iklan-banner-02
iklan-banner-02

KISAH SRIKANDI NAMALENA DAN MINYAK KELAPA

PAMANAWANews, BULA - Tidak ada yang menyangka di pulau terpencil nun jauh itu, ada seorang ibu yang berjuang menghidupi keluarga dengan hanya mengolah minyak goreng kelapa crude (minyak goreng kelapa yang diolah secara tradisional).
siti salulu petani sukses dari namalena

Ketekunan dan keuletannya itu telah membuahkan hasil yang diinginkan yakni menyekolahkan kedua anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi.

Siti Salulu adalah wanita tangguh yang mampu menebas keterbatasan ekonomi yang melilit keluarganya.  Menanggung beban menghidupi enam orang anak, bukan merupakan hal yang muda.  Bersama suaminya M. Asri Kilberen, Siti yang menggeluti profesi sebagai  pengrajin minyak kelapa secara tradisional itu, perlahan-lahan memutar otak untuk mengola modal yang dimilikinya dengan memproduksi minyak kelapa.

"Setiap minggu saya mampu menghasilkan 30 botol minyak kelapa. Hasil dari usaha itu saya bisa mengirim biaya sekolah anak saya yang kini kuliah di kota Malang dan Fak-fak,"ungkapnya.

Meski setiap bulan,  ibu rumah tangga kelahiran Namlena, 24 Juni 1970 ini mampu menghasilkan ratusan botol minyak goreng kelapa  yang diolah secara tradisional, namun dirinya tidak pernah tahu hasil keuntungan yang diperoleh dari kerja kerasnya itu.  Padahal, jika harga yang dibandrol di Desa Namlena untuk minyak goreng kelapa crude per botol ini sebesar Rp. 10.000, maka setiap bulannya omzet yang diraihnya mencapai Rp 1,2 juta.

 "Saya tidak tahu berapa jumlah uang yang saya dapat dari usaha ini, karena setelah jualan saya laku, uangnya saya kembali putar untuk belanja tepung terigu membuat kue dan roti untuk kembali saya jual, begitu seterusnya," tutur Salulu dengan senyum tipisnya.

Salulu yang juga anggota kelompok tani binaan SOLID SBT dan menjadi anggota Unit Usaha Farang Lena, Desa Namalena ini, dari hasil usahanya itu hanya difokuskan untuk biaya pendidikan kedua anaknya.  

Tidak bisa disangkal, usaha kerasnya itu kini berbuah manis. Anak lelakinya telah mengeyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di kota Malang, sedangkan anak perempuannya juga kini menjadi mahasiswa Politeknik di Kota Fak-fak.

"Setiap enam bulan sekali saya dan suami mampu mengirim biaya sekolah anak-anak kami sebesar tujuh juta rupiah. Tiga juta untuk anak kami di Kota Malang dan empat juta untuk anak kami di Fak-fak," tutur ibu enam anak ini.

Menjadi pengolah minyak goreng kelapa crude adalah merupakan pilihan yang tepat. Siti Salulu tidak sendirian. Di Desa Namalena terdapat puluhan ibu rumah tangga yang juga melakoni profesi serupa. Namun diantara puluhan  ibu rumah tangga itu, hanya Siti bersama dua temannya yang menekuni usaha itu secara kontinyu.

Peluang usaha pengolahan minyak kelapa crude di desa terpencil itu, memang cukup menjanjikan. Desa Namalena yang merupakan satu di antara dua desa yang berada di  Pulau Farang, Kecamatan Teluk Waru, Kabupaten Seram Bagian Timur, ini memang menyimpan potensi komoditi kelapa dalam yang berlimpah.

Desa Namalena dan Desa Namaandan yang berdekatan itu, hampir sebagian besar wilayah daratnya dipenuhi dengan populasi pohon kelapa. Berdasarkan data yang dihimpun, di Desa Namalena, terdapat kurang lebih 500 Ha wilayah hutan yang ditumbuhi pohon kelapa.

