iklan-banner-01
iklan-banner-02

Saparua, “Meteor Rempah” Dunia Yang Terlupakan

Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, yang dilakukan Anggota MPR-RI Dapil Maluku, Mercy Chriesty Barends, ST.
“Oiye…oiye.. sina oiye, walanda he wasisil ee sina oiye. Pakalawange he bunga pala oo, tagal imi lua ee, hisa paparangan ee he Saparua oo,”. (Mari bergerak menuju Waisisil, ayo mari ke Waisisil, di sana ada Belanda. Ini semua karena cengkih dan pala, maka kita harus berperang melawan Belanda di bumi Saparua).

Demikian sepanggal bait kapata tanah yang pernah dilantungkan puluhan warga Saparua di tahun 1950-an. Suara Warga Saparua melantungkan donci kapata tanah, seakan mengenang kembali kisah heroik Pahlawan Pattimura, Said Perintah dan sederet kapitano di masa perlawanan bangsa kolonial. Suara dalam donci ini dikomandangkan penuh semangat juang, ketika berlangsungnya prosesi permandian kapal perang Pattimura di Pantai Waisisil, Saparua.

Inilah satu diantara deretan prestiwa penting yang selama ini menguatkan memory kelam warga Saparua akan kejayaan Pulau Saparua sebagai pusat rempah-rempah dunia di Maluku. Masa kejayaan Pulau Saparua di jaman dulu, seakan hilang ditelan waktu. Saparua hanya tinggal kenangan.

Kini upaya mengembangkan Saparua sebagai pulau dengan identitas penghasil rempah-rempah (cengkih dan pala), kembali menjadi isu menarik dan disuarakan generasi Saparua kekinian.

Upaya mengembalikan masa keemasan Saparua tersebut, menjadi tema utama dalam seminar yang melibatkan sebanyak 100 tokoh Saparua yang berlangsung di Aula Pertemuan Kantor Klasis, Kecamatan Saparua, Senin (25/9).
Seminar yang mengangkat tema utama “ Pengembangan Saparua, Berbasis Potensi Lokal Menuju Kemandirian Ekonomi dan Kepribadian yang Berkebudayaan sebagai Implementasi Pancasila” itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, yang dilakukan Anggota MPR-RI Dapil Maluku, Mercy Chriesty Barends, ST.

Dipandu oleh moderator yang juga tokoh perempuan Maluku Nancy Purmiasa, seminar ini menghadirkan perwakilan dari 16 negeri adat di Kecamatan Saparua dan Saparua Timur. Mereka adalah para Upulatu (raja), ketua Saniri, tokoh agama, adat dan tokoh pemuda.

Tampil sebagai pembicara utama adalah Anggota MPR-RI Mercy Chriesty Barends, ST, Camat Saparua Timur, Halid Pattisahusiwa, S.Sos, dan Ketua Klasis GPM Pulau-pualu Lease, Pdt. S.I. Sapulette, STh.

Sejarah Saparua sebagai pusat penghasil rempah-rempah dunia di jaman dulu, memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Pulau Saparua di abad ke-16 telah menjadi pusat meteor (jalur jatuhnya) perdagangan rempah-rempah di dunia.

Rempah-rampah di jaman itu menjadi penggerak utama ekonomi dunia seperti perdagangan minyak mentah sekarang ini. Para penjelajah seperti Christopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Samuel de Champlain, dan Henry Hudson semuanya berupaya mencari jalur untuk bisa mencapai Kepulauan Rempah-Rempah. Pencarian akan rempah-rempah Indonesia tersebut membuat manusia memahami geografi planet ini.

“Inilah titik, dimana pulau ini dulunya menjadi pusat perhatian bangsa Eropa. Ikon sebagai pulau rempah-rempah itulah yang harus kembali dihidupkan, agar Saparua mampu bangkit dengan ikon sebagai pulau penghasil rempah,” demikian disampaikan Mercy Chriesty Barends dalam paparannya.

Hasil berupa cengkih dan pala di Saparua, kata Mercy, telah diperdagangkan berabad lamanya sebelum masehi. Perdagangan ini menempuh Asia Selatan hingga Timur tengah dan Eropa, dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina. Di masa itu rempah-rempah miliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat dunia.

