iklan-banner-01
iklan-banner-02

Istana Perlu Melakukan Konsolidasi Diksi Komunikasi Politik

Istana Kepresidenan, Jakarta.
Ditengah wacana #2019GantiPresiden dan munculnya #DuaPeriodePresiden menjelang pendaftaran Paslon Capres-Cawapres yang menurut saya sangat tidak bermanfaat bagi rakyat, muncul pernyataan dengan pilihan diksi yang kurang tepat.

Lihat saja dalam bentuk video yang tersebar lewat WhatsApp, seorang dari tim komunikasi Istana, MN bersama beberapa orang lainnya menyebut, “Lawan, Libas”.

Diksi ini sangat tidak produktif. Bahkan berpotensi kontraproduktif. Pemakaian kata lawan dan libas biasanya muncul ketika ada gangguan atau ketegangan relasi antar manusia dalam suatu kelompok sosial tertentu. Dengan kata lain, Lawan dan libas, kecuali dalam bentu bercanda, tidak pernah ada ketika terjadi peristiwa suasana komunikasi kesejukan dalam relasi antar manusia dalam suatu komunitas sosial tertentu.
 
Karena itu, diksi seperti lawan dan libas sangat tidak tepat baik dari segi timing dan konteks ke-Indonesiaan-an kita dulu, kini, dan ke depan.
 
Sosok yang sama dengan mengenakan baju dominan warna kuning menyampaikan dengan lantang dukungan terhadap seseorang dua periode dan menyebut nama lembaga sebuah perguruan tinggi.
 
Yang menarik pada setting ini, disamping sosok tersebut ada tokoh senior nasional, BP dengan raut wajah penuh kehatian-hatian dengan jari kedua tangan terlipat di depan sedikit di bawah perut. Posisi tokoh tersebut tampak sebagai orang yang harus menuruti pesan komunikasi politik yang disampaikan oleh sosok yang berbaju kuning tersebut.
 
Sebagai tokoh nasional, BP tidak perlu hadir di sana dalam konteks komunikasi seperti itu. Sebab, dapat menimbulkan berbagai persepsi yang kurang produktif dari publik bagi tokoh yang bersangkutan.
 
Beda dengan TGB. Setiap pesan komunikasi yang dilontarkan TGB sangat efektif sembari menimbulkan kesejukan, kenyamanan dan kemanan bagi siapapun khalayaknya. "Tolong berhentilah berkontestasi politik dengan mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an. Kita tidak sedang berperang. Kita ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan," ucap TGB yang dimuat dalam satu media online, sebagai teladan.
 
Berdasarkan dua pola komunikasi dari dua sosok di atas, dari aspek komunikasi politik, dapat dipastikan akan menimbulkan efek yang berbeda. Tindakan komunikasi yang dilakukan oleh TGB, lebih menimbulkan kenyamanan, kebersamaan, ketenangan, simpati dan pluralis di tengah masyarakat yang pluralis.
 
Untuk itu, saya sebagai komunikolog mengimbau Istana segera melakukan konsolidasi internal dalam mewujudkan komunikasi politik yang sejuk. Wajah Istana harus mengedepankan komunikasi dialogis, utamanya dalam tahun politik Pemilu 2019.
 
Merujuk pada narasi di atas, saya hanya bisa menghimbau pihak Istana dapat meminta kesediaan TGB menata dan mengelola seluruh sistem komunikasi politik Istana sehingga lebih bisa menjaga kebersamaan dalam kebhinnekaan dan ke-Indonesia-an saat ini dan ke depan. Salam NKRI. (PN-01/adp)
 
Oleh: Emrus Sihombing, penulis adalah Direktur Eksekutif
Lembaga EmrusCorner

Berita terkait