Konon menurut riwayat warga setempat, ribuan pohon kelapa itu merupakan warisan dari leluhur mereka yang tumbuh tidak beraturan dan menjadi hutan pohon kelapa. Dari hutan pohon kelapa tersebut,  warga kedua desa pesisir itu mampu menghasilkan kopra (kelapa kering) puluhan ton setiap tahunnya.

Tidak heran jika Siti Salulu dan warga di kedua desa tersebut tidak pernah mengkonsumsi minyak goreng pabrikan yang terbuat dari bahan baku kelapa sawit.  Ketika ditanyai terkait minyak goreng kemasan berbahan baku kelapa sawit, Siti mangakui tidak pernah membeli maupun mengkonsumsinya.

"Kami sudah terbiasa mengolah minyak goreng sendiri, bahkan hasil olahan kami juga dibeli oleh warga di sejumlah desa tentangga," terangnya.

Siti Salulu bersama pengolah minyak goreng  kelapa crude, memang cukup beruntung. Selain tidak kesulitan dengan bahan baku kelapa yang harus diperoleh. Harga satuan buah kelapa pun bisa disebut termurah sejagad Nusantara ini.

Bagaimana tidak, jika di daerah penghasil minyak kelapa dan VCO di Pulau Jawa kini mengalami kesulitan dan menutup home industri pengolahan minyak kelapa, karena keterbatasan bahan baku,di Namalena bahan baku kelapa berlimpah dan bisa diperoleh dengan harga Rp 2000 per tiga buah.

Padahal, di daerah Kulon Progo dan Bantul Provinsi Djogyakarta yang menjadi daerah industri minyak kelapa, harga satuan buah kelapa sudah menembus nominal  Rp. 6000.

Potensi kekayaan alam berupa komoditi kelapa yang berlimpah di Pulau Farang, ini tentunya telah menjadi peluang yang cukup menggiurkan. Fenomena usaha dan investasi pun kini menjadi pilihan menarik untuk dijejaki. Program SOLID atau Peningkatan Kesejahteraan Petani Kecil (PKPK) yang menjadikan Desa Namalena sebagai satu di antara 19 desa binaannya, kini telah berupaya membidik peluang besar tersebut. 

Medio Oktober 2016 lalu, sebuah gebrakan dilakukan managemen SOLID Kabupaten SBT, dengan melalukan berbagai kegiatan sekolah lapang dan pelatihan pengolahan. Salah satu topik kegiatan tersebut adalah pembuatan minyak kelapa dengan sistem filterisasi kepada anggota kelompok di desa tersebut.

Sistem pengolahan filterisasi  minyak kelapa ini merupakan inovasi dan teknologi yang diadopsi dari pengusaha minyak kelapa dan petani kelapa di Kabupetan Kulon Progo, Provinsi Djogyakarta, saat kegiatan study banding petani SOLID tahun 2015 silam.

Tidak tanggung-tanggung, sejumlah peralatan berupa mesin pemeras santan, penyaring minyak dan peralatan pendukung lainnya juga telah didatangkan sebagai investasi jangka panjang yang akan dikelola Unit Usaha Farang Lena.

Unit usaha bentukan program SOLID SBT tersebut, kini menghimpun sebanyak empat pekerja yang dipimpin Salma Rumakey dan beranggotakan tiga orang perwakilan anggota kelompok mandiri yang salah satunya adalah Siti Salulu.

Baik Salma Rumakey, Siti Salulu dan dua anggota unit usaha tersebut, telah berjanji akan menjadi mitra setia petani dan pengolah minyak kelapa crude dengan membeli hasil olahan berupa crude yang selanjutnya akan difilter dan dikemas menjadi minyak goreng kelapa dengan merk MINLEN.

"Harapan kami unit usaha ini kedepan mampu menjadi sumber pendapatan bagi semua warga di desa ini dan kami ingin selalu bersama SOLID, sehingga kehidupan kami bisa lebih baik lagi," tandas Siti penuh semangat.  (PN-10)

 

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02