Srikandi PDIP di Senayan yang juga berdarah Saparua, itu mengaku sangat prihatin dengan kondisi perkembangan Pulau Saparua, yang puluhan tahun seakan tidak tersentuh dari geliat pembangunan di daerah ini. Padahal, kata dia, generasi Saparua dari jaman ke jaman merupakan generasi yang memegang peran penting di daerah ini. Tapi sangat tragis, Pulau Saparua yang terkenal dengan ikon sejarah sebagai pusat rempah yang tercantum di bergabagi literasi itu, seakan tenggelam dan terlupakan.

“SDM Saparua itu, kurang satu menjadi 1001 orang, tapi inilah realita yang dihadapi saat ini, kita hanya bisa bermain air di mata-mata kaki, padahal membangun Saparua memerlukan komitmen dan konsep yang briliant dari semua elemen anak negeri,” ungkap Barends penuh analogi.

Di hadapan ratusan peserta seminar yang hadir, politisi asal PDIP ini menyeruhkan agar masyarakat Saparua mampu “move on” untuk mengembalikan kejayaan di masa silam itu. Visi yang harus ditanamkan adalah menghidupkan kembali komoditi cengkih dan pala yang menjadi spesifik lokalita untuk menggerakkan ekonomi warga Saparua di masa mendatang.

Upaya membangkitkan Pulau Saparua harus ditanamkan sejak dini. Apa yang akan dilakukan kedepan, tentunya semua elemen masyarakat, mampu menjadikan Saparua sebagai pulau wisata sejarah di Maluku, dengan kembali mengangkat dan menggerakkan seluruh potensi yang terkandung, tentunya ikon sebagai pulau penghasil rempah-rempah patut dipertahankan.

“Saparua memiliki banyak peninggalan berupa sejumlah situs sejarah yang menjadi bukti nyata adanya pergerakan dan pergolakan dunia, maka sudah saatnya Saparua bangkit dengan konsep pengembangan sebagai Pulau Wisata Sejarah,”tandasnya.

Warga Saparua, juga diminta untuk memulai gerakan revitalisasi pertanian terhadap komoditi endemik yang sudah terkenal sejak dulu itu. Upaya revitalisasi ini dipandang penting agar mampu memberikan kesan positif terhadap setiap pengunjung yang bertandang ke daerah ini, selain fokus kepada pembangunan infrastruktur pendukung lainnya. Misalnya, menanam cengkih dan pala di sekitar areal pekarangan pemukiman penduduk.

“Paling tidak ada cengkih dan pala di pekarangan rumah kita, sehingga itu bisa menjadi etalase bagi setiap pendatang, atau menggagas kawasan agro wisata cengkih dan pala. Ini semua membutuhkan komitmen yang harus dimulai dari setiap negeri yang ada di Saparua,”usulnya.

Dalam paparannya, anggota Komisi VII DPR-RI ini juga menyampaikan sejumlah informasi penting yang kini tengah diperjuangkan di Senayan. Salah satunya adalah mengusulkan Saparua dan sejumlah gugus pulau terdekat lainnya, untuk dimasukkan dalam “kawasan khusus ekonomi Pulau Banda” yang sudah diusulkan pemerintah provinsi Maluku ke pemerintah pusat.

Gembarakan ini dilakukan sebagai bentuk dari implementasi amanat PP Nomor 26 tahun 2008, tentang rencana tata ruang wilayah Nasional. Sebagai upaya mewujudkan kawasan Pulau Banda sebagai wilayah strategis nasional, kawasan lindung, serta kawasan andalan nasional.
“Sebagai wakil rakyat di Senayan, kami tidak ingin ada semacam diskriminasi dalam realisasi program ini kedepan, maka kami mengusulkan konsep penggabungan gugus pulau yang berada di sekitar pulau Banda untuk dimasukkan kedalam wilayah khusus tersebut,”paparnya.

