iklan-banner-01
iklan-banner-02

Pilpres 2019, Cara Gampang Bedah yang Curang

Adhie M Massardi
Berapa sih kira-kira perolehan suara paslon 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin dan paslon 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno? Bagaimana membaca secara awam dengan logika (fakta) politiknya?

Untuk menggambarkan hasil realistis, mari kita pakai hasil pilpres 2014 sebagai dasar perhitungan. Karena peta sosial politiknya nyaris tak berbeda, kecuali seorang Jokowi sebagai petahana.

Pada pilpres 2014 Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih 70.997.833 suara (53,15%), sedangkan Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Radjasa memperoleh 62.576.444 suara (46,85%).
 
Kalau kita bedah hasil pilpres 2014 itu akan kita temukan beberapa komponen (saham) yang memberi andil dalam perolehan suara.
 
Hasil yang diperoleh Jokowi-JK terdiri dari: a. 30 persen daya tarik Jokowi yang ketika itu dianggap fenomenal (tapi tidak lebih besar dari 30 persen mengingat PDIP yang menikmati 'Jokowi Effect' hanya raih 18,95 persen).
 
b. 16 persen andil JK (karena diluar faktor Jokowi adalah JK motor pendulang suara, yang membiayai seluruh operasional parpol maupun ormas seperti NU, Muslimat NU pimpinan Khofifah dll, makanya inisial JK disana juga akronim dari 'Jaringan dan Keuangan'.
 
c. Tambahan 5 persen faktor Ahok (etnis Tionghoa dan non-muslim).
 
d. Sisanya 2,5 persen saham dari pemilih baru dan Swing Voters.
 
Perolehan suara Prabowo - Hatta yang 46,85 persen terdiri dari: a. 35 persen figur Prabowo sendiri, 5 persen suara dari Hatta dengan parpolnya PAN 5 persen saham parpol pendukung seperti PKS PPP, Golkar (dengan catatan di lapangan suara parpol pendukung sudah digerogoti tim Jusuf Kalla) sisanya 1,85 persen pemilih baru dan Swing Voters.
 
Dengan modal pilpres 2014 maka akan muncul konfigurasi peta suara yang bisa dibaca dengan mudah menjadi seperti ini: Jokowi kalau diasumsikan tidak mengalami penurunan, padahal banyak yang kecewa (petani dibombardir produk impor, nelayan, guru honorer, pekerja bidang kesehatan akibat amburadulnya pengelolaan BPJS akibat nyaris program kampanyenya tak ada yang dipenuhi, kecuali infrastruktur (itupun banyak bermasalah), tetap bernilai (suara) 30 persen.
 
Tapi Jokowi berpotensi kehilangan minimal 15 persen saham suara JK yang sudah tidak menjadi pasangannya lagi. Lihat saja orang orang JK justru malah aktif kampanye Paslon 02 Prabowo - Sandi.
 
Potensi kehilangan suara minimal 2,5 persen juga datang dari pendukung Ahok, akibat Joko Widodo memilih berpasangan dengan Ma'aruf Amin yang menurut mereka merupakan orang yang bertanggung jawab dalam menyingkirkan Ahok dari pentas politik nasional, padahal Ahok seharusnya justru menjadi pasangan Jokowi.
 
Dengan modal kotor 35,65 persen (minus 17,5 persen dari perolehan pilpres 2014), kalau toh akan ada tambahan suara dari Ma'aruf Amin dan NU, maksimal hanya 5 persen (mengingat peta suara NU secara tradisional memang senantiasa terpecah, apalagi ada sentimen 'darah biru' karena Ma'aruf Amin bukan trah Jawa Timur - Madura).
 
Sedangkan tambahan dari pemilih baru dan kelompok millenial tak akan lebih dari 1,5 persen mengingat informasi digital soal kegagalan Jokowi yang tidak memenuhi janjinya dapat diperoleh dengan mudah, sehingga membuat mereka tidak tertarik seperti pada pilpres 2014 lalu.
 
Dengan matematika politik sederhana dan fakta kasat mata yang sangat realistis, maka Jokowi -Ma'ruf sudah sangat luar biasa bila dalam pilpres 2019 ini meraih suara 42,15 persen. Bila lebih dari itu, maka akan menimbulkan kecurigaan yang luar biasa.
 
Dibandingkan dengan Jokowi, Prabowo Subianto jauh lebih beruntung karena modal suara yang diperoleh dari pilpres 2014 relatif utuh, karena pendukungnya tetap. Paling berkurang 3 persen (suara PPP, PBB, dan setengah Golkar), jadi sekitar 43,85 persen.
 
Akan tetapi, berbeda dengan Jokowi yang mengalami minus besar (17,5 persen) pada pilpres 2019 Prabowo berpotensi mendapat surplus dari pendukung Sandiaga Uno, cawapres yang mewakili generasi Millennial.
 
Makanya, dari saham suara yang disumbangkan Sandiaga, ditambah migrasi pendukung Jusuf Kalla dan rakyat yang kecewa pada kegagalan mantan walikota solo itu, plus dukungan besar umat Islam yang ditandai dengan dukungan resmi para tokoh Islam kondang seperti Ustad Abdul Somad (UAS), serta para pemilih baru dan Swing Voters, niscaya tak akan sulit bagi Paslon Prabowo Subianto -Sandiaga untuk memperoleh tambahan suara 10 persen hingga 15 persen.
 
Dengan matematika politik sederhana ini, tutup mata saja pasangan Prabowo -Sandi bisa mendulang suara minimal 56,85 persen. Kalau kurang dari angka ini, apalagi lebih buruk dari pilpres 2014, bisa dipastikan akan menimbulkan kecurigaan yang ajaib.
 
Begitulah cara membaca kemungkinan hasil pilpres 2019 secara mudah, akurat, realistis dan berdasarkan fakta sosial politik yang nyata. Insha Allah tak akan meleset jauh.
 
Oleh: Adhie Massardi, Tokoh Gerakan Indonesia Bersih, Mantan Jubir Gus Dur

Berita terkait