan dollar-nya bisa menebal, kalau tak boros. Maklumlah, dari dulu standarnya uang saku DLN (dinas luar negeri) wartawan Kompas perhari US 100, dan khusus Jepang US 125. Hotel semua diganti. Pulang ke Tanah Air, sangat biasa membawa oleh-oleh sloop rokok luar negeri, atau majalah Playboy, yang lebih murah di luar negeri waktu itu.
 
Era Emas Desk Olahraga
 
Era keemasan Desk Olahraga Kompas? Pertama dirintis sebagai desk olahraga yang kuat, oleh senior kami Th A Budi Susilo (kini tinggal di Sydney, sebagai warga Negeri Kanguru). Dari tangan dingin Budi Susilo lah lahir wartawan-wartawan olahraga andal Kompas, seperti Sumohadi Marsis (sepak bola), Valens Doy Goa (bulu tangkis), TD Asmadi (bulu tangkis). Tidak lupa pula, Ignatius Sunito di cabang bela diri, serta T Purwanto (tpk) yang biasa mencatat seluruh klasemen pertandingan sepak bola, baik dalam dan luar negeri.
 
Harap dicatat, dulu belum ada “klik pinter” mbah Google, yang bisa setiap saat setiap waktu tahu posisi klasemen sepak bola, di belahan manapun di dunia seperti saat ini. Dulu semua serba manual, harus dikumpulkan sendiri data base-nya dalam catatan buku tulis bertumpuk-tumpuk. Dari klasemen Galatama, sepak bola Olimpiade, Asian Games, perolehan medali SEA Games dan lain-lain. Petugas khusus pencatatnya adalah mas (tpk) Totok Purwanto ini.
 
Akurasi, aktual dan enak dibaca. Itulah hasil liputan wartawan-wartawan olahraga senior kami seperti Th A Budi Susilo, Sumohadi Marsis, Valens Doy dan TD Asmadi ini. Budi Susilo? Bisa “menyulap” berita pingpong dunia, atau tenis dunia seperti layaknya cerita silat menarik dan seru. Juga renang, atletik. Kepala Budi Susilo (dikenal inisialnya thab) seperti komputer. Dia hafal rekor-rekor waktu terbaik renang, atletik, ataupun pencatat gol terbaik di zamannya.
 
Sumohadi Marsis, dia adalah kamera sepak bola. Laporan dan ulasan Mas Sumo (inisialnya sm) ini banyak ditunggu. Selain enak dibaca, analisa Mas Sumo sangat ditunggu. Hampir setiap ucapannya tentang sepak bola, adalah opini dari akumulasi hasil liputan serta bacaannya.
 
Valens Doy? Laporan bulu tangkisnya, dan juga tenis, sangat hidup. Maklumlah, belum banyak mata kamera televisi yang tertarik melaporkan pertandingan langsung dari arena internasional waktu itu. Sehingga, ulasan Valens yang biasa penuh daya tarik dari sisi kemanusiaan, sering membuat oplah Kompas meningkat. Dari Valens, muncul istilah-istilah yang khas olahraga. Seperti novel. Valens juga dikenal, sangat dekat dengan para atlet, sehingga mampu menguras emosi pembaca, setiap kali membaca wawancaranya dengan para atlet. Humanisme Olahraga a la Valens Doy.
 
Era Tabloid Bola
 
Kalau di bulu tangkis, pada era liputan Th A Budi Susilo, dikenal adanya “The Magnificent Seven” Rudy Hartono, Tjuntjun dan Johan Wahyudi, Christian dan Ade Chandra, dan juga Iie Sumirat, Liem Swie King yang sering percaya diri dengan semboyan Julius Caesar, “Veni Vidi Vidi” – Aku telah datang, aku lihat dan aku memang? Demikian pula wartawan-wartawan Kompas era Budi Susilo (kami menyebutnya Budi Susiwo, lantaran lidahnya sulit melafalkan huruf-huruf tertentu, terkesan cedhal). Liputannya Veni Vidi Vici beneran.
 
Kehebatan Desk Olahraga Kompas, dan seiring bermunculannya penulis-penulis muda di bawah mereka seperti Buddy Shambazy (sepak bola internasional), juga pernah Budiarto Danujaya (bela diri), belum lagi Ignatius Sunito yang juga jago liputan bela diri dan balap mobil, Ian Situmorang dan Yesayas Octovianus (sepak bola), maka ada pikiran – bagaimana kalau bikin saja Tabloid Olahraga terpisah dari Kompas.
 
Ide itu muncul, di antaranya tergelitik oleh fenomena di Eropa. Bahwa, olahraga di Eropa bisa melahirkan “harian olahraga” terkenal, seperti L’Equippe di Perancis, serta Gazzetta dello Sport di Italia. Kenapa di Indonesia tidak dicoba?
 
Maka, dengan persetujuan boss nomor satu Kompas Jakob Oetama, diterbitkanlah pada Maret 1984, tabloid olahraga (pertama) di Indonesia yang dijuduli BOLA. Ignatius Sunito dipasrahi sebagai Pemimpin Perusahaan tabloid baru tersebut.
 
Maka, bedhol desa lah sebagian penulis-penulis hebat olahraga Kompas waktu itu, seperti Sumohadi Marsis, dan “bala kurawa”nya seperti Ian Situmorang, Mahfudin Nigara, Hartono, dkk ke ladang media yang baru, di Tabloid BOLA.
 
Desk Olahraga Kompas yang ditinggalkan? Dipegang TD Asmadi, yang selama itu juga dikenal dengan liputan bulu tangkisnya. Pasukan lainnya, di antaranya adalah Buddy Shambazy, Yesayas Octovianus, Jimmy S Harianto, Irving Noor, Totok Purwanto, juga di antaranya ada Muzni Muis yang biasa meliput di KONI Pusat, serta cabang-cabang olahraga “sulit” seperti Menembak, Panahan.
 
TD Asmadi pun sempat diboyong ke BOLA, sehingga saya pun kebagian memegang Desk Olahraga Kompas pada era 1987 sampai dengan 1993. Muncul, andalan baru di lapangan seperti Suryopratomo (sepak bola), Hendry Ch Bangun (bulu tangkis) disamping masih ada juga Yesayas Octovianus (sepak bola) dan belakangan muncul Anton Sanjoyo (sepak bola), L Sastra Wijaya (bulu tangkis), Arbain Rambey (tenis).
 
Desk Olahraga Kompas, pernah menjadi fenomena menarik dalam perkembangan jurnalisme olahraga di Tanah Air, sebelum merebaknya media elektronik  yang nyaris melibas liputan ‘real time’ gaya Kompas 1970-1980-an. Juga, Tabloid Olahraga BOLA yang sebenarnya merupakan jejak jurnalistik Kompas juga di masa lalu.
 
Apakah ini merupakan alarm bakal berakhirnya media cetak di Tanah Air? Wallahualam Bissawab. Semoga saja tidak demikian. Sebab, jika media cetak di grup Kompas Gramedia ini dihabisi semua? Termasuk Kompas? Maka, ibarat sebuah grup sepak bola, maka grup Kompas Gramedia ini berjalan tanpa Sang Pembawa Bendera.
 
Sudah selayaknya si Pembawa Bendera, Flag Carrier seperti Kompas, dipertahankan sampai kelak. Apa jadinya, jika grup Kompas Gramedia tidak ada Kompasnya? Televisi pun belum tentu akan abadi. Kita semua tak tahu, apa yang bakal terjadi di era telekomunikasi pasca-millenial nanti. (PN-03/adt)
 
Oleh: Jimmy S Harianto, Wartawan Senior

Berita terkait