Selain upaya memasukkan Saparua ke dalam wilayah khusus ekonomi tersebut, pihaknya juga telah merencanakan untuk mengusulkan pendirian sebuah perguruan tinggi Pariwisata di Pulau Saparua. Usulan ini tentunya diharapkan akan mampu menopang visi membangun Saparua sebagai Pulau Wisata Sejarah di Maluku di masa mendatang.

Barends juga memjanjikan akan memperjuangkan pendirian satu unit pembangkit listrik di wilayah Kecamatan Saparua Timur. Hal ini disampaikan menanggapi usulan yang disampaikan peserta seminar, terkait kendala kelistrikan yang dialami warga Saparua belakangan ini. Pasokan listrik yang kini dinikmati warga di kedua kecamatan tersebut, telah menjadi kendala lain dari seabrek persoalan yang muncul di tengah masayarakat, karena kemampuan dan kapasitas mesin pembangkit yang dimiliki PT. PLN Wilayah Maluku di daerah tersebut.

Selain pemaparan yang disampaikan secara gamblang oleh politisi PDI-P itu, berbagai ulasan tentang kondisi kekinian yang terjadi di tengah masyarakat Maluku dari aspek pemerintahan, juga menjadi sebuah topik yang cukup hangat dalam dialog yang berlangsung.

Camat Saparua Timur, Halid Pattisahusiwa dalam paparannya banyak menjelaskan terkait eksistensi pranata adat dan berbagai kemelut social yang berdampak pada stabilitas kamtibmas yang timbul di wilayah Kecamatan Saparua Timur yang menghimpun sebanyak Sembilan negeri adat tersebut.

Dikatakan, persoalan tapal batas tanah dan eksistensi pranata adat, kini terus dibenahi dan diredam dari ancaman konfli. Upaya terhadap menyudai berbagai gejolak yang ditimbulkan dari dua persoalan krusial ini terus dilakukan dengan maksimal. Pasalnya, membangun Saparua yang maju, sejahtera dan mandiri, harusnya diawali dengan memantapkan berbagai aspek vital yang terjadi di tengah masyarakat itu.

“Berbagai persoalan inilah yang selama ini memicu konflik antar werga, sehingga upaya-upaya yang elegan untuk menciptakan kenyamanan di tengah masyarakat, terus kami lakukan, sebagai kepanjangan tangan pemerintah di kecamatan,”tandasnya.

Intinya, kata Pattisahusiwa, pihaknya akan tetap mensuport dan memebrikan dukungan serta berkomitmen untuk mengawal setiap program pemerintah yang kini makin bergeliat dan dimulai dari negeri (desa) sebagai pusat pemerintah terbawah, untuk memajukan Pulau Saparua di masa mendatang.

Hal senada juga disampaikan Ketua Klasis GPM Pulau-pualu Lease, Pdt. S.I. Sapulette, STh yang tampil sebagai pembicara. Dalam paparannya, Sapulette menyampaikan apresiasi positif terhadap kegiatan yang dilangsungkan tersebut. Sejauh ini, sambungnya, pihaknya telah mensosialisasikan berbagai program pemerintah yang akan berdampak positif terhadap pengembangan potensi keumatan di masa mendatang.

Untuk Pulau Saparua, tentunya berbagai persoalan yang timbul di tengah umat dan menjadi pemicu terhambatnya pembangunan Saparua kedepan, akan tetap menjadi perhatian serius untuk dieliminir, sehingga apa yang menjadi harapan masayarakat Saparua di masa mendatang mampu terwujud dengan baik.

Inilah Saparua yang terlupakan. Pulau sejarah yang menjadi meteor rempah-rempah dunia di masa silam. Kini Saparua hanya terbalut “romantisme semu”. Benteng Drusstede yang kokoh berdiri, Gunung Saniri yang menjadi pusat mengadu strategi para kapitano adalah bagian penting dari riwayat sejarah itu.

Disini pula Mayor Beetjes dibunuh, 300 prajurit Belanda yang menumpang Kapal Nassau dan Eventsen dipukul mundur, karena mempertahankan pakalawang dan bunga pala. Saparua tetap dikenang, bukti sejarah tetap terpendam, namun harum cengkih dan pala kian tenggelam, hingga anak negeri mulai risau akan keberadaannya ..(Dhino Pattisahusiwa)

Berita terkait