iklan-banner-01
iklan-banner-02

Ini Para Pemenang Lomba 'Kritik DPR'

Para pemenang lomba kritik DPR.
PAMANAWANews, JAKARTA- DPR RI mengadakan lomba meme dan stand up comedy "Kritik DPR" dalam memperingati HUT DPR yang ke 73 tahun. Lomba tersebut menjadi bukti bahwa DPR RI terbuka bagi siapapun untuk menyampaikan kritik terhadap kinerja DPR.

"Kritik terhadap DPR RI tak boleh mati. Kritik terhadap DPR RI sebagai lembaga perwakilan merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan. Selain sebagai vitamin, kritik menjadi stimulus yang menjamin kinerja DPR RI selalu on the track," kata Bamsoet usai grand final lomba stand up comedy 'Kritik DPR' yang digelar di Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Lomba stand up comedy 'Kritik DPR' dimenangkan komika Aji Pratama dengan membawa hadiah Rp25 juta, diikuti Marshel Widianto diperingkat kedua dengan hadiah 15 juta dan komika wanita Kiki Saputri di posisi ketiga dengan hadiah Rp10 juta.
 
Tampil sebagai dewan juri Stand Up Comedy antaralain Cak Lontong, Effendi Ghazali, dan Iwel Sastra.
 
Untuk lomba essai 'Kritik DPR' dimenangkan Alif Syuhada dengan judul 'Kritik Setandan Pisang', juara kedua Abdul Waid dengan judul 'Bhinneka Tunggal Ika: Sikap Politik DPR Demi Kepentingan Masyarakat Majemuk atau Kelompok Tertentu'. Dan juara ketiga Dara Salsabila dengan judul 'Mau Hak Kok Kerjaan Lambat'.
 
Sementara Juara pertama lomba meme 'Kritik DPR' dimenangkan Wahyu Siswanto, juara kedua Ricard Gandhi dan juara ketiga Utoyo.
 
Dari ketiga kategori lomba meme, essai dan stand up comedy, dewan juri kemudian memilih satu orang pemenang utama untuk mendapatkan hadiah sepeda motor Vespa dari Ketua DPR RI. Dan, dewan juri menetapkan juara pertama stand up comedy 'Kritik DPR', Aji Pratama, sebagai pemenang utama lomba 'Kritik DPR'.
 
Bamsoet sengaja memilih meme dan stand up comedy sebagai ajang perlombaan. Selain untuk menghidupkan tradisi kritik dari kalangan milenial, juga untuk membiasakan DPR RI tak kaku dalam menghadapi kritik yang datang.
 
"Meme dan stand up comedy sengaja dipilih karena keduanya sedang booming di berbagai platform media sosial, khususnya di kalangan generasi milenial. Selain kritik yang datang dari para aktifis pergerakan mahasiswa maupun organisasi kemasyarakatan, DPR RI juga ingin mendengar suara-suara kritik dari generasi jaman now," ungkap Bamsoet.
 
Meme sudah menjadi culture sebagai fenomena baru dalam komunikasi masyarakat menyampaikan pesan dengan menampilkan kombinasi foto dan teks, meme seringkali ditunjukan untuk merespon suatu isu maupun perbincangan politik dalam diskursus sosial. Begitupun dengan stand up comedy yang seringkali terdengar satir dan menohok yang dikemas dengan humor.
 
"Kritik yang ditampilkan para peserta lomba melalui meme maupun stand up comedy sangat tajam sekali. Melalui meme dan stand up comedy, kita bisa melihat bahwa masyarakat mempunyai kesadaran kritis. Inilah realitas yang harus diterima oleh setiap anggota dewan maupun tim dari sekretariat jenderal, sehingga DPR RI bisa terus memperbaiki kinerja dirinya," papar Bamsoet.
 
Tak hanya 11 komika yang maju sebagai finalis stand up comedy, para dewan juri seperti Cak Lontong, Effendi Gazali, dan Iwel Sastra serta pembawa acara Mufti Sembako juga sesekali melempar joke mengkritik DPR RI. Ini menambah kesegaran suasana. Para penonton, termasuk Bamsoet, dibuat tertawa terpingkal-pingkal.
 
"Terus terang saya tak menyangka, para peserta sangat kreatif dan cerdas. Mudah-mudahan DPR RI bisa terus memperbaiki diri, sehingga kedepannya para komika akan kesulitan meramu kata-kata dalam mengemas kritik menjadi bahan materi stand up comedy," demikian Bambang Soesatyo. (PN-01/adp)

Berita terkait