iklan-banner-01
iklan-banner-02

Siri Sori Islam, Negeri yang Damai

Siri Sori Islam, Saparua.
Pagi itu hadir kembali, seperti lazimnya. Fajar pecah mengiringi gulita, Suara azan di surau negeriku hadir menyapa, menyemangati hati tuk menghadapi-Nya.

Negeriku terbangun seketika, melepas selimut malamnya yang bisu. Bergegas terarah anak-anak negeri. Menyahuti panggilan Ilahi rabbi ke rumah Tuhan yang suci.

Tidak semata orang tua-tua, tapi juga anak-anak muda. Tidak hanya kaum pria, melainkan kaum hawa. Semua berduyun menuju rumahNya. Menyongsong pagi dengan memuji-nya.
 
Seperti itulah kehidupan negeriku, dalam tradisi menyambut matahari pagi. Menghadap Tuhan penguasa waktu, agar hidup bisa dipandu dan diridhoi.
 
Di negeriku Siri Sori Islam, Agama menjadi bagian penting hidup anak-anak negeri, menyatu dalam denyut nadi dan tarikan nafas kehidupan insani.
 
Meski bukan di dunia pesantren, kami anak negeri tumbuh dalam tradisi mangaji. Mengeja setiap huruf hijaiyah dari Alif hingga Yaa. Mengeja alam menapak bukit dan laut, di bawah asuhan tuan-tuan guru penuh wibawa. Menghayati setiap nukta pesan langit
Menginspirasi jiwa tuk selalu bersyukur.
 
Negeriku Siri Sori Islam. Negeri adat para leluhur. Di sana bulan jatuh diatasnya dan memancarkan kepingan cahayanya di seantero bumi raja-raja. Bahkan juga di jagad Indonesia.
 
Masyarakat negeri ini kuat bertahan pada tradisi. Agama menjadi pondasi, adat dan budaya berkelindan serasi. Mewarnai hidup penuh harmoni dalam ikatan persaudaraan sejati.
 
Negeriku Siri Sori Islam disebut juga Siri Sori Salam. Dalam sapaan orang di Maluku, Salam adalah kedamaian, Salam adalah keselamatan, Salam adalah Cinta.
 
Penduduk negeriku bukanlah konglomerat, Tapi juga tidak melarat. dibangun erat dalam budaya masohi nan kuat. Kesahajaan dan keceriaan indah terlihat.
 
Anak muda di negeriku 'paleng bakewel' berlaga perlente penuh retorika. Meski dompetnya kosong tak terisi, Namun, wibawanya seperti direksi. Saban hari pasang aksi, demi yang disebut gengsi
Berfilosofi pada pepata tua "Biar tulang pucat asal jangan muka pucat".
 
Di tepian pantai negeriku, ketika  pasang surut. Anak-anak memanjakan diri terpanggang matahari demi hobi bermain kasti atau bola kaki, Dan disaat pasang naik, mereka terus bergembira 
mencumbui ombak tepian pantai berenang riang dengan apik.
 
Musim panen cengkeh dan pala pun tiba, Gemuruhnya riuh menggelegar 
di seantero negeriku. Harum wanginya tercium sejagad. Di jalan jalan dan lorong lorong. Tikar dan terpal digelar masyarakat, tuk menjemur hasil panen rakyat.
 
Cengkeh dan pala mengukir kisah dalam tuturan kapata dan sejarah, menggoda pelancong datang menjarah. Mengusik damai negeriku dengan menjajah, menggerakan rakyat bangkit berhidmah
Penuh harisma melawan penjajah.
 
Di negeriku yang damai, Alam nan indah menghijau mekar. Laut biru yang teduh di musim semi. Tebing-tebing kokoh membujur dari 'manuhua' hingga 'salaiku'. Adalah buah kemurahan Ilahi
yang turut berjasa menjadi saksi mengantar sukses anak-anak negeri.
 
Dan karenanya, patutlah disyukuri dengan terus berkarya. Hanya dengan berkarya, Negeriku yang damai akan terus berjaya. (PN-01/adp)
 
Oleh: Hasbollah Toisuta, Penulis adalah Rektor IAIN Ambon

Berita terkait